Skip to main content

Kiat Aman Curhat Di Medsos

Orang tak selamanya tegar. Kadang ada masanya seseorang merasa hidupnya begitu bermasalah dan perlu nasihat dari sesamanya. Sesama ibu, misalnya. Curhat boleh dong? Boleh saja sih. Kalau curhat di medsos? Bisa aja sih asal tahu kiat aman curhat di medsos.

Curhat, walaupun boleh-boleh saja, tapi tetap harus aman. Apalagi di medsos yang bagai rimba informasi. Siapapun bisa share dalam hitungan detik. Salah curhat bisa jadi masalah. Bisa juga jadi bumerang. Nggak mau kan kalau curhat malah mengantar si pencurhat ke hadapan hukum? Hiiiy...naudzubillaahi min dzaalik.

Biar curhat aman, sebelum curhat perhatikan hal-hal ini:

Seberapa Penting Curhatannya

Tiap orang punya skala prioritas dalam hidup. Mulai dari hal kecil seperti mau mandi dulu atau makan dulu sampai hal besar seperti nikah dulu atau kerja dulu misalnya. Begitu juga dengan curhat. Ada curhat yang remeh banget ada yang penting banget.

Untuk memilah curhat mana yang pantas dilontarkan ke medsos, klasifikasikan dulu agar curhat kita di medsos berkualitas. Cieee...

Tapi kenapa harus curhat berkualitas?

Begini. Di medsos ada banyak orang berbicara. Jagad medsos adalah jagad yang riuh dan sibuk. Curhatan yang berkualitas bisa menjadikan nilai tambah bagi pembacanya. Curhat berkualitas itu berisi permasalahan yang kerap dialami orang banyak tapi cukup serius. Misalnya, "Kenapa sih tagihan XYZ membengkak lagi bulan ini?? Padahal pemakaiannya biasa aja lho??!"

Curhatan model ini kemungkinan akan dapat banyak masukan dari sesama pelanggan XYZ yang pernah dikecewakan. Kemungkinan mendapat saran jalan keluar juga besar. Curhat seperti ini juga bisa menjadi inspirasi bagi yang belum mengalami, untuk diambil hikmah dan langkah antisipasinya.

Apa curhatan macam, "Laper. Makan apa ga ya?" itu tidak akan mendapat banyak tanggapan? Ya bisa saja sih sesama yang merasa lapar mungkin bakalan berkomentar. Tapi ya sebatas itu saja. Manfaat untuk pembacanya kurang.

Gunakan Bahasa Yang Jelas

Curhat berpanjang-panjang boleh nggak? Boleh, kalau kata saya. Ya kalau curhatnya berkaitan dengan deskripsi peristiwa ya malah harus panjang-panjang. Meskipun begitu, berusahalah seefisien mungkin menggunakan kata-kata dan gunakan bahasa yang jelas. Jelas penulisannya (jauh dari typo dan bahasa singkatan yang bikin pening), jelas maksudnya. Walau namanya curhat, pembaca jangan sampai dibikin bingung, ini curhat tentang cabe apa seragam sekolah, misalnya. Tetaplah fokus pada bahasan utama curhat.

Hindari juga curhat dengan bahasa yang kasar, apalagi mengatai orang atau lembaga, terlebih lagi Tuhan. Duh...jangan! Bisa bermasalah hidup ini nantinya.

Pilih Medsos Yang Tepat

Mau curhat di mana saja, sama saja. Pilih media yang aman tapi bertanggung jawab. Misalnya di grup facebook yang khusus curhat-curhatan atau grup kecil di WA. Teliti juga grup itu dengan seksama sebelum lempar curhatan. Cara paling mudah adalah dengan membaca secara teliti aturan grup. Jangan sampai OOT dan kita malu sendiri.

Teliti juga apakah grup itu anggotanya simpatik atau tidak. Lihat di kolom komentar. Kalau banyak bullying, lebih baik ga usah curhat di situ. Daripada habis dibully anggota dan disentil admin kan?

Mau curhat boleh saja asal bisa membawa diri. Curhat pun ada ilmunya. Pelajari sebelum terjun ke dunia curhat. Meski begitu, curhatlah dengan bijak dan jangan jadikan curhat di medsos sebagai pengganti curhat kepada-Nya.

Teman-teman juga punya pengalaman berkesan seputar curhat di medsos? Boleh dong bagi ceritanya di sini. Yuk, yuk.

Artikel ini merupakan bagian ke-2 dari Seri Curhat. Sudah baca bagian pertamanya belum? Ada soal obat tidur di sana. Baca juga yuk Curhat Sang Nenek.

Comments

  1. Iya ya, curhat pun harus beretika di sosmed, bisa-bisa panas hati krn dibully.. Kalau aku suka curhat di twitter, soalnya aku tau temen yg aku sebelin gak main twitteran haha.. But, tetep masih elegan, soalnya kalo terbaca sama agency bisa gawat reputasinya eaaa

    ReplyDelete
  2. jarang curhat di medsos sih... soalnya aku merasa orang lain itu ngga pingin tahu juga soal diriku... sebenarnya pingin curhat di blog tapi... masih merasa susah hihihi

    ReplyDelete
  3. Curhat sama ngeluh..sama nggak mba.

    Klo aku, mles klo lihat status kok isinya keluhan teruuus. Ada lho yang kyk gitu.

    Kadang curhat di medsos..ujung2nya mlh dibully..itu yang bikin ngeri

    ReplyDelete
  4. Sekarang saya lebih seneng curhat lewat blog, dengan laburan berbagai informasi lain, curhatan jadi lebih berbobot

    ReplyDelete
  5. kadang curhat di medsos suka ada yang baperan mba makanya betul pilih2 sosmed paling baik :)

    ReplyDelete
  6. Iya, Mbak. Bahasa juga jadi sorotan utama saya bagi warganet saat bermedsos. Kadang selain kasar juga bernada menyindir atau bersayap jadi berpotensi menyinggung orang lain yang tidak berkepentingan. Terima kasih sudah diingatkan ya. Saya sering mikir panjang sebelum bikin status, khawatir enggak bermanfaat.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…