Skip to main content

Pacar


Gambar dari sini

"Pacare itu apa, Bu?". Pertanyaan itu akhirnya ditanyakan oleh anak sulung saya (TK, 5 tahun). Persiapan mental menghadapi pertanyaan 'aneh' akhirnya diuji juga, benar siap apa tidak?

"Pacar itu teman yang hubungannya melanggar hukum", jawab saya. "Hukumnya siapa? Hukumnya Alloh", sambung saya. Anak saya cukup kaget. Kok melanggar hukum? Saya sambung lagi, "Yang boleh itu adalah menikah. Kalau pacaran haram".

"Apa anak-anak boleh menikah?", tanya anak saya lagi. "Tidak boleh, Mas. Hanya orang dewasa yang boleh menikah".

Sampai di situ tampaknya anak saya cukup puas. Tapi...pertanyaan masih berlanjuuut...

Beberapa hari kemudian anak saya bertanya lagi. "Kenapa pacaran itu melanggar hukum Alloh?". "Karena pacaran itu perbuatan zina, Mas. Dan kita dilarang untuk mendekati zina karena zina itu perbuatan keji", kata saya. Untung saja anak saya tidak bertanya zina itu apa. Mungkin itu jadi pertanyaannya selanjutnya. Siap-siap!

"Keji itu apa, Bu?". Wah, saya dikejar terus. "Keji itu perbuatan yang kalau dilakukan, kita jadi tidak terlihat seperti manusia". Nah, lho. Rumit, kan? "Misalnya makan tanah. Makan tanah itu perbuatan manusia atau bukan?", kata saya. "Bukan", jawab anak saya.

"Itu ada dalam Al-Quran, Mas. Di surat Al-Isra", kata saya. Sedikit-sedikit sambil saya kenalkan kepadanya kalau segala hal itu diatur oleh Alloh yang disampaikan dalam Al-Quran. (Sebelumnya saya pahamkan kepada anak saya bahwa Alloh berbicara kepada makhluk-Nya lewat Al-Quran, sebab manusia tak bisa melihat Alloh di dunia).

“Dan janganlah kamu dekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ [17]: 32).

Meski sudah dipahamkan dan tampak mengerti, tetap saja anak saya itu berkata kalau pacarnya adalah si X, teman sekelasnya. Sepertinya karena ibu guru sering mendudukkan mereka  berdampingan sebab kalau dekat dengan sesama lelaki anak saya biasanya ribut dan bertengkar. Bisa jadi karena seringnya dijejerkan itu teman-temannya mulai meledeknya.

Ledekan teman itu menjadi perhatian saya. Seringkali orang dewasa pun meledek anak kecil dengan ledekan seperti itu. "Itu pacarmu, ya?" atau "Kata temanmu, pacarmu si Anu, ya?" atau sekedar "Ihiiiiy..." saat melihat anak lelaki dan anak perempuan sedang bersama. Menurut saya itu tidak mendidik. Orang dewasa selayaknya menghindari begitu. Kalau orang dewasa berbuat seperti itu bisa-bisa anak menganggap pacaran itu sesuatu yang menarik karena mengundang sensasi dan perhatian.

Hhh...pacar, ya? Saya sih maklum saja. Kalau anak sudah bersekolah hampir bisa dipastikan akan bicara yang 'aneh-aneh', yang tidak diajarkan orang tuanya. Semakin luas pergaulan, makin luas kosa kata dan perbendaharaan pengetahuan seseorang. Pertanyaan 'aneh' anak berarti ia mulai berkembang. Saya hanya bisa berusaha tenang menjawab dan membatasinya tanpa terlihat memaksa.

Comments

  1. Keren postingannya, nampaknya anak saya beberapa tahun lagi akan menanyakan hal yang sama, kenapa anak kecil sering ngasih pertanyaan yang bikin orang tua garuk2 kepala. kayak pas ponakan aku nanya,
    "Om ko tante Cin bisa hamil?"
    Sumpah ini susah jelasinnya :D

    ReplyDelete
  2. dulu kita juga gitu mas, hehe...cm kl sekarang orang tua sdh lbh terbuka ya, walau neranginnya sambil jaga mimik wajah biar anak ga makin penasaran.
    anak sy jg pernah tanya kok bisa hamil. sy bilang itu titipan dari Alloh. alhamdulillaah, untungnya anak saya sdh puas dijawab begitu.

    ReplyDelete
  3. Bener lho Mbak...yang namanya anak sudah bersekolah dan mengenal dunia luar istilah "pacar" tentu sudah tidak asing lagi ya....

    ReplyDelete
  4. Saya waktu SD kelas 3 pedenya ngaku kalau punya pacar :D wkwkwk ...itu jaman bahela loh..apalagi jaman sekarang ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.