Skip to main content

UGM, Ke Sanalah Saya Ingin Kembali

Sepuluh tahun sudah saya meninggalkan Jogja. Menjadi orang luar Jogja dan hanya bisa menengok kampung halaman tercinta ini beberapa kali dalam setahun. Tak mengapa. Momen pulang kampung adalah suatu anugerah karena jika tak pernah berjauhan, mungkin sulit merasakan rindu untuk berdekatan.

Momentum pulang kampung yang termutakhir, kami manfaatkan untuk berkeliling kota Jogja ke tempat selain tujuan wisata. Sasaran kami pada liburan lebaran lalu adalah keliling UGM! Ya, mengunjungi Universitas Gadjah Mada, tempat saya pernah menimba ilmu di sudut Timur Lautnya.

Kunjungan kami ke sana menjadi ajang memupus rindu dendam saya pada Kampus Biru ini. Menyaksikan kemegahan bangunannya, luasnya jejeran fakultas, rimbunnya pepohonannya, lengkapnya fasilitasnya, anggunnya masjidnya.

Saya memuaskan diri menelusuri tiap sudut UGM yang pernah saya singgahi, yang merekam jejak hidup seorang Diah Dwi Arti. Ah, sulit rasanya merangkai kata jika sudah melankolis begini.

Meski begitu, sayang sekali kami sekeluarga hanya bisa menikmati memori penuh haru-biru itu dari luar saja. Kenapa? Apa karena kampus UGM sekarang sudah dipagari semua?

Iya, tapi ada sebab lain yang cukup konyol untuk diceritakan. Tapi, baiklah, saya sampaikan di sini.

Masuk Ke Lingkungan Kampus UGM Lewat Mana?

Bunderan UGM cukup sepi kala itu. Maklum, masih bulan puasa. Kampus UGM sudah memasuki masa libur lebaran. Kami sekeluarga memutari Bunderan, berbelok ke Utara dengan maksud masuk lewat pintu gerbang.

Berhubung belasan tahun lalu saat saya baru lulus, Kampus Ndeso ini tak berpagar, saya ragu untuk melanjutkan masuk. Ada satu mobil di depan kami yang mungkin juga bertujuan sama. Kami mengikuti mobil itu. Eh, ternyata mobil itu berbelok tak jadi masuk lewat portal yang berpenjaga. Ragu-ragu, kami pun ikut balik kanan.

"Jangan-jangan pakai kartu tanda anggota," kata saya tak yakin.

"Ya sudah. Keliling lewat luar saja," itu keputusan suami saya.

Jauh-jauh dari Madiun, gagal keinginan saya melalui Boulevard UGM dan berfoto di sana. Padahal saat itu langit cerah biru. Sungguh cantik diajak berfoto bersama mengulangi foto saya 17 tahun lalu ini:

Universitas-Gadjah-Mada
Foto dengan kamera manual (2001)

Tak bisa masuk, berarti cita-cita saya memandang dari dekat gedung Balairung UGM juga sirna. Dulu saya sempat berfoto di sana lengkap dengan toga sarjana kebanggaan. Balairung yang gagah dipadu langit biru nan ceria dan senyum bahagia kala itu sungguh patut diulang kembali. Mengambil lagi jejak yang tertinggal di tangga berpagar merah itu. Masih pantas, kan, walau saya sudah menjelma menjadi ibu-ibu?

Balairung-ugm
Balairung UGM (ugm.ac.id)


Sekembalinya dari Jogja, saya bertanya di grup WhatsApp alumni tentang cara masuk ke kampus UGM versi zaman now.

Ternyata, oh ternyata, masuknya itu ya lewat portal-portal yang ada.

"Perlu ninggal sesuatu, ga?" tanya saya di grup.

Siapa tahu harus ninggal KTP atau apa begitu.

"Nggak," jawab seorang teman.

"Pas masuk diberi karcis. Nanti pas keluar tinggal diserahkan lagi."

Ooo...begitu aturannya.

