Ketika Anak Super Aktif Dinilai Sebagai Anak Hiperaktif

"Mbak, cucu saya udah besar tapi belum sembuh-sembuh. Gimana caranya biar anak hiper (aktif) bisa sembuh? Kok Damar bisa?"
Percakapan tentang mengatasi anak hiperaktif tiba-tiba dimulai saat sopir yang mengantar saya melihat perubahan pada perilaku anak sulung saya. Anak saya itu, kata orang, dulunya pas masih kecil hiperaktif. Tidak bisa diam, bergerak ke sana-ke mari dan cenderung tidak tahan untuk tidak mencoba hal baru. Gampangnya, anak saya itu bisa disebut sulit diatur. Kalau dilarang malah dikerjakannya larangan itu.

"Umur berapa cucunya?"

"Kelas 2 SD," jawab pak sopir.

Hmm...sepantaran anak saya.

"Laki-laki apa perempuan?"

"Laki-laki."

"Oh, ya mungkin belum, Pak. Sabar aja. Mungkin kelas 4 nanti baru bisa anteng," jawab saya.
Saya tidak pakai teori sih, tujuan saya supaya pak sopir tenang dan yakin bahwa masih ada harapan 'sembuh'. Padahal dalam hati saya bertanya-tanya, cucunya itu hiperaktif atau super aktif? Setahu saya anak yang digolongkan hiperaktif itu memiliki masalah dengan daya konsentrasinya dan memiliki kecenderungan destruktif. Si cucu pak sopir ini, saya tidak tahu, punya ciri seperti itu atau tidak.
Sewaktu anak sulung saya belajar di PAUD dan TK, tidak jarang ada yang menyebutnya sebagai anak hiperaktif. Sebabnya anak saya itu lebih suka bertindak 'semau gue' dan punya ketertarikan luar biasa pada alat-alat elektronik. Sebetulnya sakit juga hati ini dengar anak disebut sebagai anak hiperaktif, soalnya saya tidak merasa anak saya ini punya gangguan perilaku. Bukan karena dia anak saya yang wingka katon kencana lho ya, yang selalu terlihat bagai sebongkah emas padahal cuma sekeping tanah liat keras. Bukan. Tapi karena saya sudah pernah baca bahwa anak hiperaktif itu memiliki ciri khusus dalam perilakunya.


Menurut Sani B. Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Jakarta yang dikutip kompas.com *), hiperaktif bukanlah super aktif. Hiperaktif atau ADHD memiliki kesulitan dalam berfokus pada suatu pekerjaan, cenderung destruktif dan impulsif (mengulang-ulang pekerjaan tanpa tujuan jelas) dan intelektualitasnya kurang karena menangkap informasi hanya sepotong-sepotong akibat sulit berfokus pada satu hal. Sedangkan anak super aktif bisa berkonsentrasi pada satu hal, tidak destruktif dan tidak impulsif serta memiliki intelektualitas yang baik.
Memang anak sulung saya itu ketika di PAUD dan TK jarang mau mengikuti kegiatan atau arahan guru. Dia lebih suka mengerjakan sesuatu yang menarik minatnya. Masuk kelas pun dia lebih sering ogah-ogahan. Bermain juga dia pilih-pilih teman. Tapi anak saya belum pernah marah (baca: mengamuk) di sekolah tanpa ada pemicunya. Berhubung anak saya lebih suka bermain sendiri atau dengan sedikit teman, seringkali dia dijadikan sasaran tembak oleh anak-anak yang iseng. Untunglah salah satu ibu guru di TK, Bu Yuli namanya, paham betul dengan perilaku anak saya itu. Tiap jam istirahat beliau selalu menyisihkan waktu untuk mengawasi anak saya kalau-kalau diganggu temannya. Duh, Bu Yuli memang perhatian sekali. Terima kasih, Bu.
Pernah suatu ketika saya bertemu orang tua teman TK Damar. Sapaan pertamanya adalah, "Gimana, Mbak? Damar udah sembuh?" Saya sempat bengong, anak saya nggak baru saja sakit kok? Ternyata yang dia maksud adalah 'sembuh' dari kehiperaktifannya.
"Oooh... Ya, alhamdulillaah," jawab saya.
Jujur saja, ada rasa sedih. Beberapa orang tua murid di TK dulu ada yang sering bertanya kepada saya, "Nanti kalau sudah SD gimana?" Mereka meragukan anak saya. Huhu...sedih... Saya jawab saja, "Insya Alloh bisa," meski dalam hati ada keraguan juga.
Namun perubahan besar terjadi ketika dia masuk SD. Di hari pertama sekolah saya dag-dig-dug. Jangan-jangan nanti dia nggak mau masuk kelas, mogok belajar dan pulang. Kebetulan sekolah sangat amat dekat dengan rumah. Cuma tiga menit jalan kaki sudah sampai. Ternyata tidak! Hari pertama di SD berjalan mulus. Alhamdulillaah. Bahkan hari-hari selanjutnya dia bersemangat ke sekolah. Saya saaangat terharu.

