Skip to main content

"Ibu, Kucing Ga Menikah Tapi Kok Bisa Punya Anak?"

Pendidikan-seks-anak

Bagi orang tua, pertanyaan anak tentang asal-usul bayi pasti selalu bikin dag-dig-dug. Takut salah menjawab, takut anak bertanya lebih lanjut, takut terdengar tak sopan dan lain-lain tentu menghinggapi benak. Termasuk pertanyaan anak sulung saya, "Ibu, kucing ga menikah tapi kok bisa punya anak?"

Pusing ga?

Hhh... *jantung berdebar kencang*

Orang tua manapun, baik yang sudah berbekal ilmu maupun belum, biasanya butuh beberapa saat sebelum menjawab. Saya juga begitu. Pernah baca teori cara menjawab pertanyaan sensitif semacam ini, tapi grogi juga saat harus mempraktikkannya.

Mau tak mau harus dijawab sebab jika tidak, dikhawatirkan anak malah dapat informasinya dari teman sebaya yang belum tentu info itu benar dan sahih.

Bermula Dari Suatu Pagi Saat Si Kecil Bertanya Soal Ga Menikah Tapi Kok Bisa Punya Anak


Waktu itu pagi hari. Subuh baru saja berganti syuruk. Saya dan ketiga anak saya berjalan-jalan pagi sambil cari sarapan. Nasi jotos, tentunya, di warung nasi pecel khas Madiun terdekat.

Ketiga anak saya adalah penyuka kucing. Saat itu kebetulan ada kucing di sawah yang mau menuju jalan raya. Tiba-tiba, tanpa disuruh, si Mas Besar (9 tahun) bertanya, "Bu, kucing itu menikah apa ga?"

"Ya enggak dong," jawab saya.

"Tapi kok bisa punya anak?"

Eng ing eeenggg...

Gimana, ya? Hati saya kebat-kebit mencari jawaban. Mbok yao tanya soal yang sudah Ibu pelajari aja to, Mas. Misal tanya adek bayi datangnya dari mana, gitu. Kalo itu Ibu kan udah siap menjawab.

Memang sih, saya selalu bilang kalau anak itu bisa hadir di tengah-tengah pasangan suami istri, yang pastinya, sudah menikah. Konsekuensinya adalah saya harus membuat pernyataan bahwa pasangan laki-laki dan perempuan tidak bisa punya anak jika tidak menikah. Meski ada juga pasangan suami istri yang belum dikaruniai momongan.

Bahkan saat saya menceritakan kisah Maryam yang bisa hamil tanpa adanya suami pun bahasanya saya sesuaikan.

Maryam 19:20

قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلَٰمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِى بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

(20) Maryam merasa sangat terkejut mendengar berita itu dan dengan nada keheranan ia berkata, "Bagaimana aku akan mendapat seorang anak laki-laki padahal belum pernah ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku; dan aku bukan pula seorang pezina."

(get Quran App:https://goo.gl/w6rESk)

Perkataan Maryam dalam ayat tersebut saya sesuaikan menjadi, "Bagaimana aku akan mendapat seorang anak laki-laki padahal aku belum menikah."

Semoga strategi saya ini tidak menyalahi aturan. Niat saya hanya untuk menyederhanakan bahasa agar anak lebih mudah paham. Sebagaimana dulu saya menerangkan tentang pacar kepada anak saya yang masih belajar di TK.

Bersiap Menghadapi Pertanyaan, "Ga Menikah Tapi Kok Bisa Punya Anak?"


Berhubung saya merasa harus mempersenjatai diri dengan ilmu, saya belikan anak-anak buku pengetahuan ilmiah alias sains. Buku bekas, ya, tapi masih sangat bagus kondisinya. Salah satunya tentang tubuh manusia.

Saya pernah dengar dari Ayah Edy, bahwa perbincangan soal reproduksi itu bisa dikenalkan kepada anak lewat sains. Makin penuh pengetahuannya tentang cara berkembang biak secara generatif itu dari sudut pandang ilmiah, makin bagus. Jadi, otak anak akan terlatih memandang bahwa kegiatan reproduksi itu bukan sesuatu yang saru.

Lain halnya jika orang tua tidak mengisinya dengan pendekatan ilmiah, bisa-bisa yang dominan adalah unsur nafsu.

Ilmiah saya padankan dengan agama agar anak memiliki sandaran yang kuat. Jadi, misal soal buah dada perempuan, saya giring pemahaman anak ke sisi fungsionalnya: untuk mimik adek bayi.

Saya juga ikut berdiskusi dengan anak-anak saat membahas bab reproduksi ini. Buku mengatakan bahwa janin bisa terbentuk dari pertemuan sel sperma ayah dan sel telur ibu. Bukunya rada detil, saya cukup kesal juga, akhirnya saya sembunyikan dulu. Tapi tetap anak-anak saya berdiskusi karena sudah kadung baca bagian itu.

