Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2017

Pendidikan Anak Usia Dini Yang Ideal

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor. "Aku nggak mau sekolah lagi," rengek si sulung di suatu pagi ketika dia masih belajar di TK, 3 tahun yang lalu.

Anak sulung saya ini memang istimewa. Tidak suka sekolah formal sejak saya kenalkan dengan Pendidikan Anak Usia Dini. Di TK pun dia lebih banyak 'tidak menurut' kepada ibu gurunya. Maunya maiiin saja.

"Kalau Mas nggak TK, nanti nggak bisa masuk SD. Kan nanti ditanya ibu guru SD, "Ijazah TK-nya mana?" jawab saya waktu itu. Dia pun mengangguk setuju melanjutkan TK-nya.

Saya pikir waktu itu saya membohonginya. Ternyata tidak juga. Berdasar peraturan Mendikbud, setiap anak Indonesia wajib menempuh pendidikan usia dini (PAUD/TK) setidaknya selama 1 tahun sebelum masuk SD.*

Nah, jadi nggak salah dong saya, hehe... Ya meskipun pas masuk SD tidak ditanya soal ijazah TK, tapi ditanya soal asal TK-nya. Sama aja, ya.

Baca juga: Ketika Anak Super Aktif Dinilai Sebagai Anak Hiperaktif

Nah, pendidika…

Kapan Saat yang Tepat Untuk Mengoreksi Bacaan dan Gerakan Sholat Anak?

Anak senang mencoba hal baru, terutama yang sering dilakukan orang tuanya. Orang tua harus paham bahwa ini adalah sifat bawaan anak dan merupakan tanda anak yang sehat. Anak yang sehat dan cerdas akan selalu ingin tahu dan mencoba banyak hal. Meskipun demikian, sebagai manusia biasa, anak pun terkadang berbuat salah. Dalam belajar sholat pun orang tua akan menemui kesalahan yang dilakukan anak. Kapan saat yang tepat untuk mengoreksi bacaan dan gerakan sholat anak?

Koreksi Gerakan Secara Bertahap
Anak yang dalam tahap mengenal sholat jelas akan membuat banyak kesalahan baik dalam gerakan maupun bacaannya. Untuk anak yang masih belajar gerakan sholat (misal ikut orang tua sholat), abaikan dulu jika anak salah meniru gerakan ruku', sujud dan duduk (duduk di antara dua sujud dan duduk tahiyat). Cukup perbaiki jika anak salah dalam meniru gerakan takbir dan sedekap. Bisa jadi anak bersedekap dengan posisi tangan kiri di atas. Betulkan segera setelah sholat usai. Tunjukkan kepadanya cara…

Anak Tak Doyan Makan Nasi?

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor Kakak saya pernah punya teman kos yang tak doyan makan nasi. makan apa saja dia mau, asal tidak nasi.
"Kayak bule jadinya," ujar kakak saya.
"Makan sayur ya sayur aja, sama lauk."
Saya terheran-heran mendengarnya. Sejak kecil kita selalu dikenalkan dengan yang namanya 4 Sehat 5 Sempurna. Menu dalam sistem penyajian makanan itu berupa makanan pokok, sayur-mayur, lauk-pauk, buah dan susu. Nasi termasuk dalam kelompok makanan pokok.
Lha apa teman kakak saya itu nggak lapar, ya? Soalnya kan nasi itu sumber karbohidrat yang menghasilkan energi utama bagi tubuh? Dengan adanya karbohidrat dalam menu makanan, menyebabkan rasa kenyang.
Memang sih, sumber karbohidrat bukan hanya nasi. Ada kentang, ubi, sagu, singkong, jagung. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia, nasi bukanlah makanan pokok, melainkan sagu atau ubi.
Bertahun-tahun kemudian saya bertemu kasus yang sama. Kali ini salah satu keponakan saya. Dia tak doyan ma…

Punya Anak Laki-Laki Itu...

SITUASI 1 “Le, bagus nggak gelang Ibu ini?” “Ibu dapat dari mana?” “Beli dong.” “Oh.” “Bagus, nggak?” “Bagus.” Udah itu thok komentarnya? Irit amat komentarnya? Gini ya nasibnya punya anak laki-laki itu?
SITUASI 2 Habis potong rambut, jalan sliwar-sliwer di depan anak-anak. Hmmm...nggak ada yang tahu nih ibunya barusan potong rambut? “Le, Ibu baru potong rambut lho.” “Oh, iya. Bagus.”
Sudah? Lagi? Ya, begitulah kira-kira yang terjadi di rumah saya yang isinya laki-laki semua kecuali saya. Dua krucil saya tampaknya tidak begitu peduli dengan pertanyaan-pertanyaan ibu mereka. Sepertinya, yang penting ibu mereka hepi, kerjaan beres. Udah. Padahal...padahal, maunya saya itu kalau saya punya sesuatu yang baru itu mbok ya ditanyain, beli di mana, potong di mana, ibu kelihatan cantik dan seterusnya. Ya masak bilang ibu cantik kalau pas ditanya aja.

