Skip to main content

Kapan Saat yang Tepat Untuk Mengoreksi Bacaan dan Gerakan Sholat Anak?

Anak senang mencoba hal baru, terutama yang sering dilakukan orang tuanya. Orang tua harus paham bahwa ini adalah sifat bawaan anak dan merupakan tanda anak yang sehat. Anak yang sehat dan cerdas akan selalu ingin tahu dan mencoba banyak hal. Meskipun demikian, sebagai manusia biasa, anak pun terkadang berbuat salah. Dalam belajar sholat pun orang tua akan menemui kesalahan yang dilakukan anak. Kapan saat yang tepat untuk mengoreksi bacaan dan gerakan sholat anak?

Koreksi Gerakan Secara Bertahap
Anak yang dalam tahap mengenal sholat jelas akan membuat banyak kesalahan baik dalam gerakan maupun bacaannya. Untuk anak yang masih belajar gerakan sholat (misal ikut orang tua sholat), abaikan dulu jika anak salah meniru gerakan ruku', sujud dan duduk (duduk di antara dua sujud dan duduk tahiyat). Cukup perbaiki jika anak salah dalam meniru gerakan takbir dan sedekap. Bisa jadi anak bersedekap dengan posisi tangan kiri di atas. Betulkan segera setelah sholat usai. Tunjukkan kepadanya cara yang benar dalam bertakbir dan bersedekap.



Setelah gerakan takbir dan sedekapnya betul, barulah bisa dilakukan koreksi terhadap gerakan ruku' dan sujud. Koreksi dengan lembut. Tunjukkan kepada anak gerakan yang betul lalu minta anak menirunya. Kalau perlu jelaskan bahwa gerakan ruku' mirip huruf L miring, misalnya. Beri kesempatan anak untuk mempraktikkan gerakan yang betul tersebut selama beberapa hari. Jangan terburu-buru mengoreksi seluruh gerakan sholat anak. Dikhawatirkan anak akan merasa bahwa sholat itu sulit.

Baca juga: Masjid Yang Ramah Terhadap Anak

Khusus untuk gerakan duduk, karena relatif sulit bagi anak untuk menekuk jari-jari kaki kanannya, berilah kelonggaran. Tak mengapa cara duduk mereka keliru saat ini. Nanti ketika sudah lebih akrab dengan gerakan sholat barulah dikoreksi gerakan duduknya.

Mengenai gerakan i'tidal karena relatif mudah, saya kira hampir semua anak tidak akan keliru melakukannya.
Untuk memberi contoh gerakan sholat yang betul, sangat diharapkan ayah terlibat dalam perkara ini. Ibu, yang sholat dengan seluruh aurat tertutup, menyulitkan anak untuk meniru gerakan sholatnya. Jika ayah tak sempat, solusinya ibu sholat dengan tidak mengenakan mukena. Tentu saja ini dilakukan saat melaksanakan sholat pura-pura.

Tentang sholat pura-pura bisa dibaca di artikel: Mengajak Anak Belajar Sholat

Sholat pura-pura yang dimaksud di sini adalah aktivitas sholat yang dikerjakan dalam rangka mengajari. Dengan demikian anak dapat melihat tangan ibu, jari-jari tangan dan kaki ibu saat sholat untuk ditiru.

Koreksi Bacaan Setahap Demi Setahap
Saat anak sulung saya masuk SDIT, bacaan sholat diperkenalkan di sana. Sebetulnya sejak TK sudah diajari tapi tentu saja tidak seintensif di SD. Saat itu terlihat perkembangan yang nyata dalam perbendaharaan bacaan sholatnya. Yang tadinya cuma Al-Fatihah, kini seluruh bacaan sholat sudah bisa dilafalkannya.

Baca juga: Alasan Tidak Mengenalkan Bacaan Sholat Kepada Anak Kecuali Al-Fatihah dan Surat Pendek

Sejak belajar baca Al-Fatihah sebetulnya ada beberapa pengucapannya yang keliru. Sedikit memang, yaitu di bacaan "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" yang diucapkan "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'im". Sepele, ya? Tapi sangat berpengaruh. Namun, saya melihat antusiasmenya yang begitu tinggi. Dengan penuh percaya diri ia mengucapkan itu. Lalu saya pikir tak apa lah salah sedikit. Toh nanti insya Alloh ada waktu untuk mengoreksinya. Dan alhamdulillaah kini bacaannya sudah betul tanpa saya koreksi.

Bagaimana cara membantu anak mengingat bacaan sholat yang betul? Caranya dengan mengulang-ulangnya. Baik di dalam sholat maupun di luar sholat.

Anak adalah peniru ulung. Meski demikian kadang anak pun keliru mengingat keterbatasan yang dimilikinya. Koreksi perlu dilakukan dengan menimbang kesiapan anak. Pemaksaan dan sikap terburu-buru harus dihindari. Kapan saat yang tepat untuk mengoreksi gerakan dan bacaan sholat, tergantung situasi dan kondisi anak.

Comments

  1. Alhamdulillah artikelnya aplikati bunda, memang susah mengajarkan anak sholat jika tidak dengan sabar, yang penting memberi contoh ya bun,

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah. terima kasih mbak. betul, contoh itu paling mujarab buat anak-anak.

      Delete
  2. Alhamdulillah anak saya sekarang baru TK A tapi sudah hafal bacaan sholat dari takbiratul ikhram sampai salam karena diulang setiap hari di sekolahnya. Masih belum sempurna di gerakan ruku, tahiyat awal dan tahiyat akhir. Setuju dengan kita koreksi dengan perlahan dan sedikit-sedikit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah. semoga istiqomah ya, mbak.

      Delete
  3. Jadi ingat zaman anak-anak.
    Suara imam kedengaran walad dolim sehingga saya pun mengikuti walad dolim. Setelah bisa mengaji barulah saya menyadari kesalahan tersebut.
    Bacaan sholat anak-anak bisa dibetulkan sambil mengaji Bu.
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, sama dong ya Pakde dengan anak saya. betul, Pakde, bisa diluruskan bacaannya sambil ngaji.

      Delete
  4. Wah keren artikelnya. Terima kasih mba. Memang benar, mengoreksi bacaan solat atau gerakan solat anak yg keliru dilakukan perlahan agar tdk membuat mereka kecil hati :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. kita aja masih sering salah kok ya, apalagi anak-anak.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.