Skip to main content

Komentar Ayah Soal Diapers Bayi

Yang depan yang mana?

Tampaknya itu komentar pertama yang paaaling sering diucapkan orang yang baru pertama kali memakaikan diapers ke bayi. Saya juga begitu dulu, hahaha... Bingung mana yang depan, mana yang belakang.

Termasuk juga suami saya. Meski sudah punya anak 3, karena jarang memakaikan diapers, jadilah suami saya kebingungan cari bagian depan diapers.

Kebetulan anak kami yang ketiga ini yang paling sering pakai diapers. Kakak-kakaknya dulu jarang berdiapers kecuali kalau pergi-pergi. Jadi agak dimaklumi juga kalau suami saya kagok memakaikan diapers ke adek bayi.

Bukan cuma itu sih komentar ayah soal diapers bayi, tapi ada banyak lagi. Apa saja sih? Yuk, simak. Siapa tahu ada kemiripan.

Depan vs Belakang

Seperti yang saya utarakan tadi, komentar pertama soal diapers bayi adalah: mana yang depan dan mana yang belakang.

Memang bentuknya diapers itu depan belakang sangat mirip jadi sulit dibedakan, tidak seperti celana dalam yang tampang bagian depannya berbeda dengan yang belakang. Terlebih lagi diapers bayi sekarang kebanyakan unisex alias bisa dipakai untuk bayi laki-laki dan perempuan. Konon kalau untuk bayi laki-laki lebih tebal di bagian depan. Jadi mungkin saja agak sedikit berbeda. Tapi saya sendiri belum pernah mengamatinya karena anak saya pakainya selalu yang unisex.

"Mana yang depan?"

"Itu. Yang ada tulisan 'FRONT'-nya," jawab saya.

Untunglah tulisan FRONT ini cukup kentara. Kalau samar dengan gambar dan warna-warni diapers bisa lain lagi ceritanya. Dan untungnya juga tulisannya pakai Bahasa Inggris bukan Bahasa Jepang, hihihi... Ada juga yang pakai Bahasa Indonesia. DEPAN. Sip lah.

Baca juga: Mitos-Mitos Soal Merawat Bayi

Tipe Perekat vs Celana

Pas adek baru lahir sampai berumur hampir 2 bulan, adek setia pakai diapers model perekat (tape). Baru setelah itu pakai yang model celana (pants). Menurut versi Ayah, diapers mana yang lebih baik?

Ternyata yang tipe perekat! Alasannya mudah dipakaikan dan dilepasnya. Kan tinggal diletakkan di bawah bayi, tarik sedikit ke depan sampai pusar, baru direkatkan. Mencopotnya juga mudah. Tinggal lepas perekatnya, angkat sedikit pantat bayi, tarik diapers-nya lalu digulung dan dibuang.

Baca juga: Imunisasi Bayi, Pilih Yang Mahal Atau Merakyat?

Iya, tapi itu dulu ketika bayi belum banyak gerak. Kalau bayi sudah mulai guling-guling...ga kebayang gimana memakaikan diapers-nya. Kaki bayi nendang-nendang terus, susah ngepasinnya.
Kelebihan lain dari tipe perekat versi Ayah adalah karena lebih bagus ventilasinya. Eh, kok ventilasi? Maksudnya aliran udaranya lebih leluasa karena bisa disetel tingkat keketatannya. Sedangkan kalau tipe celana kan ngepres di badan. Dikhawatirkan aliran udaranya kurang leluasa sehingga mudah lembab dan bikin kulit bayi ruam.

Sebetulnya tidak juga sih. Asalkan bahan diapers-nya breathable alias berpori sehingga udara bebas keluar-masuk. Bahannya pilih yang halus, yang tidak kemresek. Kasihan kan kalau bunyi 'kresek-kresek' gitu. Terbayang gerahnya deh. Seperti pakai baju dari plastik.

Diapers yang breathable

Sedangkan kekhawatiran soal ruam bisa diatasi dengan sering mengganti diapers dan memberi jeda diapers. Baik diapers sudah penuh oleh pipis atau belum, tiap 3 jam sebaiknya diganti. Sedangkan kalau bayi BAB, harus langsung diganti agar tidak jadi sarang kuman yang nyaman yang bisa bikin ruam. Cebok yang tepat juga bisa menghindarkan ruam. Jangan lupa keringkan selangkangan bayi sesudahnya. Beri juga kesempatan kulit bayi diangin-anginkan sebentar.

