Saturday, 21 January 2017

Piknik Ke Pantai Pasir Putih Trenggalek

Hari Minggu tanggal 15 Januari kemarin, untuk pertama kalinya anak-anak saya bisa melihat laut. Memang sampai umur 6 dan 7 tahun ini permintaan mereka baru dapat dipenuhi setelah sebelumnya selalu kami tunda. Alasannya karena mereka, terutama si sulung merupakan anak super aktif yang masih sulit diarahkan. Kami khawatir di pantai nanti mereka bisa terlampau kegirangan dan hilang kendali. Berhubung kali ini mereka sudah mulai bisa diarahkan, maka kami berani mengajak mereka ke Pantai Pasir Putih, Trenggalek, Jawa Timur.

Lucunya sebelum ke sana, ada dramatisasi. Beberapa kali sepulang sekolah, anak kedua kami selalu bercerita dengan nada iri bahwa teman-temannya sudah berkunjung ke sana dan ke situ. Pada puncaknya, anak saya itu mengadu begini ke saya, "Bu, semua temanku itu udah pernah ke hotel, museum sama pantai lho. Cuma aku yang belum. Padahal aku tu pengeeeeeen banget lho, Bu." Ibu mana yang nggak ngilu hatinya direngeki anak kelas 1 SD?

Akhirnya saya bilang ke suami, "Ke museum dulu aja, Yah." Maksud saya cari yang dekat dulu saja mengingat saya sedang hamil. Tapi ternyata museum terdekat dari Madiun adalah Museum Trinil, Ngawi. Wah, pikir saya,belum tentu anak-anak tertarik lihat diorama dan fosil. Pilihan lain adalah ke Solo. Waduh, jauh amat.

Pas saya tanya anak saya ingin ke museum apa, jawabannya museum kendaraan. Walah, itu sih Museum Angkut di Malang. Ada yang lebih dekat nggak?

Ya sudah, akhirnya diputuskan ke pantai saja. Sama-sama jauh, tapi lebih bisa dipastikan kalau anak-anak bakal suka. Pantai mana? Pikir saya Pacitan tapi suami saya punya ide lain: Trenggalek. Baiklah. Trenggalek, kami datang.

Wednesday, 18 January 2017

Ketika Anak Super Aktif Dinilai Sebagai Anak Hiperaktif

"Mbak, cucu saya udah besar tapi belum sembuh-sembuh. Gimana caranya biar anak hiper (aktif) bisa sembuh? Kok Damar bisa?"

Percakapan tentang mengatasi anak hiperaktif tiba-tiba dimulai saat sopir yang mengantar saya melihat perubahan pada perilaku anak sulung saya. Anak saya itu, kata orang, dulunya pas masih kecil hiperaktif. Tidak bisa diam, bergerak ke sana-ke mari dan cenderung tidak tahan untuk tidak mencoba hal baru. Gampangnya, anak saya itu bisa disebut sulit diatur. Kalau dilarang malah dikerjakannya larangan itu.

"Umur berapa cucunya?"

"Kelas 2 SD," jawab pak sopir.

Hmm...sepantaran anak saya.

"Laki-laki apa perempuan?"

"Laki-laki."

"Oh, ya mungkin belum, Pak. Sabar aja. Mungkin kelas 4 nanti baru bisa anteng," jawab saya.

Saya tidak pakai teori sih, tujuan saya supaya pak sopir tenang dan yakin bahwa masih ada harapan 'sembuh'. Padahal dalam hati saya bertanya-tanya, cucunya itu hiperaktif atau super aktif? Setahu saya anak yang digolongkan hiperaktif itu memiliki masalah dengan daya konsentrasinya dan memiliki kecenderungan destruktif. Si cucu pak sopir ini, saya tidak tahu, punya ciri seperti itu atau tidak.

Sewaktu anak sulung saya belajar di PAUD dan TK, tidak jarang ada yang menyebutnya sebagai anak hiperaktif. Sebabnya anak saya itu lebih suka bertindak 'semau gue' dan punya ketertarikan luar biasa pada alat-alat elektronik. Sebetulnya sakit juga hati ini dengar anak disebut sebagai anak hiperaktif, soalnya saya tidak merasa anak saya ini punya gangguan perilaku. Bukan karena dia anak saya yang wingka katon kencana lho ya, yang selalu terlihat bagai sebongkah emas padahal cuma sekeping tanah liat keras. Bukan. Tapi karena saya sudah pernah baca bahwa anak hiperaktif itu memiliki ciri khusus dalam perilakunya.

Saturday, 14 January 2017

Karena Setiap Kehamilan Itu Istimewa

“Apa sih yang terlintas di benak kalian ketika melihat atau bertemu seorang perempuan yang sedang hamil besar?”

