Wingka Katon Kencana

"Awas! Aku bilangin mamaku!", teriak si bocah lelaki sengit.
"Bilangin aja! Emangnya aku takut?!", balas si bocah perempuan tak kalah sengitnya.
"Mamaaaa...!". Si bocah lelaki berlari masuk rumah.
"Huh! Dasar tukang ngadu!", sungut si bocah perempuan.
Tak lama setelah itu...
"Hei! Kamu apain anakku tadi?"
Mata melotot dan suara menggelegar menghentikan langkah bocah perempuan kecil itu. Si mama turun tangan rupanya.

#
Si bocah perempuan itu adalah saya yang sedang bertengkar dengan seorang tetangga, hampir 30 tahun lalu.
Si bocah lelaki itu anaknya bandel, suka nakalin temannya. Tapi giliran dibalas pasti langsung ngadu ke mamanya. Dan yang menyebalkan adalah sang mama kerap juga turun tangan membela si anak, padahal si anak yang salah. Saya ingat betul adegan dimarah-marahi oleh mama tetangga saya itu tadi di dekat mobil di depan rumah tetangga yang lain. Cuma masalah persisnya apa saya lupa. Yang jelas bukan saya yang salah. #ngelesdotcom

Rupanya mama tetangga saya itu sudah terkenal sering membela anaknya tanpa menilai permasalahannya terlebih dulu. Pokoknya anaknya ngadu, beliau maju.


Ketika saya sudah lebih besar, saya baru paham kalau mama tetangga saya tadi terkena sindrom 'wingka katon kencana'. Wingka (dibaca 'wingko' dengan bunyi 'ko' seperti pada 'pokok') artinya semacam pecahan genteng. Kencana artinya emas. Jadi 'wingka katon kencana' berarti pecahan genteng terlihat seperti bongkahan emas. Maknanya, hal yang biasa atau bahkan buruk selalu terlihat baik. Biasanya ini terjadi pada orang tua memandang anaknya. Senakal apapun si anak, bagi orang tua terlihat manis dan baik. Objektivitas menjadi hilang. Barangkali mirip 'right or wrong my country'. Pokoknya kubela, tak peduli benar atau salah.

Sebenarnya wajar saja jika orang tua langsung bereaksi membela si anak tatkala mendapat laporan dari si anak. Wajar sekali. Tapi orang tua juga harus mampu menahan diri, setidaknya menunda bereaksi keras. Tahan emosi, perjelas duduk permasalahan, baru menilau situasi lalu beraksi. Malu, kan, kalau ternyata anak sendiri yang salah.

Orang tua yang begini memberi peluang anak untuk berbuat seenaknya. Toh nanti ada yang membela, begitu pikir si anak nanti.

Bahaya yang timbul bukan hanya pada masalah perilaku, tapi juga pada kurangnya kewaspadaan terhadap segi lain seperti segi kesehatan. Kok bisa? Ya, bisa. Contohnya sebuah kisah yang dialami ibu saya.
Pernah suatu ketika ibu saya memergoki seorang anak yang kelebihan berat badan dan bernafas tersengal-sengal. Jangan-jangan anak ini kena gangguan penyakit jantung, pikir ibu saya. Lalu ibu saya pun menyampaikan kepada orang tuanya, tapi ditanggapi negatif oleh orang tua si anak. Sang orang tua berpendapat bahwa anaknya sehat-sehat saja, tidak kelebihan berat badan, tidak ada gangguan pada jantungnya. Bertahun-tahun kemudian si anak itu makin kelebihan berat badan dan benar, ia menderita lemah jantung.

Ada juga kisah tetangga yang anaknya terlibat pergaulan bebas. Ketika si orang tua diingatkan, mereka tak percaya. Akhirnya, karena orang tua yang teledor, si anak terpaksa kehilangan masa mudanya akibat hamil di luar nikah.

Tentu banyak contoh yang bisa kita dapati. Bisa jadi kita pun merupakan orang tua yang berprinsip wingka katon kencana. Lalu bagaimana agar kita terhindar dari sikap seperti itu?

Pertama, sadarilah bahwa kita dan anak-anak kita hanyalah manusia biasa yang dikaruniai sifat lemah dan mudah lupa.

Kedua, bekali diri dan anak-anak dengan akhlak mulia. Tanamkan perasaan bangga bersikap baik dan malu jika berbuat buruk.

Ketiga, jalin komunikasi yang sehat dengan anak-anak, sehingga jika ada berita buruk tentang anak yang kita terima, kita bisa melakukan cross-check kepada si anak. Anak yang terbiasa terbuka kepada orang tuanya tentu akan bisa berkata jujur tanpa takut dimarahi.

Keempat, jangan berkata apa pun saat ada aduan buruk tentang anak kita. Beri waktu kepada hati untuk mendengarkan berita itu seutuhnya, baru lakukan penilaian. Reaksi pertama saat baru mendengar berita biasanya merupakan reaksi pembelaan diri, yang bisa jadi keliru.

Akhirnya, anak memang permata hati orang tua. Tanpa disuruh pun orang tua akan memandang baik terhadap anak-anak mereka, karena sesungguhnya “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah  kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.( QS. Ali Imran : 14 ).

Sedangkan anak-anak adalah ujian. “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”( QS. At Taghabun : 15 ) Ujian yang tak nampak sebagai ujian, bukan?
Semoga para orang tua dianugerahi kebijaksanaan sehingga dapat memandang anak secara objektif dan mampu membimbing anak menjadi insan yang mulia.




Comments

  1. pecahan genteng kalo di tempatku namanya "berangkal" ,, gjehehe

    ReplyDelete
  2. ada juga yg namanya kreweng mas. hehe

    ReplyDelete
  3. Susah susah gampang ya mendidik anak. Maunya mengayomi terus. Tetapi kalau kurang objektif memang jadi bisa menjerumuskan si anak sendiri spt pepatah wingka katon kencana tadi.

    ReplyDelete
  4. susah mbak Uniek. soalnya kita sbg ortu maunya anak kita ideal spt yg kt cita2kan. kl dengar kabar buruk rasanya pasti tak percaya. semoga anak2 kita bukan anak yg membuat kita kena sindrom wingka katon kencana dan bukan pula anak2 yg mengecewakan orang tua mereka. aaamiiin.

    ReplyDelete
  5. "Semoga para orang tua dianugerahi kebijaksanaan sehingga dapat memandang anak secara objektif dan mampu membimbing anak menjadi insan yang mulia." Amin ya robbal alamin.

    ReplyDelete
  6. aaaaamiiiiin. betul mas Adi. mjd orang tua itu harus bnyk bersabar.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts