Begini Cara Melatih Empati Anak Sejak Dini Agar Bahagia


Hai, assalamu alaikum.

Zaman makin tua makin aneh saja. Menjadi orang tua di zaman now memang harus mau terus belajar.

Salah satunya soal mengajarkan empati kepada anak.

Tulisan ini adalah sebuah guest post milik Mbak Nur 'Lovely Mom' Rochma pemilik blog nurrochma.com yang banyak menulis soal parenting di blognya.

Eh, ternyata Mbak Nur Rochma dan saya punya satu kesamaan: anak kami tiga, laki-laki semua. 😄

Terima kasih, ya, Mbak atas tulisannya yang menginspirasi dan detil.

Buat pembaca yang tertarik untuk mengirimkan guest post juga ke blog damarojat boleh kontak saya lewat email: diah.d.arti@gmail.com.

Baiklah. Tidak pakai lama lagi. Selamat membaca!

Melatih-empati-anak

Assalamualaikum,

Suatu hari, teman saya mengeluhkan anaknya yang tidak memiliki empati ketika orang tua sedang sakit. Rasanya ngenes gitu.

Begitu juga teman lainnya, anaknya acuh dengan saudaranya. Mungkin ada banyak orang tua yang merasa bahwa empati anak-anak zaman now semakin menipis atau bahkan menghilang.

Saya tidak ingin menghakimi anak-anak tersebut dengan tuduhan bermacam-macam. Karena saya yakin orang tua yang saya kenal pastilah sudah dan masih sedang berjuang menumbuhkan empati. Walaupun hasilnya masih jauh dari harapan.

Yuk, Kenali Makna Empati


Dalam KBBI kata empati mengandung arti: keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain atau kelompok lain.

Dalam situs theAsianparent Indonesia, Christine Carter, Ph.D seorang pakar sosiologi dan kebahagiaan di Universitas California mengatakan, “Empati adalah cara kita mengembangkan perasaan bersyukur, harapan dan kepedulian. Yang merupakan kemampuan berdasarkan empati.”

Jujur saja, tanpa empati hidup terasa hampa. Kita adalah makhluk sosial, sudah sewajarnya jika satu sama lain saling membutuhkan.

Satu orang sakit, orang lain membantu. Satu orang memiliki kelapangan rezeki, ikhlas berbagi kepada yang membutuhkan.

Saya yakin prinsip membantu dan membutuhkan itu saling melengkapi. Untuk bisa membantu tanpa pamrih, kita harus memiliki rasa peduli.

Contoh sederhananya adalah peduli dengan orang lain yang sedang ditimpa musibah. Kita ikut merasakan kesedihan dan bergerak untuk mengulurkan tangan, baik dengan harta, benda, waktu dan pikiran.

Melatih Empati Anak Sejak Dini, Bisa Loh!

Saya rasa masalah empati ini kompleks. Ada anak yang tanpa banyak usaha dan kerja keras orang tuanya, bisa begitu peduli dengan orang lain. Empati muncul karena perasaannya yang halus.

Namun ada baiknya jika empati ini ditumbuhkan, diasah dan dilatih sejak dini.

Dari pengalaman saya dengan tiga orang anak, ada anak yang mudah sekali tersentuh hatinya dan ada juga yang perlu dikomando berkali-kali agar sadar berempati.

Cara-menanamkan-empati-pada-anak
Belajar berempati sejak dini

Yang susah seperti inilah yang membuat orang tua nyaris putus asa. Maka, sedari anak masih kecil saya berusaha untuk menanamkan empati.

Nah, beberapa kegiatan berikut ini bisa digunakan untuk melatih empati anak sejak dini:

1. Orang Tua Memberikan Contoh Empati

Bagaimana mungkin kita, para orang tua, meminta anak untuk berempati jika kita sendiri tidak mau melakukannya.

Kita lebih memilih untuk mempertahankan ego. Sibuk dengan berbagai urusan. Bahkan tidak peduli dengan kepentingan orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita.

Jadi, sebelum menginginkan anak-anak kita berempati kepada sesama ada baiknya jika orang tua memberikan contoh nyata sehingga anak bisa melihat apa yang kita lakukan.

Contohnya ketika ada kerabat yang sakit. Orang tua bisa mengajak diskusi anak. Lalu menjenguk dan mendoakan kerabat tersebut agar lekas sembuh.