Selain faktor-faktor tadi, kualitas diapers juga berpengaruh. Pilihkan bayi diapers yang punya daya serap bagus, punya garis penyebar cairan sehingga pipis yang tertampung tidak mengumpul di satu tempat, jadi tidak menggembung dan bayi pun tetap bebas bergerak, active and fun.

Smile Baby Wonder Line dengan 5 garis penyebar pipis

Ukuran Diapers

Komentar lain dari Ayah soal diapers adalah ukurannya yang tepat itu berapa?

Di kemasan sudah tertera ukuran diapers berdasarkan berat badan bayi. Tapi biasanya agak gambling ketika beli soalnya dengan berat badan seperti yang ada di kemasan kadang tidak sesuai dengan kondisi bayi. Ada bayi yang potongan badannya semok, jadi meskipun berat badannya masuk kisaran, ternyata saat dipakai bikin pingget alias berbekas di pinggang atau paha.

Baca juga: Merawat Bayi Di Cuaca Panas

"Seharusnya ada patokan lain seperti ukuran lingkar paha dan pinggang untuk menentukan ukuran," kata suami saya.

Iya sih, saya sih setuju saja. Biar lebih akurat, gitu. Hehe... Soalnya biasanya ya cuma mengandalkan uji coba saja. Kalau pas ya alhamdulillaah. Kalau tidak ya coba lagi. Hahaha...

Disposable Tape

"Ini apa?" tanya suami saya menunjuk sesuatu di bagian belakang diapers.

Yang dimaksud ternyata adalah disposable tape alias perekat untul menggulung diapers bekas dengan rapi. Iyes, disposable tape ini hanya ada di diapers kelas premium.Gunanya untuk menggulung diapers kotor agar rapi saat dibuang. Kan biasanya kalau mau buang diapers harus digulung dulu ya, atau diikat gitu. Nah, dengan dispotable tape ini makin muda menggulung diapers kotor. Apalagi di saat bepergian, wah, saaaangat menolong. Tinggal gulung dan buang.

Ya, itulah beberapa komentar Ayah soal diapers bayi. Sebetulnya ingin tahu lebih lanjut juga sih soal apakah Ayah tahu bedanya diapers premium dengan ekonomis. Kemungkinan sih bakal dijawab, "Harganya." Hehehe...

Comments

  1. Iya.. mesti dibaca dulu mba.. cr mana yang ada tulisan font nya..

    Anakku mbien, jarang pke yang premium. Klo stok di toko yang biasa hbs, br beli premiumπŸ˜€

    ReplyDelete
  2. Hahay, jd ingt si ken masih bayi, dan bapaknya kebalik masangin diaper. πŸ˜†

    ReplyDelete
  3. kalau suami saya malah udah biasa makein diaper buat anak kami jadi dia nggak banyak tanya.

    ReplyDelete
  4. jadi ingat pas anak masih pakai popok. Saya bolak balik nanya depannya mana ya. soalnya tanda birunya susah terlihat

    ReplyDelete
  5. Setuju sama suaminya soal lingkar paha & pinggang, tp repot deng hrs ngukurnya hehe...

    ReplyDelete
  6. Wah jadi ayah memang harus tau juga ya. Jadi biar sama-sama besarin anak bareng2...

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah, anak lanang tak lama pake diapers-nya. Umur 2 th udah lepas diapers. Meski kdng masih suka ngompol. Tp skg udah g ngompol.... Wkwkwk

    ReplyDelete
  8. wah pakai ada pertanyaan dari pak suami ya, unik juga ya

    ReplyDelete
  9. Hihihi, buat calon ayah, kudu belajar lebih tentang diapers ini ya. :D

    ReplyDelete
  10. Dulu saya pun begitu ketika harus mengganti diapers pada anak saya tapi setelah istri saya jelaskan alhamdullilah sekarang nggak bingung mana depan mana belakang meski sepintas sama..πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

    ReplyDelete
  11. Sama kayak pak suami.
    Kalo bantu pakaikan diaper harus dikssih tahu dulu mana yg depan dan belakang

    ReplyDelete
  12. Untuk merk-merk tertentu kadang gak ada tulisan untuk depan atau untuk belakang, jadi kadang bingung juga dan anggap sama saja

    ReplyDelete
  13. Blm pernah nanya suami sih dia ngerti ato ga soal beginian :p. Krn biasanya dia jg jrg makein popok k anak2. Jadi pengen ngetes dia juga sesekali mba :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.