Jatah saya adalah menjawab pertanyaan mereka soal sperma dan sel telur. Saya pun menjelaskan bahwa begitulah adanya. Sperma dari ayah, sel telur ada di perut ibu, yang kalau bertemu nanti bisa jadi adek bayi.

Sangat tidak mudah, memang. Orang tua harus tidak boleh memberikan keterangan yang keliru saat menerangkan atau menjawab pertanyaan anak. Strategi saya, jika ragu, saya akan bilang, "Ibu belum yakin, nanti dicari dulu di internet," atau yang semacam itu.

Ternyata Kadang Anak Punya Jawaban Sendiri Atas Pertanyaan, "Ga Menikah Tapi Kok Bisa Punya Anak."


Kembali ke pertanyaan anak sulung saya tadi.

"Lha Siti (nama kucing liar di sekolahnya - ga tau kenapa dikasih nama 'Siti' 😅) itu kok bisa punya anak, Bu?"

Dalam kondisi tak tahu harus berkata apa, tiba-tiba dia bilang, "Mungkin (yang jadi) bapaknya itu kucing jantan yang sering dekat sama Siti," katanya lagi.

"Itu anaknya Siti ada yang warnanya mirip sama kucing jantan itu," kata si sulung.

"Nah, iya, Mas. Bener itu," kata saya LEGA.

"Tapi caranya spermanya masuk ke Siti gimana, Bu?"

"Ya, itu Alloh yang ngatur."

Jawaban curang 😅😅

Emak lega selega-leganya. Ga ada pertanyaan lagi alhamdulillaah. Rupanya jawaban itu sudah cukup menuntaskan rasa ingin tahunya.

Jadi, gimana? Deg-degan? Jelas. Tapi saya senang, setidaknya mereka tidak penasaran karena tidak dapat jawaban. Harus begitu jadi orang tua itu. Daripada anak cari lewat google atau YouTube kan bahaya. Apalagi di YT ada tuh saya pernah nemu pencarian populer dengan kata kunci 'cara buat anak'. Nah, nah! Serem!

Oke, segitu dulu curhatnya tentang ga menikah tapi kok bisa punya anak. Teman-teman yang sudah punya anak, ada pengalaman serupa? Boleh dong berbagi ilmu di kolom komentar. Yuk, yuk!

Comments

  1. waduuh... pertanyaannya bikin ibu bingung menjawabnya :) tapi pendekatan pada sains ini, lebih memahamkan anak ya... makasih infonya mba... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ga bisa jawab, biasanya pakai alasan, "Nanti cari dulu di internet." Tapi kalau kemudian ditagih bingung lagi 😅😅

      Delete
  2. Pernah sih ditanya gitu, karena bingung ya jawabnya simpel saja.
    Kita kan gak ngerti bahasa kucing dan kita nggak mengikuti terus kemana kucing itu pergi. Mungkin saja kan mereka menikah dengan bahasa mereka sendiri? Bahasa yang tidak kita mengerti?
    Untunglah langdung dijawab "Oh iya ya..." emak langsung lega 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya ya, mbak. Bisa dijawab gitu juga ya. Good idea, mbak 😄

      Delete
  3. memang sulit ya menerangkan dg bahasa sederhana , ah dilematis deh

    ReplyDelete
  4. Jadi siap2 dengan pertanyaan serupa aku mba.. tp mungkin jwbnya enak kayak jwbnya mb retno.

    "Kucing...klo nikah..kan nggak bilang sma kita .."



    kucingku malah nggak pulang. Katanya raka, terakhir2 suka main di perumahan.. di sana banyak kucing.

    ReplyDelete
  5. Aku blm prnh dpt pertanyaan gitu krn anak2ku msh kecil mba :p. Tp suatu saa pasti mereka bakal ksh pertanyaan yg aneh2 juga. Makanya kdg kalo baca blog parenting, ada pembahasan gini aku ikutin tuh. Utk bekal kali aja ada pertanyaan yg sama ntr ditanyakan anakku :D.

    ReplyDelete
  6. Wiiih pertanyaan beraaat ini..beraaat. Untung bundanya punya trik menjawab

    ReplyDelete
  7. Anakku waktu kecil kok enggak pernah nanya kekgitu ya? Aduuuh, ini salah atau benar ya? Jadi galau akuuh sekarang

    ReplyDelete
  8. repot juga ya kalau ditanya anak begitu. dia kan tahunya kalau udah menikah baru punya anak, padahal kaaan... bukan menikah tidaknya tapi interaksi itu yang bikin punya anak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…