UGM, Sungguh Saya Ingin Memotret Kenangan Yang Baru Di Sana


Sungguh, jika bisa ke sana lagi saya harus membawa kamera yang mumpuni. Rasanya ingin membuat foto 'before-after' tapi minus teman-teman saya. Tak apa, nanti bisa saya bagikan kepada mereka lewat media sosial. Sebagai bonus, saya bisa menambahkan video juga biar tak hanya foto yang berbicara soal rindu.

Cekrak-cekrek dan syuting di UGM bersama keluarga, semestinya tak sulit. Tak perlu pakai kamera segala, cukup dengan ponsel. Asalkan ponselnya punya kamera yang andal dan punya ruang penyimpanan yang besar biar acara ambil foto dan videonya tak terkendala. Dua itu saja deh, bagi saya sudah cukup. Sederhana, ya?πŸ˜„

Menenteng Huawei Nova 3i rasanya pas untuk ini. Kameranya, Quad AI Camera, merupakan kamera cerdas, alias sudah memiliki Artificial Intelligent. AI ini bisa membuat jepretan saya yang amatiran terlihat profesional. Asyiiik...

Empat kamera pendukungnya lebih banyak difokuskan pada kamera selfie. 24 MP plus 2 MP di depan; 16 MP plus 2 MP di belakang. Wuih...terbayang besarnya ukuran fotonya nanti.

Tapi, tenang. Penyimpanannya luar biasa kok. 128 GB! Masya Alloh...saya bisa merekam banyak video di UGM nantinya lalu saya unggah ke channel YouTube saya.

Untuk video, sebelum diunggah, saya biasa pakai aplikasi edit video. Ya, dipotong dulu bagian yang kurang bagus, di-voice over, ditambahi judul dan juga teks pendukung lain. Nah, untuk keperluan ini Huawei Nova 3i bisa diandalkan, sebab performanya saja sudah dilengkapi dengan GPU Turbo yang cocok untuk bermain game! Kalau cuma untuk urusan edit video sih keciiil.

Terbayang dong powerful performance ponsel ini? Buat blogger yang juga ngaku vlogger seperti saya, ini sih sudah mumpuni banget. Bisa buka beberapa aplikasi bersamaan tanpa lemot. Yes!

Tampilan Huawei Nova3i ini juga cantik. Premium design. Warnanya biru-ungu neo gitu, ada Iris Purple-nya. Warnanya berani, ya. Buat perempuan, elegan. Buat laki-laki, keren. Nyaman digenggam plus layar full view berdiameter 6,3 inci. πŸ˜š

Universitas-gadjah-mada


Memang, ya, di masa sekarang ini punya ponsel dengan performa mantap itu bukan sekadar impian belaka. Bisa terwujud bahkan dengan biaya yang masuk akal. Huawei Nova 3i dengan segenap keunggulannya ini termasuk smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128 GB.

Aduh, saya masih mengkhayalkan 128 GB plus GPU Turbo itu. Sedap!

Bukan Hanya Kenangan Yang Kami Cicipi Di UGM, Tapi Kami Juga Menanam Harap Di Sana

Misi kami menelusuri UGM bukan hanya soal romantisme masa lalu. Kami punya tugas lain, yakni menanam harapan di sana bagi penerus kami: si Tiga D.

"Ini kampus UGM. Kampus terbesar di Jogja dan salah satu kampus terbaik di Indonesia." Demikian kami memanas-manasi jagoan-jagoan kecil kami.

"Lihat gedungnya. Itu laboratorium, di sana gedung olah raga, itu perpustakaan, di sebelah sana gedung untuk wisuda, itu masjidnya."

"Mau belajar apa, tinggal pilih. Banyak jurusan tersedia di sini."

Begitulah perjalanan kami hari itu disisipi dengan harapan, dorongan dan doa. Siapa tahu, anak-anak kami bisa juga belajar di UGM.

"Dan yang paling penting, Nak. Kalau kamu kuliah di sini, tidak usah ngekos. Cukup nginap di rumah Eyang saja."

Ya, bagaimanapun pada akhirnya faktor ekonomi ikut bicara.

Teman-teman ada juga yang punya kenangan di UGM? Manis atau manis? πŸ˜„Boleh dong berbagi cerita serunya di sini. Saya tunggu lho. Yuk, yuk.



Comments

  1. Muleng dengan 128 GB....dan ga bakalan ketemu lagi dengan notifikasi "ruang penyimpanan and hampir penuh. ."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh lis. Paling sedih ketemu sama kalimat itu. Mbok yao bikin kata-kata lain gitu ya. Misalnya, "ruang penyimpanan masih banyak lho. Mau simpan memori masa lalu apa masa depan?" *eh*

      Delete
  2. Replies
    1. Iya, mbak. Walau sekarang tampilan boulevardnya sudah beda banget, tapi tetep pingin berfoto di sana.

      Delete
  3. Jadi ceritanya bernostalgia nih mba hihi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Satu-satunya cara masuk ke UGM lagi ya cuma itu. πŸ˜„

      Delete
  4. Aduh, jadi baper deh mba. Sayang banget ya gabisa foto, saya kan jadi penasaran perbedaan antara foto jadul sama yang baru hihi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga, mbak. Sudah optimis karena pasti kampus lagi sepi karena liburan. Eee ga tahunya ga bisa masukπŸ˜…πŸ˜…

      Delete
  5. Wah recomended banget sih Huawei Nova 3i ini, fitur kamera dan memorinya benar-benar modern sekali ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamera dan memori, cuma itu yang saya perlukan dan keduanya ada di Nova 3i.

      Delete
  6. Aduh pasti ser banget deh mbak zaman-zaman masih kuliah dulu ya. Apalagi di kampus seterkenal itu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang, mbak. Walau setelah lulus tetap harus berhadapan dengan realita πŸ˜…

      Delete
  7. Memang keren banget sih Huawei Nova 3i ini, tampilannya yang begitu elegan dan kelebihannya yang lumayan banyak membuat siapapun ingin memilikinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Warnanya mengesankan kemewahan, ya.

      Delete
  8. 128 GB ya?? Wah kebayang itu aya bisa nyimpen vidio berapa banyak hihi :D
    Keren banget deh pokoknya Huawei Nova 3i ini.

    ReplyDelete
  9. Tetangga Saya dosen disana dan hampir semua ponakannya kuliah disana.

    Kalau udah kuliah di UGM kayaknya kok keren banget gitu ya mbak. 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jurusan apa, mbak tetangganya?

      Bagian dari sejarah hidup, mbak πŸ˜ƒ

      Delete
  10. tempat yg memiliki kenangan tak terlupakan, membuat kita ingin kembali kesana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Apalagi kalau kuliahnya 5 tahun lebih 😁😁

      Delete
  11. Waaa,alumnus UGM...
    Semoga impian ke kampus bawa Huawei Nova 3i terwujud,Aamiin

    ReplyDelete
  12. Perasaan saya kiranh lebih sama, Mbak terhadap almamater. Padahal sekota lho tapi koq setiap melihat/melintas atau masuk, koq ya rasanya mengharu biru gitu. Nostalgia 90-an berputar kembali di memori trus bawaannya mau motret saja πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, mbak. Dulu pas masih di Jogja dan UGM belum dipagari, kadang menyempatkan diri masuk kampus dulu πŸ˜ƒ

      Delete
  13. Wuaaaa hasil jepretan kamera manualnya lucu ya
    mukanya nggak kelihatan. hehe

    semoga bisa berkunjung kembali ke UGM ya. foto2 di sana sepuasnya pake huawei, hehe

    ReplyDelete
  14. Waahhhh.... seneng ketemu alumnus kampus yang samaaa, bedanya aku masih di jogja aja mbak, nggak pergi kemana-mana,,,
    .
    Kalau back to campus, jangan lupa bikin stok foto banyak...
    .
    .
    Kunjugi rumah maya ku juga ya mbak, makasih... :)

    ReplyDelete
  15. Banyak orang bilang Anak UGM itu pinter pinter banget, pemikiran kritis. Apalah saya yang cuma anak lulus STM ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…