Hmm...saya biasanya akan bertanya, "Udah berapa bulan, Mbak/Bu?" terus tanya kapan HPL-nya dan kepingin rasanya mijitin kaki dan punggungnya, soalnya saya tahu persis betapa pegelnya dua bagian itu saat kehamilan sudah tua. Hehe...

Pertanyaan itu dilontarkan oleh Mbak Ella a.ka. Nyonya Malas di blognya dalam rangka blog tour giveaway buku "Happy Pregnancy: Panduan Kehamilan dan Persalinan yang Menyenangkan" karya Nana Aditya, S.Si.

buku-panduan-kehamilan

Gambar dari blog nyonyamalas.com

Karena setiap kehamilan itu istimewa, maka punya pengalaman hamil bukan berarti membebaskan seorang ibu yang hamil lagi dari mencari ilmu soal kehamilan dan persalinan. Kenapa begitu? Bukannya hamil itu ya begitu-begitu aja? Haid berhenti, perut membesar, badan melar dan akhirnya melahirkan? Dan bukannya melahirkan itu ya kayak gitu aja dari dulu? Pilihannya ya cuma secara normal atau dengan tindakan?

Woooow...tunggu... Memang betul hamil dan melahirkan itu ya begitu-begitu aja, persis seperti kita hidup dari zaman prasejarah sampai sekarang ya begitu-begitu aja. Makan kalau lapar, minum kalau haus, tidur kalau mengantuk. Tapi bukankah dalam hidup yang sama saja sejak ribuan tahun yang lalu atau lebih itu kita merasa perlu mencari ilmu tentang hidup agar lebih baik dan nyaman? Nah, seperti itu jugalah ilmu tentang kehamilan dan persalinan. Bukan barang baru tapi harus selalu diperbarui. Kenapa? Biar kehamilan dan persalinan makin nyaman dijalani.

Wednesday, 11 January 2017

Membaca Blog damarojat Pada 2016


damarojat

Sepertinya saya masih sulit percaya bahwa blog ini sudah bertahan selama 3 tahun. Pencapaian yang luar biasa menurut saya. Saya bisa rutin menulis di dalamnya, mengisahkan hidup saya, berbagi inspirasi dan hikmah, menggugat kesewenangan dan banyak lagi! Sungguh saya tidak mengira blog ini betul-betul bisa menjadi perwakilan saya di dunia maya.
Dulu, waktu masih kuliah, saya pernah berkhayal dengan salah satu sahabat saya. Saat itu internet baru saja dikenal secara luas. Warnet seharga 6.000 per jam baru mulai ada. Belajar membuat email pun marak. Rasanya keren bisa punya email walaupun tidak tahu mau dipakai untuk apa.
Saya dan sahabat saya bermimpi andai bisa kerja jadi webmaster. Kerja tidak perlu keluar rumah, di depan komputer saja dan dapat uang. Kayaknya asyik dan cocok banget buat perempuan yang ingin mandiri tapi nggak pergi jauh dari rumah seperti kami ini. Saya bahkan pernah membuat 'situs' offline untuk sahabat saya itu. Saya menulis sesuatu dengan MSWord, lalu saya buatkan link pada kata tertentu yang mengarah ke halaman lain. Saya simpan di disket supaya bisa dibuka sahabat saya di komputernya. Haha...lucu juga kalau ingat itu.
Sekarang, setelah mengelola blog, saya baru ingat angan-angan kami itu. Rupanya khayalan sebagai webmaster itu sudah terlaksana. Ya, saya adalah 'webmaster'-nya damarojat.com.

Saturday, 7 January 2017

Wisata Tubing Di Brumbun Madiun

Wisata Tubing di Brumbun Madiun sedang naik daun saat ini. Wisata petualangan (adventure) ini merupakan salah satu objek wisata baru yang dikembangkan oleh Pemkab Madiun.

Desa Wisata Brumbun ini berada di Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun. Terletak di kaki pegunungan, suasananya masih asri dengan hamparan persawahan dan hutan. Baru dibuka pada Juli 2016 lalu, wisata alam ini langsung mengambil hati wisatawan yang kangen nyemplung ke kali. Oya, tubing bisa diartikan ikut arus sungai dengan duduk mengapung di atas ban bekas. Wisata tubing di Brumbun Madiun memanfaatkan saluran irigasi alias selokan a.k.a. kanal.



Berkelok indah. Di ujung sana adalah tempat parkir roda dua.

Wisata model ini juga disebut wisata kelen (dibaca dengan bunyi 'e' seperti pada 'bebek'), yang berasal dari kata 'keli' yang berarti hanyut. Kelen berarti tempat menghanyutkan diri tanpa terhanyut.