Apa Yang Sebenarnya Terjadi Pada Dia Yang Super Aktif Itu?

Pada perenungan saya, saya menemukan ada dua hal yang memicu perubahan pada anak saya. Pertama, kesiapannya berinteraksi dengan teman. Ketika masuk TK umurnya baru 4 tahun. Terlalu muda. Barangkali dia masih ingin bermanja-manja dengan orang tuanya tanpa dibebani kewajiban bangun pagi dan pakai seragam.
Kedua, kegiatan belajar di SD lebih menantang baginya. Kegiatan di TK seperti menggambar, mewarnai, bernyanyi dan menari kurang memikat anak saya. Dia memang suka menggambar, tapi menggambar 'teknik' bukan pemandangan alam atau binatang.



Gambar instalasi AC di rumah




Gambar transmisi sepeda motor lengkap dengan sistem rotarinya




Gambar desain mesin entahlah. Saya juga nggak paham

Sedangkan di SD mulai ada pelajaran berbau teknik seperti IPA dan PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup) yang jadi mata pelajaran kesukaannya. Di kedua mata pelajaran itu dia bisa menangkap ada kata-kata seperti 'daur ulang' dan 'energi' yang kerap dipelajarinya dan mencuri perhatiannya.

Ya, Dia Memang Anak Super Aktif, Lalu Harus Bagaimana?

Dulu kadang saya merasa minder dan malu. Anak saya kok tidak bisa duduk diam ya, anak lain kok bisa. Tapi alhamdulillaah di masa sekarang ini informasi sangat mudah didapat. Saya kemudian membaca buku-buku parenting, bergabung dalam grup pengasuhan anak, berinteraksi dengan banyak orang tua yang juga punya anak super aktif.
Pada posisi ini saya tidak berani memberi banyak batasan kepadanya. Sebab makin dilarang, makin penasaranlah dia. Saya dan suami saya sering mengajak dia bertukar pikiran. Karena anak kami itu suka berlogika, kami pun main logika. Berpanduan pada sebab-akibat. Mengajak dia berpikir sebelum bertindak sebab pasti nanti akan ada akibat yang timbul, baik langsung ataupun tidak.
Berhasilkah kami mengendalikan anak kami? Oh, tentu tidak 100%, sebab anak terus berkembang. Tidak jarang akibat terlalu penasaran, anak kami mengalami masalah. Jatuh, terkilir, kesetrum dan macam-macam. Namun kami sangat berharap bahwa yang kami ajarkan, yakni pentingnya menimbang-nimbang sebelum bertindak akan dia ingat selamanya.

Anak Super Aktif Adalah Amanah Istimewa

Diamanahi anak super aktif itu ternyata anugerah. Mereka mudah menangkap informasi dan lebih cerdas. Seringkali mereka sangat kritis hingga melontarkan pertanyaan yang tak terduga.
Nah, jika anak kita dinilai sebagai anak hiperaktif padahal sesungguhnya mereka super aktif, jangan sedih. Saya bukan ingin menggurui, tapi hanya ingin mengajak para orang tua untuk menyelami mereka.
Sadarilah bahwa mereka itu normal, bukan sakit. Singkirkan perasaan ingin membandingkan. Mungkin mereka tidak unggul dalam banyak bidang, tapi mereka sangat menonjol di satu bidang karena keseriusan mereka berkonsentrasi pada hal itu.
Bisa jadi kita lelah menjawab pertanyaan dari orang-orang sekeliling tentang anak kita itu, tapi yakinlah bahwa itu berarti anak kita istimewa hingga orang lain ikut menaruh perhatian pada mereka.
Mungkin kita merasa kehabisan tenaga melayani pertanyaan anak kita, tapi syukurilah itu berarti daya pikir mereka berkembang sangat baik.
Mungkin kita tidak bisa sabar untuk mengerem rasa ingin tahu mereka yang tak jarang membahayakan diri mereka, tapi yakinlah itu karena mereka sangat ingin memuaskan rasa penasaran mereka.
Bersyukur dan menyadari mereka apa adanya mungkin bisa membantu kita memahami posisinya dan posisi kita. Mereka adalah permata dalam kubangan lumpur yang membutuhkan kita untuk mengentaskan mereka dan menampakkan kecemerlangan mereka.
Sebagai penutup, anak super aktif mungkin membuat kita kewalahan, namun mereka tetap anak kita. Di setiap munajat, doakan mereka agar menjadi penyejuk mata kita.
"Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan [25] : 74 )
*)http://regional.kompas.com/read/2009/07/16/12460644/beda.anak.hiperaktif.dan.superaktif
Dan tulisan ini merupakan collaborative blogging dengan tema: Fakta Tentang Anak Dalam Keluarga
Baca juga tulisan Liza P. Arjanto: Fakta Tentang Anak dan Titik Rawan Dalam Pernikahan

