Macam-macam Ucapan Maaf Saat Idul Fitri

Postingan pertama usai lebaraaan! Alhamdulillaah akhirnya bisa publish juga setelah sekian drama terlewati. Apa kabar teman-teman semua? Sudah selesai menikmati liburannya? Ada cerita seru apa?

Kalau saya baruuu saja selesai ikut acara halal bil halal di lingkungan RT. Ada jajanan, makanan (baca: nasi), es blewah dan tausiyah. Nah, di sela tausiyah ini saya dapat bahan tulisan: macam-macam ucapan maaf saat Idul Fitri. *Makasih, Pak Kyai.* Di acara itu saya sempatkan buat draft kasarnya lalu saya selesaikan di rumah. Agak terganggu juga pas mau selesaikan tulisan ini gara-gara setel TV dan tahu ada teror di Nice, Perancis yang menyebabkan setidaknya 84 orang termasuk anak-anak meninggal dunia. Kenapa manusia suka membunuh sesamanya?

Kembali ke macam-macam ucapan maaf saat Idul Fitri. Apa aja, apa aja? Yuk, simak...

Lepat Kula
Di Madiun sini orang punya kebiasaan minta maaf saat bertemu. Duh, bagus banget, ya. Biasanya sambil salaman dan cipika-cipiki orang mengucapkan, "Lepat kula" dengan nada merendah. Ada juga versi lain yaitu "Patan Kula". Keduanya sama aja sih, berasal dari kata yang sama: kalepatan kula (kesalahan saya). Maksudnya tentu saja mohon maaf atas kesalahan saya, gitu. Biar ringkas aja maka diucapkan "Lepat Kula" atau "Patan Kula".

Kalau ketemu yang beginian kita jawab apa? Biasanya saya cuma bilang, "Sami-sami." Nah, kalau pas lebaran, bisa dijawab panjang, "Semanten ugi kula" (demikian juga saya).

Sepurane
Pertamaaa kali dengar kata "Sepurane" ini pas saya berkawan dengan orang Ngawi, Jawa Timur. Sempat bingung juga maksudnya apa saat teman saya itu bilang "Sepurane". Emang ada sepur (kereta api) lewat? Ternyata "Sepurane" itu masih saudara dengan "Ngapura". Oooh. Maksudnya ya sama sih, mohon maaf. Kalau pakai bahasa halus, "Sepurane" berubah jadi "Sepuntene".

Minal Aidin (wal Faizin)
Kalau yang ini rasanya sudah umum sekali, ya. Bahkan di spanduk-spanduk juga ini yang dipakai. Ketemu orang pas lebaran juga biasanya pada ucapkan ini. Sambil salaman, "Minal Aidin." Di Jogja banyak orang memakai kata ini. Ada yang lengkap, ada yang tidak.

Lahir Batin
Versi lain dari "Minal Aidin" adalah "Lahir Batin". Berasal dari "Maaf Lahir dan Batin". *Jadi ingat kartu lebaran* Nggak tahu kenapa lahir-batinnya yang disebut bukan maafnya. Barangkali kalau "Maaf" saja kurang berasa lebarannya hehe... Yang penting maksudnya tersampaikan, gitu barangkali.

Kosong-kosong
"Kosong-kosong, ya." Wah, ini versi paling tidak formal dari ucapan maaf saat Idul Fitri. Biasanya diucapkan kepada sesama teman dengan nada sedikit bercanda. Maksudnya tentu minta agar kesalahannya dihapuskan biar keadaan kembali ke titik nol. Kosong. Nihil.

Macam-macam ucapan maaf saat Idul Fitri tersebut tadi umumnya disampaikan dalam keadaan kurang longgar seperti pas halal bil halal se-RT, reuni se-sekolah, open house, lebaran satu trah, dsb. Banyaknya orang yang harus disalami, singkatnya waktu memaksa orang untuk mengucap maaf dengan sesingkat mungkin.

Sedangkan kalau keadaan lebih lapang biasanya orang mengucap maaf dengan lebih terperinci bahkan diiringi doa. Momentum sungkem kepada orang tua biasanya seperti ini (saya masih sungkem ke orang tua kalau lebaran) Biasanya yang lebih tua mengucapkan, "Orang tua banyak salahnya. Kurang sabar," lalu yang lebih muda menjawab, "Apalagi yang muda. Sering nekat," dan semacamnya.

Ucapan saat Idul Fitri juga tidak perlu diperdebatkan mana yang salah dan mana yang betul. Asalkan maksud tersampaikan dan dimengerti, itu sudah cukup.

Minta maaf juga tidak perlu dirinci kesalahannya jika dikhawatirkan menbuka aib, membuka luka lama dan menimbulkan ketidaknyamanan. Misalnya sambil halal bil halal kita sebutkan, "Mbah, maaf ya, dulu sepuluh tahun yang lalu saya mencuri timun di ladang Mbah." *kancil nyolong timun* Nggak usah. Nanti malah si Mbah ingat kekesalannya lalu jatuh sakit. Repot, kan. Aib yang sudah ditutupi oleh Alloh hendaknya jangan dibuka-buka.

Bagaimana kalau yang dimintai maaf sudah meninggal dunia? Menurut Pak Kyai semalam, kita bisa mendoakan dan beramal atas namanya. Misal sedekah atas nama orang tersebut. Mudah-mudahan Alloh berkenan menghapus kesalahan kita itu.

Itulah secuplik macam-macam ucapan maaf saat Idul Fitri. Teman-teman punya cerita serupa?

Di akhir tulisan ini perkenankanlah saya mengucapkan "Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin".

Comments

  1. Intinya sama saja memang, hanya saja, orang jawa punya tatanan tersendiri untuk berbicara dengan lawan bicara. Sepurane biasanya digunakan dengan teman sendiri, mungkin juga bisa ditambahkan dengan Taqabbalallahu minna wa minkum yang artinya semoga Allah menerima amal kami dan kalian. Salam kenal :D

    ReplyDelete
  2. Sami-sami mbak.. Versi yang paling ringkes klo pas lebaran sebagai wujud/simbol bermaafan yaitu salaman... :-D

    ReplyDelete
  3. Mas Edwin: betul, Mas. ada tata krama di mana-mana, ya. salam kenal juga. saya udah mampir ke 'unjung'.

    Sulis: sayangnya kita ga bisa salamaaaan... :-D

    ReplyDelete
  4. Kalau umumnya biasanya minal aidzin walfaidzin ya mbak, tapi kalau yang beda mungkin sesuai daerahnya mungkin mbak tapi walaupun beda makna dan artinya sama dan tujuannya juga sama.

    ReplyDelete
  5. walau telat, saya pun ingin mengucapkan hal yang sama Mba :)
    Selamat Idul Fitri 1437 H, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan bathin :)

    ReplyDelete
  6. Orang lama atau orang daerah itu kosa katanya sangat banyak, ucapan bisa macam2. Orang modern kosa katanya terbatas karena kurang bacaan, kebanyakan medsos heheheee. Mohon maaf lahir batin ya mbak.

    ReplyDelete
  7. saya jadi tambah tau. makasih sharingnya mba... :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts