Wednesday, 22 March 2017

Mengajak Anak Belajar Bahasa Inggris Tanpa Pusing



“Dapat berapa nilai Damar untuk ulangan Bahasa Inggris kemarin, Mbak?” tanya seorang wali murid teman anak saya.

“Seratus. Alhamdulillah,” jawab saya.

“Hmm...anakku kok susah sekali ya untuk bisa dapat nilai bagus di Bahasa Inggris. “Belajarnya gimana, Mbak?” tanyanya lagi.

“Lewat TV, Mbak,” jawab saya.

Teman saya itupun diam terbengong-bengong. Saya lalu menjelaskan maksudnya belajar lewat TV itu. Anak-anak saya beri tontonan film berbahasa Inggris tanpa subtitle. Banyak kok film yang mengajak anak belajar Bahasa Inggris secara menyenangkan. Penasaran pingin mengajak anak belajar Bahasa Inggris tanpa pusing? Asyik dong, bisa belajar tanpa perlu buka buku paket? Iyaaa.

Sumber gambar: pixabay

Saya memang tidak pernah mengajak anak belajar Bahasa Inggris dengan cara bertanya, "Apa Bahasa Inggrisnya 'Terima kasih'?" tetapi saya lebih suka mengajak langsung anak-anak bercakap atau sekedar mengungkapkan ekspresi dalam Bahasa Inggris. Ngerti nggak ngerti, mudheng nggak mudheng, pokoknya ngomong saja. Nggak mikir ini grammarnya bener apa salah, toh yang diajak bicara juga sama nggak ngertinya. hehe...

Mungkin ada yang membatin, "Iyaaa...situ bisa Bahasa Inggris. Lha saya?" Nah, ini ada satu cara untuk mengajak anak belajar Bahasa Inggris tanpa pusing. Emak dan bapaknya juga bisa sambil ikut belajar lho.


Saturday, 18 March 2017

Keuntungan Menikah Di Usia Tak Muda Lagi


menikah-di-usia-tua
Gambar asli: pixabay



Menikah umumnya dilakukan sepasang laki-laki dan perempuan yang berada pada rentang usia muda. Salah satu alasannya agar masih bisa berketurunan karena masih berada di  usia subur. Tak jarang pasangan suami-istri yang memulai hidup berumah tangga di usia muda memiliki banyak anak. Meski tak jarang juga ada pasangan yang memilih memiliki sedikit anak walau mereka menikah di usia muda. Itu pilihan masing-masing pasangan, ya. Toh tujuan menikah bukan cuma untuk memperoleh keturunan. Iya, kan?

Terus bagaimana dengan pasangan yang tak muda lagi saat menikah? Menikah di usia tak muda lagi itu tetap ada keuntungannya lho. Apa, apa? Apa keuntungannya? Sebelum bahas keuntungannya, kita coba ungkap dulu, yuk, penyebabnya.

Macam-Macam Penyebab Menikah Di Usia Tak Muda Lagi



menikah
Sumber gambar: pixabay

Menikah di usia tak muda lagi itu bisa jadi karena beberapa hal. Seperti yang saya alami sendiri, saya menikah di usia yang terbilang tidak muda lagi, 31 tahun. Saya menerima keseriusan seorang laki-laki (cie...) untuk pertama kalinya pada usia 30 tahun. Cukup tua lah untuk ukuran masa saya dan lingkungan saya. Bayangkan, tetangga saya yang umurnya baru 13 tahun saja waktu itu sudah minta dinikahkan, lha saya? Ya, memang itu mungkin kebiasaan setempat saja, ya.

Tuesday, 14 March 2017

Mendampingi Anak Menghadapi Ujian

Disclosure: tulisan ini merupakan artikel bersponsor

ujian-sekolah

Sumber gambar: pixabay

"Hari ini aku mau bolos aja," ucap si sulung pagi itu.

"Lho, kenapa, Mas?" tanya saya kaget.

Anak sulung saya yang masih kelas 2 SD itu menyedot ingus di hidungnya. Dan adiknya ternyata juga disibukkan oleh ingus. Oh, mereka pilek rupanya.

Hari sebelumnya memang mereka berenang sore hari pas gerimis. Mungkin karena itu daya tahan tubuh mereka menurun sehingga paginya mulai pilek. Sebentar lagi UTS (Ujian Tengah Semester). Perlu persiapan khusus mendampingi anak menghadapi ujian. Selain soal kesehatan dan perlengkapan tempur seperti alat tulis, masalah mental juga bisa jadi batu sandungan kalau tidak siap.

"Nggak boleh bolos dong. Kalau pilek nanti Ibu beliin obat," kata saya.

Lagipula kenapa pakai istilah ‘bolos’, bukannya ‘izin’? Ada-ada saja si Mas ini. Nah, kalau anak kedua saya istimewa banget. Tiap kali pilek dia malas ‘sisi’ alias mengeluarkan ingus dari hidungnya. Bayangkan saja, ingus menumpuk-numpuk di hidung sampai mengering begitu, hiiiy... Kalau saya bersihkan, dia pasti marah-marah. Sakit, katanya. Iya, sih, hidung dipencet-pencet begitu ya pasti sakit sampai lecet-lecet. Tapi masak iya nggak dibersihkan??

Saya dan suami saya bukan tipe orang tua yang menuntut nilai bagus kepada anak-anak, tapi kalau bisa dapat nilai bagus kenapa harus dapat nilai kurang? Lagipula kalau harus ikut remidi saya khawatir kepercayaan diri anak-anak bisa jatuh. Hmm...jadi ibu memang harus tahu cara menjaga kesehatan tubuh biar #Sehat365Hari .

Trik Khusus Mendampingi Anak Menghadapi Ujian

Di musim ujian seperti saat ini, saya punya trik khusus agar anak-anak siap. Pertama, mengulang-ulang pemberitahuan kalau akan ada ujian. “Minggu depan ujian lho. Sudah siap?” Kira-kira seperti itu, diulang-ulang pas makan sore, sesudah sholat maghrib, menjelang tidur dan saat mau berangkat sekolah keesokan harinya.

Saturday, 25 February 2017

Nafkah Batin Untuk Istri, Apakah Termasuk Rezeki Yang Telah Ditetapkan Oleh-Nya?


nafkah-batin-untuk-istri

Foto: pixabay (dengan tambahan teks)

Perempuan A: "Udah 'isi' belum?"
Perempuan B: (menghela napas panjang) "Belum."
Perempuan A: "Kok belum? Udah hampir setahun lho kalian jadi pengantin."
Perempuan B: (menghela napas lebih panjang lagi) "Gimana mau 'isi'? Suamiku jarang kasih nafkah batin."

Familiar dengan percakapan tadi? Mungkin sering, ya, dengar pertanyaan memojokkan seperti itu yang ditujukan kepada pasangan pengantin baru. Barangkali yang jarang didengar adalah kalimat terakhir si perempuan B. Tahu maksudnya?

Seorang ibu pernah curhat kepada saya. Ibu ini merasakan perhatian suaminya kepadanya berkurang jauh. Perhatian yang dia maksud adalah nafkah batin.

Bagi pasangan suami-istri, sudah bukan rahasia lagi kalau ada dua macam nafkah yang harus dipenuhi dalam ikatan pernikahan, yaitu nafkah lahir dan nafkah batin. Barangkali yang belum menikah juga sudah paham soal ini, hehehe...

Meskipun secara syariat hanya disebutkan 'nafkah' saja, namun dapatlah kita bagi menjadi dua. Nafkah lahir adalah kebutuhan fisik, seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Sedangkan nafkah batin adalah kebutuhan kasih sayang, termasuk hubungan intim suami istri.

Friday, 24 February 2017

Gangnam District Bekasi, Apartemen Berkelas Di Dekat Ibukota

Kapan sih pasangan suami istri mulai memikirkan punya tempat tinggal?

Yang jelas bukan pada masa pengantin baru, ya. Hehe...pada saat itu sih fokusnya masih pada penyesuaian diri. Ya, namanya juga dua orang yang berasal dari dua dunia, pastilah terbentur pada dinding perbedaan. Eh, tapi itu saya, ya, nggak tahu kalau pasangan lain.

Nah, urusan kepingin punya tempat tinggal sendiri itu baru muncul tatkala sudah punya anak. Kepikiran banget pingin punya space sendiri yang cukup luas tapi tidak terlalu luas biar nggak capek bebersihnya dan yang cukup private. Maklum, pas itu kami masih ngontrak di rumah petak. Enak sih tinggal di sana, tapi ya itu, ada beberapa kebutuhan yang mulai tidak terpenuhi akibat ruang yang kurang.

Ternyata memang kecenderungan sekarang adalah hidup yang compact. Tinggal di rumah yang cukupan luasnya, dengan tata ruang terbuka dan furnitur yang serba hemat tempat. Terlebih di perkotaan, ya. Soalnya harga properti makin gila-gilaan saja! Eh, tidak hanya di kota besar, di kabupaten macam Madiun saja harga tanah sudah bikin geleng kepala karena mahalnya.

Jadi tak heranlah kalau yang namanya bangunan tinggi-tinggi banyak didirikan. Misalnya rumah bersusun ke atas yang kalau dibangun secara eksklusif disebut dengan apartemen.