Comments

  1. Wah ibunya keren banget.. aku punya anak yang biasa aja suka keteteran nahan emosi. Suka gak sabar.

    ReplyDelete
  2. Mbak Liza: bukan keren, mbak. tapi pasrah, hehe... anak saya itu nggak bisa dinasihatin dengan cara biasa, bisa habis tenaga dan emosi saya kalau nurutin cara biasa. harus potong kompas ke logikanya. biasanya kalau dia 'kalah' adu logika dia baru mau membuka diri.

    ReplyDelete
  3. Damar kok ya gambarnya "teknik" banget tho mba... Klo anakku klo nggambar kok ya model game2 ngono.. Model2 komik...

    ReplyDelete
  4. Orangtua wal khusus sang ibu yang mengetahui bagaimana kondisi putra-putrinya ya Jeng.
    Terima kasih artkelnya yang bermanfaat
    Salam hangat dari Jombang, Jawa Timur

    ReplyDelete
  5. anakku juga aktif banget dan lincah, tapi untungnya banyak orang tua yang berkomentar positif, katanya anak aktif pertanda dia cerdas. jadi saya terima walaupun suka kewalahan juga sih.. jhehehe

    ReplyDelete
  6. Menarik banget sharingnya Mba. Buat saya yang belum berkeluarga bisa jadi bekal kalo nanti ketemu anak Super Aktif :)

    ReplyDelete
  7. HAhaha jadi ingat adik saya mba. Adik saya itu aktif banget hingga dibilang hiperaktf. Tapi itu saat dia mash balita saja. setelah masuk SD, malah lebih senang berdiam diri di rumah.

    ReplyDelete
  8. nah itulah ayng aku gak ngerti sama ibu2 suak ngejudge yg gak bener teruatam ibu2 yang jagain anaknay di sekolah ada saja buat mencela anak orang lain. Aku pernah senagaj aps libur ngajar duduk bersama ibu2 , aduh gak betah , kalau gak bicarain anak ornag lain atau ibu2 yang lain. Setiap anak punya kekhasannya sendiri dan tgt kita yang memahaminya. Makanya perlu satu kelas berisi sedikit anak agar guru bisa lebh perhatian

    ReplyDelete
  9. banyak yang gak paham bedanya lho mbak.
    anak2 saya meski bukan super aktif tp aktif luar biasa, ga bisa anteng..
    saya mikirnya gak papa yang penting sehat
    memang perlu pengetahuan khusus untuk para ibu soal anak aktif, super ktif, atau hiperaktif. spy ga salah menyikapinya juga

    ReplyDelete
  10. Duh, ini percis putriku dulu, Yasmin.
    Tak mau diam. Kalau Yasmin, pasti sesuatu telah terjadi, alias tidak enak badan. Jadi gampang banget memonitornya.

    Dulu Yasmin sangat terobsesi dengan tempat yang luas. Langsung doi berlari kian kemari. Tak perduli lagi.

    Namun seiring usia bertambah, dan hobinya mulai terarah, sekarang semua energi tercurah ke sana.

    Alhamdullillah kini Yasmin sudah remaja dan hobi jingkrak-jingkrak alis ikut komunitas modern dance di sekolah.

    Itulah kenapa dulu dia sering super aktif, energinya berlebih, Mbak.
    Hihihi...

    ReplyDelete
  11. Faris dulu juga hiperaktif.Alhamdulilah berkurang pas TK

    ReplyDelete
  12. anaknya hebat lho. Bakat dan minat udah ketahuan sejak kecil. Tinggal ortu yang mengarahkan supaya fokus di situ.

    ReplyDelete
  13. saya juga pernah ngalamin, ada teman yg anaknya aktif banget kayak anak saya. tapi teman saya malah bilangnya anaknya hiperaktif. saya yg bukan ibunya malah gak terima anak aktif dibilang hiperaktif. akhirnya saya kasih tau, perbedaan anak aktif dan hiperaktif, teman saya baru paham :)

    ReplyDelete
  14. wah,.jd pengen ketemu Damar..Macem Amir Khan di film 3 idiots mbak,.calon ilmuwan! udh pernah diajak.ntn film itu ga?

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts