Pendekar Dan Masalah Kucing Piatu

Sedari kecil saya suka kucing dan sering memelihara kucing. Kebanyakan sih kucingnya datang sendiri ke rumah, disambut, dipiara lalu beranak-pinak. Jadilah beberapa generasi kucing.
Ketika pindah rumah pun, selalu ada kucing yang kemudian jadi peliharaan sekeluarga. Entah kenapa kucing-kucing itu memilih kami. Konon karena ada aura penerimaan yang hangat terhadap kucing. Halah. Ya, turun-temurun juga mungkin. Bapak saya dulu waktu kecil juga punya kucing. Jadi, ya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, lah.
Kucing saya yang terakhir, spesial sekali, namanya Pendekar.
Pendek dan kekar. Dia juga datang sendiri ke rumah waktu malam. Masih kecil, mengeong-ngeong. Bulunya loreng-loreng oranye-coklat. Ah, kucing piatu yang malang. Siapa sih yang tega membuang bayi mungil seperti ini?

Pendekar mirip yang ini, cuma lebih riang.
Gambar dari http://asmahwahabpgsr.blogspot.in/2012/07/binatang-peliharaan.html
Yang sangat berkesan dari Pendekar ini adalah ia sempat dirawat dokter. Dokter hewan tentunya. Seumur-umur baru sekali itu saya bawa peliharaan ke dokter hewan. Ceritanya suatu hari Pendekar tidak mau makan. Ngeong-ngeong terus minta makan tapi tiap diberi cuma diendus-endus saja. Tubuhnya jadi kurus. Ludahnya sering menetes dan jari-jarinya merah-merah. Saya khawatir sekali. Saya periksa jarinya, tak ada luka. Lalu kenapa?
Setelah tiga hari, saya kasihan sekali kepadanya lalu saya putuskan bawa dia ke klinik hewan di wilayah Gambiran, Jogja. Pendekar saya masukkan tas cangklong dengan bukaan atas, lalu saya bawa ke klinik. Ya, maklum tidak punya kurungan khusus, tas pun jadilah. Ibu saya menyetir, saya membonceng di belakang.
Setelah sampai di klinik, Pendekar diperiksa dokter. Berat badannya ditimbang, temperaturnya diukur, kupingnya dicek, anus diperiksa, jari-jarinya juga. Tidak ada masalah. Terakhir, dokter membuka mulut Pendekar dan ... astaghfirulloh ... ternyata Pendekar sariawan! Sariawan besar di kanan dan kiri lidahnya! Ooo...pantesan, Sayang, kamu nggak mau makan...
Setelah diperiksa, dokter menginfus Pendekar lewat punggungnya. Alhamdulillaah, dia manut-manut saja. Oleh dokter, Pendekar diberi obat tetes mulut dan disarankan diberi makanan yang lembut dulu. Sepulang dari klinik, saya obati dia dan langsung terlihat ceria kembali. Alhamdulillaah.
#
Kenapa kok bisa kena sariawan, ya? Saya berpikir-pikir dan kesimpulan saya Pendekar kena sariawan karena kurang pertahanan tubuh. Jelas saja karena dia kucing piatu. Kucing kecil seharusnya dirawat induknya, tapi Pendekar tidak. Dia sudah dipisahkan dari induknya sejak kecil. Tentu saja asupan gizinya kurang. Ah, siapakah yang tega menyiksa makhluk-makhluk tak berdosa ini? Bukan cuma Pendekar yang menderita, induknya juga.

Sedih, Nak?
Gambar dari http://animalfriendsjogja.org/blog/merawat-dan-membesarkan-anak-kucing-piatu/
Kalau kurang sedih, sila baca artikel tentang kucing piatu di sini.
#
Kenapa kucing kecil sering dibuang? Katanya karena terlalu banyak kucing. Bikin repot. Ada juga yang tak suka punya kucing kampung sehingga kucing-kucing malang itu dibuang.
Terlalu banyak kucing? Kenapa tidak dikebiri saja kucingnya? Mahal? Kalau begitu coba pakai cara pengaturan kelahiran tradisional: diberi ragi tape pada pakannya saat musim kawin. Masih tak mau juga? Tawarkan kucing untuk dipelihara orang lain. Siapa yang mau? Okelah, setidaknya saat membuang kucing, pastikan kucing itu sudah cukup umur untuk mencari makan dan mengurus diri sendiri.

Comments

  1. kasihan juga kalau kucing yang masih kecil gitu dibuang ya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paling sedih kalo ada kucing dibuang trus ngeong-ngeong seharian. Kemarim malah di kompleks rumah saya ada dua yang dibuang. Semalaman ngeong-ngeong. Padahal di luar dingin habis hujan. Paginya sudah ga ada. Mungkin ada yang merawat.

      Delete
  2. Penyayang hewan kucing ini ya mbaak, aku trauma pernah kena cakar sekali jaman kecil.Hikks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Suka kucing dan disukai kucing. Hehe...wah traumanya terbawa sampai sekarang ya mbak.

      Delete
  3. Aku ga suka kucing, Mak. Tapi selalu saja kucing tetangga maen, nginep, dan beranak pinak di rumahku. Ga tau kenapa bs gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu ada auranya kali mak...hahaha...

      Delete
  4. Ada kucing putih yang juga sering nebeng tidur dan makan di depan rmh mbak. Tiap hari diuyel2, di naiki, dibopong2 ma Alya.Seneng kucing sbtlnya. Lucu liat hidung dan kumisnya, tapi ngeri klo baca katanya kucing bawa banyak penyakit....makanya kucing ga dibolehin masuk rmh ma suami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dinaiki Alya? Walah...kucinge pendeng no... Haha... Sama, di tempatku juga go boleh bawa kucing masuk. Anak-anak pingim miara, tapi di rumah sini ga ada tanah. Semua berkalang beton. :-(

      Delete
  5. Salut Mak, mau merawat Pendekar sampai dibawa ke dokter hewan. Kasihan juga sih ya sampai sariawan begitu. Terus, bagaimana kabarnya sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru sekali itu mbak bawa piaraan ke dokter dan sampe di klinik saya geli sendiri. Banyak kejadian lucu di klinik hewan ternyata. Pendekar sudah entah ke mana sekarang mbak. Sudah berkelana mencari ilmu, hehe...mentang-mentang namanya Pendekar.

      Delete
  6. kalau ngelihat kucing imut kaya gitu sedih.... dia teriak2 di pinggir jalan. cuma kalau di pup sembarangan jadi kesel :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau piara kucing memang harus punys ruang untuk BAB BAKnya. Kl saya dulu mengandalkan tanah di halaman rumah. Ya kayak manusia deh, kucing juga butuh fasilitas sanitasi :-)

      Delete
  7. Saya ng suka kucing mbak, pagi ini di bolu ketan hitam saya ada bulu kucing, akhirnya tu snack malah ng dimakan semua, habis sudah ilfeel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh kalo kena bulu ya jorok ya. Dikasihkan ke kucingnya malah ya.

      Delete
  8. aih ngomongin soal kucing, my roommate, anak-anak rusia pada suka banget sama kucing, sampai bela-belain beli loh haha, padahal kucing berkeliaran banyak di sekitaran asrama. dan sayanya malah nggak suka kucing *ditimpuk..

    salam kenal, Mbak :) kunjungan perdana sepertinya :)

    ReplyDelete
  9. lucu bangeeet...saya suka kucing tapi belum tertarik untuk meemlihara mak..ga kepegang

    ReplyDelete
  10. Dulu aku menolak steril, tapi setelah melihat banyak kucing dan anjing di jalanan, aku jadi pro steril. Ini juga berlaku buat hewan yang ada pemiliknya tapi dibiarkan berkeliaran, lebih baik steril aja, karena populasinya bisa gak terkontrol :( Poor pendekar, syukurlah sudah diobati ya :)

    ReplyDelete
  11. saya suka memberi makan kucing liar di sekita rumah tp tak pernah minat memeluhara secara khusus tp sepertinya hars belajar dalam waktu dekat karena si kecil saya selalu merengek ingin memelihara kucing dan saya menjanjikan jika dia sudah kelas 3 atau 4 sd boleh...*walaupun masih ga kebayang punya hewan peliharaan*

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts