Mengatasi Haid Tidak Kunjung Berhenti Pada Usia 40 Tahun. Bulan Februari kemarin adalah bulan yang mengharu-biru buat saya karena pada Februari ini saya baru pertama kali mengalami siklus menstruasi yang tidak normal.
Siklus yang tidak normal ini barangkali pemicunya adalah karena dimulainya proses perimenopause atau pre-menopause.
Perimenopause adalah sebuah tahap ketika seorang perempuan memasuki usia persiapan menuju menopause. Menopause sendiri artinya adalah berhentinya menstruasi.
Menurut beberapa artikel yang saya baca, proses menjelang menopause ini atau perimenopause ini bisa berlangsung hingga bertahun-tahun dimulai pada umumnya di usia akhir 40-an atau awal 50 tahun. Meskipun ada pula kemungkinan perempuan yang mengalami perimenopause awal yaitu di usia 30-an tahun, tetapi secara umum usia perempuan yang mengalami perimenopause adalah di sekitar usia 40 akhir hingga 50 tahunan awal.
Di usia menjelang 50 tahun ini, saya menyadari bahwa tubuh saya akan mengalami perubahan yang belum tentu saya pahami. Yang saya pahami dari perimenopause ini adalah mulai terjadinya siklus menstruasi yang tidak normal.
Bisa berupa interval siklus menstruasi yang semakin jauh, misalnya jarak antara menstruasi biasanya 28 hari kini bisa mundur jadi 60 hari; ataupun periode masa menstruasi yang menjadi lebih panjang, misalnya yang biasanya berlangsung 7 hari kini bisa mencapai lebih dari 15 hari.
Perimenopause?
Dimulai pada hari yang tidak pernah saya duga. Saya tidak mendapatkan menstruasi satu bulan penuh tepatnya pada bulan Desember 2025.
Namun saya tidak merasa khawatir hamil karena tubuh saya tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan seperti mual, pusing, muntah ataupun mengalami kenaikan berat badan atau juga suhu tubuh yang meningkat. Kebetulan saya menggunakan KB jenis IUD maka saya merasa percaya bahwa saya sedang mengalami memasuki masa perimenopause.
Akan tetapi karena sepanjang Desember itu saya tidak mendapatkan haid maka saya berinisiatif untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan di kota Madiun. Ketika saya memeriksakan di sana, dokter yang memeriksa menggunakan alat USG dan menemukan bahwa posisi IUD saya berada di dalam posisi yang aman dan tidak ada masalah dengan rahim saya. Disebabkan tidak ada problem, maka dokter tidak memberikan obat apapun kepada saya. Saya pun tidak tidak melakukan apa-apa untuk berusaha memperoleh menstruasi karena saya berpikir memang inilah yang terjadi ketika seorang perempuan memasuki masa perimenopause.
Setelah Tidak Mendapatkan Menstruasi Selama Sebulan
Namun ternyata ada sesuatu yang lain yang tidak saya duga akan datang. Sebagaimana kita ketahui di bulan Februari 2026 bulan puasa akan tiba. Maka ketika hingga pada akhir Januari 2026 itu saya belum mendapatkan menstruasi saya merasa senang karena saya berpikir bahwa, Alhamdulillah, nanti saya bisa puasa full satu bulan penuh.
Oiya, selama tidak menstruasi itu badan saya juga tidak menunjukkan gejala-gejala yang aneh. Saya merasa sehat-sehat aja dan baik-baik saja, bahkan mood saya juga sangat bagus.
Menjelang Januari berakhir sudah muncul bercak darah yang tidak terlalu signifikan selama beberapa hari. Ternyata bukan hanya bercak tapi benar-benar menstruasi seperti biasanya. Memang volumenya tidak sebanyak seperti haid biasa tetapi selalu keluar dan mengalir. Sifat mengalir inilah yang dalam ilmu agama dikategorikan sebagai haid.
Pada awalnya saya merasa baik-baik saja. Saya pikir ini mungkin hanya berlangsung 7 - 9 hari seperti biasanya. Tetapi setelah mencapai 15 hari ternyata tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan surut. Nah di sinilah saya mulai merasakan bimbang.
Bagaimana Bila Menstruasi Lebih Dari 15 Hari?
Saya belum pernah mengalami menstruasi lebih dari 15 hari. Rata-rata 9-10 hari. Yang saya bingung adalah bagaimana cara melaksanakan salat, sedangkan ibadah salat di dalam agama saya, agama Islam, adalah ibadah yang wajib. Seseorang yang meninggalkannya secara sengaja tanpa uzur maka dia berdosa. Maka saya pun mencari rujukan.
Bagaimana bila menstruasi lebih dari 15 hari? Ada dua pendapat dalam hal ini. Ada ulama yang mengatakan bahwa menstruasi seorang perempuan maksimal 15 hari lebih dari itu dianggap sebagai darah penyakit atau darah istihadhah. Apabila perempuan mengalaminya, ia tetap harus melaksanakan ibadah seperti biasanya yaitu salat, puasa dan bisa melaksanakan tawaf di Masjidil Haram. Bahkan kondisinya termasuk suci untuk melakukan hubungan suami istri.
Secara teknis, perempuan yang mengalami istihadhah ketika akan salat ia harus membersihkan kemaluannya dulu, kemudian menggunakan pembalut atau alat lain yang bisa menyumbat darah keluar. Kemudian berwudhu dan segera melaksanakan satu salat wajib dan boleh juga untuk salat sunnah. Wudhu pada keadaan ini hanya sah untuk satu kali sholat wajib dan beberapa salat sunnah. Misalnya pada saat Ramadan, bisa untuk salat isya dan salat tarawih sekaligus.
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa tidak ada dalil yang tegas menyatakan bahwa maksimal perempuan mengalami menstruasi adalah 15 hari, sehingga tetap harus menunggu sampai darah itu benar-benar berhenti. Sehingga perempuan tersebut tidak boleh salat, puasa, tawaf dan berhubungan intim.
Adapun jumhur ulama atau sebagian besar ulama mengatakan bahwa menstruasi pada wanita itu maksimal 15 hari, maka saya mengambil pendapat yang pertama.
Ke Dokter Lagi dan Dapat Obat Penghenti Haid
Setelah mencapai 25 hari, saya memutuskan untuk pergi ke lagi ke dokter kandungan tempat saya dulu periksa. Lagi-lagi saya diperiksa oleh dokter melalui USG dan dinyatakan bahwa rahim saya baik-baik saja, posisi IUD juga normal sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan tetapi kali ini dokter memberikan saya obat untuk menghentikan menstruasi.
Obat ini adalah progesteron buatan yang bisa membuat tubuh itu bereaksi dengan cara menahan dinding rahim supaya jaringan penebalannya tidak luruh sehinga tidak terjadi proses menstruasi.
Sebagaimana kita ketahui, ketika ovulasi terjadi, sel telur akan berjalan terus hingga ke rahim. Rahim pun menebalkan dindingnya, bersiap-siap jika terjadi pembuahan. Jika terjadi pembuahan maka sudah siap menerima embrio. Nah karena tidak ada pembuahan dan sel telur terus berjalan sampai ke rahim tidak terjadi apa-apa maka tubuh akan bekerja untuk meruntuhkan dinding rahim tersebut sehingga muncullah darah menstruasi.
Pada kasus saya ini, darah menstruasi tidak berhenti-berhenti, maka diberikan hormon progesteron buatan untuk membuat rahim mempertahankan dinding-dindingnya supaya tidak diluruhkan. Obat ini harus diminum teratur setiap hari dua kali pagi dan sore. Karena saya sedang berpuasa di bulan Ramadan, maka saya minum di waktu sahur dan berbuka. Penting sekali untuk konsisten minum obat ini dua kali sehari di waktu yang sama supaya tubuh bisa mendeteksi bahwa memang benar ada perubahan hormon.
Obat ini harus saya minum selama 14 hari beeturut-turut hingga habis, tidak boleh berhenti meskipun nanti haidnya sudah berhenti.
Efek samping obat ini menurut dokter adalah antara lain bisa menyebabkan mual, sakit kepala. Namun, Alhamdulillah, tidak terjadi pada saya. Selama minum obat ini saya merasa baik-baik saja. Darah menstruasi berhenti pada hari ke-3 setelah saya minum obat tersebut.
Demikian, semoga artikel mengenai mengatasi masalah menstruasi atau haid yang tidak kunjung berhenti di usia 40 tahun ini bermanfaat.

Posting Komentar
Posting Komentar