Baca juga: Susahnya Punya Anak Laki-laki 
Saya jadi ingat dulu pas anak-anak masih balita, mereka suka nonton film Pororo the Little Penguin. Di…

5 Cara Mudah Menyelamatkan Kerabat Dari Kehabisan Pulsa

Pernah mengalami kejadian seperti ini? Saat janjian dengan kerabat di suatu tempat lalu kita ditelepon salah satu dari mereka yang kebingungan mencari alamat , kemudian percakapan yang terjadi adalah seperti ini:

"Halo! Halo! Tempatnya di mana nih?" suara si kerabat di seberang sana  terdengar terburu-buru.

"Sebentar, ketemuannya di Restoran Sedap Lezat di Jalan..."


TUUUT...

Belum selesai kita menjawab, telepon terputus.

Setelah kita telepon balik, dia bilang, "Sori, ya. Pulsaku habis. Lupa mau beli tadi."


Pernah?

Masih alhamdulillah, ya, kalau cuma soal menanyakan alamat tempat ketemuan, bukan keadaan darurat. Lha kalau keadaan mendesak banget seperti kabar duka gimana? Hmmm...kehabisan pulsa memang seringkali jadi penghambat lancarnya berkomunikasi. Semua kegiatan komunikasi akan terasa sia-sia kalau lawan komunikasi kita tidak memiliki kemampuan untuk membalas, meski cuma untuk sekedar mengakses internet atau membalas pesan lewat SMS.

Alasan tidak ter…

Mengajak Anak Belajar Bahasa Inggris Tanpa Pusing

“Dapat berapa nilai Damar untuk ulangan Bahasa Inggris kemarin, Mbak?” tanya seorang wali murid teman anak saya.

“Seratus. Alhamdulillah,” jawab saya.

“Hmm...anakku kok susah sekali ya untuk bisa dapat nilai bagus di Bahasa Inggris. Belajarnya gimana, Mbak?” tanyanya lagi.

“Lewat TV, Mbak,” jawab saya.

Teman saya itupun diam terbengong-bengong. Saya lalu menjelaskan maksudnya belajar lewat TV itu. Anak-anak saya beri tontonan film berbahasa Inggris tanpa subtitle. Banyak kok film yang mengajak anak belajar Bahasa Inggris secara menyenangkan. Penasaran pingin mengajak anak belajar Bahasa Inggris tanpa pusing? Asyik dong, bisa belajar tanpa perlu buka buku paket? Iyaaa.




Saya memang tidak pernah mengajak anak belajar Bahasa Inggris dengan cara bertanya, "Apa Bahasa Inggrisnya 'Terima kasih'?" tetapi saya lebih suka mengajak langsung anak-anak bercakap atau sekedar mengungkapkan ekspresi dalam Bahasa Inggris. Ngerti nggak ngerti, mudheng nggak mudheng, pokoknya ngomong …

Keuntungan Menikah Di Usia Tak Muda Lagi

Gambar asli: pixabay


Menikah umumnya dilakukan sepasang laki-laki dan perempuan yang berada pada rentang usia muda. Salah satu alasannya agar masih bisa berketurunan karena masih berada di  usia subur. Tak jarang pasangan suami-istri yang memulai hidup berumah tangga di usia muda memiliki banyak anak. Meski tak jarang juga ada pasangan yang memilih memiliki sedikit anak walau mereka menikah di usia muda. Itu pilihan masing-masing pasangan, ya. Toh tujuan menikah bukan cuma untuk memperoleh keturunan. Iya, kan?

Terus bagaimana dengan pasangan yang tak muda lagi saat menikah? Menikah di usia tak muda lagi itu tetap ada keuntungannya lho. Apa, apa? Apa keuntungannya? Sebelum bahas keuntungannya, kita coba ungkap dulu, yuk, penyebabnya.

Macam-Macam Penyebab Menikah Di Usia Tak Muda Lagi


Sumber gambar: pixabay
Menikah di usia tak muda lagi itu bisa jadi karena beberapa hal. Seperti yang saya alami sendiri, saya menikah di usia yang terbilang tidak muda lagi, 31 tahun. Saya menerima keserius…

Mendampingi Anak Menghadapi Ujian

Disclosure: tulisan ini merupakan artikel bersponsor



Sumber gambar: pixabay
"Hari ini aku mau bolos aja," ucap si sulung pagi itu.

"Lho, kenapa, Mas?" tanya saya kaget.

Anak sulung saya yang masih kelas 2 SD itu menyedot ingus di hidungnya. Dan adiknya ternyata juga disibukkan oleh ingus. Oh, mereka pilek rupanya.

Hari sebelumnya memang mereka berenang sore hari pas gerimis. Mungkin karena itu daya tahan tubuh mereka menurun sehingga paginya mulai pilek. Sebentar lagi UTS (Ujian Tengah Semester). Perlu persiapan khusus mendampingi anak menghadapi ujian. Selain soal kesehatan dan perlengkapan tempur seperti alat tulis, masalah mental juga bisa jadi batu sandungan kalau tidak siap.

"Nggak boleh bolos dong. Kalau pilek nanti Ibu beliin obat," kata saya.

Lagipula kenapa pakai istilah ‘bolos’, bukannya ‘izin’? Ada-ada saja si Mas ini. Nah, kalau anak kedua saya istimewa banget. Tiap kali pilek dia malas ‘sisi’ alias mengeluarkan ingus dari hidungnya. Bayangkan…