Skip to main content

Curhat Sang Nenek

Nenek-nenek curhat? Boleh dong, kan nenek juga manusia.

Suatu pagi usai bergegap gempita nyuruh anak mandi dan bersiap ke sekolah, saya merasa perlu penyegaran. Keluarlah saya sama adek bayi, jalan-jalan ke sebelah rumah. Duduk sambil menghela napas mensyukuri pagi yang berhasil dilalui meski dengan penuh perjuangan. Ibu-ibu banget lah ya. Para bapak ikut pertempuran pagi ga? Ya, sesekali.

Sambil selonjorin kaki dan main sama adek bayi, muncullah tetangga yang tampaknya juga baru selesai dari pertempuran paginya. Bukan dengan anak-anaknya, tapi pertempuran bersama cucunya. Iyes, tetangga saya ini adalah seorang mbah uti alias nenek dengan 2 cucu yang tinggal bersamanya. Cucu yang besar sudah SD, yang kecil baru umur 1 tahun lebih.

Beliau bersalam sapa dengan saya, lalu bertanya, "Dulu punya anak langsung mandiri, ya, Mbak?"

"Ga juga sih, Bu. Anak pertama dari lahir sampai 3 bulan saya masih ikut ibu di Jogja. Habis itu baru mandiri. Anak kedua malah lahir di Jakarta. Jauh dari sanak-saudara," jawab saya.

"Hmmhh...anak saya ini (ibunya si cucu) bla bla bla..."

Mulailah si nenek curhat yang pada intinya kadang beliau merasa lelah mengurus cucu-cucunya. Ibu si bocah sendiri kerja di luar sejak jam 8 sampai lepas isya.Kita kesampingkan alasan si ibu bekerja di luar ya. Yang jelas karena pulangnya cukup larut, lebih sering si nenek yang menghandle urusan remeh cucu-cucunya. Pagi usai si ibu berangkat kerja, si neneklah yang menemani cucu kecilnya itu bermain. Yang besar sudah berangkat sekolah kan ya. Momong sambil disambi masak, nyuci, njemur, ngepel dan lain sebagainya. Repot? Iya. Nyatanya beliau curhat ke saya.

Pernah juga saking capeknya nenek ini bercanda bilang mau kasih cucunya CTM biar cepet bobok dan bisa ditinggal menyelesaikan pekerjaan rumah. Hahaha...asli bercanda lho ini. Mana mungkinlah si nenek tega banget gitu ke cucunya. Saya sih dengar curhatan beliau ini cuma senyum-senyum. Ga berani dong saya usul ini atau itu. Wong si nenek tadi juga cuma curhat. Cuma ingin ada yang  mendengarkan.

Itu curhat nenek satu. Nenek satu lagi juga curhat sama saya. Nenek yang ini masih relatif muda. Mungkin umurnya 50 tahun kurang. Masih cantik dan seger.Beliau ini juga ketempatan cucu dan anaknya. Bedanya dengan nenek pertama tadi, cucu yang ini tidak menetap di rumahnya, tapi cuma sementara sejak lahir sampai cukup umurnya nanti. Maksudnya karena ibu si bocah masih belum berpengalaman jadi tinggal di rumah ibunya dulu biar ada yang membimbing, gitu. Ibu si bocah ini tinggalnya di kota yang lumayan jauh dari si nenek. Kalau si nenek yang wira-wiri ke sana, jauh. Lagipula si nenek masih punya tanggungan satu anak lagi yang  masih sekolah.

Nenek yang kedua ini cerita ke saya seputar putrinya yang seperti menggantungkan diri ke dirinya. Di saat pagi, ibu si bocah ini masih tidur, sedangkan si bayi sudah bangun. Walhasil si neneklah yang mau tidak mau turun tangan mengurusi si cucu.

"Aku sampai dimusuhi sama keluargaku, Mbak," curhat si nenek.

"Mereka suruh aku lepasin anakku, biar mandiri. Tapi ya gimana, aku eman-eman sama cucuku'" lanjutnya lagi.

Maksudnya adalah merasa sayang kalu sampai si cucu nantinya tidak terurus akibat si ibu yang masih belum bisa mandiri mengasuh anaknya. Pada intinya ibu si bocah masih banyak bergantung kepada sang nenek untuk urusan bayinya.

Lagi-lagi saya ya cuma senyum-senyum saja. Maklum banget saya tentang perasaan si nenek ini. Capek ngurus rumah, masih ngurus bayi, masih menghadapi tingkah ibu si bayi. Tapi ya itu sudah keputusan beliau untuk mengasuh cucu dan anaknya juga sih.

Curhatan nenek-nenek tadi sungguh menohok buat saya. Pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa itu adalah: introspeksi. Adakah saya juga seperti itu? Dulu sempat iya, ikut ibu saya waktu saya punya anak pertama sampai kira-kira umur 3 bulan. Pelajaran kedua adalah: bersyukur, ternyata keribetan mengurus anak dan rumah ini ada yang memuji. Dianggapnya saya ini profesional apa? Hahaha...padahal rumah juga kayak kapal pecah gitu.

Ya, di balik curhat sang nenek ini memang ada sesuatu untuk diambil hikmahnya. Buat orang tua yang menitipkan anaknya ke nenek-kakek, ada baiknya menyediakan diri untuk membantu pekerjaan rumah, atau menyediakan tenaga pembantu. Janganlah sampai kita ini saat jadi anak merepotkan, sudah punya anak juga merepotkan. Jangan sampai nenek dan kakek jadi kepikiran beli CTM.

Artikel ini merupakan bagian pertama dari Seri Curhat. Baca juga yuk soal Kiat Aman Curhat Di Medsos.

Comments

  1. alhamdulilah sudah mandiri baca curhatan ini kasihan dan seharusnya sbg anak bisa mengerti siy ah tp keadaan orang berbeda y mb ga mgkn aku genenalisir klo anak itu tega hehe dibalik itu semua pasti ada sesuatu yg kita ga tahu smg neneknya sehat2 semua

    ReplyDelete
  2. Simbahnya capek mba..
    Nitipin ke kakek-nenek mnrtku mmng mesti liat situasi dan kondsi si mba.. syukur2 dibekali asisten juga, biar si kakek nenek ttp punya me time, buat datang ke pengajian misalnya..

    Aku bnyak tak handle sendiri.. simbahe dah sepuh..nggendong aja udah ga kuat

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.