2. Mendongeng atau Membacakan Buku Cerita

Kalau bisa mendongeng, kita bisa selipkan pesan-pesan kebaikan untuk melatih anak peduli dengan sesama. Namun jika kesulitan, bisa banget dengan membacakan buku cerita anak.

Sekarang ini banyak pilihan buku cerita yang tidak sekedar menghibur atau memberikan informasi, namun sarat akan pesan untuk membangun karakter anak.

3. Memanfaatkan Momen Khusus

Biasanya di bulan suci Ramadan banyak kegiatan untuk berbagi. Dari sekolah sudah ada kegiatan untuk menyantuni anak yatim dan dhuafa.

Bagaimana dengan di rumah? Ajak anak untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Misalnya dengan berbagi hidangan berbuka puasa dengan tetangga atau kerabat.

4. Bermain Bersama

Jangan biarkan anak bermain sendiri sementara temannya hanya menjadi penonton. Bagaimana jika sebaliknya? Pasti tidak menyenangkan.

Empati
Bermain bersama bisa melatih empati anak sejak dini

Nah, anak akan berpikir bagaimana caranya berteman dengan baik. Anak akan belajar untuk menyingkirkan egonya dengan meminjamkan atau berbagi mainan.

Dengan bermain bersama, anak akan memanfaatkan waktu dan saling mengenal temannya. Bermain menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Dalam permainan tertentu yang memerlukan kekompakan, anak akan belajar untuk bekerja sama dan saling mendukung.

5. Mengajak Anak Melihat Lingkungan Di Sekitarnya

Di luar rumah ada banyak hal yang bisa dipelajari. Anak akan mengenal lingkungan dan belajar memahami perbedaan.

Kalau orang tua tinggal di kompleks perumahan atau rumah dinas, lingkungannya akan monoton.

Ajak anak mendatangi kampung-kampung lain di sekitar rumah. Melihat warga melakukan aktivitas sehari-hari yang mungkin sangat berbeda atau kontras dengan keseharian kita.

Misalnya ketika berkunjung ke perkampungan nelayan, anak akan mengenal pekerjaan berat para nelayan. Saat itulah orang tua bisa melatih empati anak.

6. Berterima Kasih

Sejak kecil ajarkan anak-anak untuk berterima kasih ketika diberi sesuatu. Bahkan ketika ada orang yang mendoakan dan memberikan pujian, anak juga  harus berterima kasih. Dengan begitu anak akan terbiasa mengucapkan kata ajaib ini.

Berterima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain yang telah berbuat baik. Ucapan ini membuat orang lain senang.

Demikian juga anak yang telah menerima hadiah atau kebaikan orang lain. Jadi, jangan anggap sepele ucapan terima kasih.

7. Bersyukur

Sederhananya, bersyukur adalah rasa terima kasih kita atas semua nikmat yang Allah berikan. Bersyukur membuat hidup lebih bahagia.

Kita masih diberikan kesempatan, kekuatan, kesehatan untuk menjalani semua rutinitas dan kegiatan lainnya.

Kita masih diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk bertemu dengan keluarga, teman, tetangga, dan orang lain.

Cara-mengajarkan-empati-pada-anak
Bersyukur bisa bergembira bersama teman, melatih empati anak sejak dini

Rasa syukur ini juga harus dimiliki anak-anak. Ajak anak-anak bersyukur dari hal yang bagi anak terlihat biasa seperti ketika makan bersama keluarga.

Apapun menu tiap hari, disyukuri. Meski tidak setiap hari makan ayam atau daging, kalau kita bisa menerimanya, kitapun bisa menikmatinya sama seperti menu lainnya. Semua terasa nikmat!

Coba saja anak diajak membaca tentang berita kelaparan. Atau melihat fakta di lapangan. Masih ada orang yang kesulitan makan, sementara kita masih bisa makan dengan menu yang lengkap.

Saat itulah orang tua membuka diskusi untuk melatih empati anak.

Anak Yang Berempati Bisa Bahagia

infografis-parenting-empati
Melatih anak empati sejak dini

Orang tua pasti ingin agar anak-anaknya memiliki karakter baik termasuk peduli terhadap sesama.

Dengan rasa empati inilah, anak akan disukai oleh keluarga, teman-temannya, dan orang-orang lain di sekitarnya.

Menjadi pribadi tidak egois dan mudah bekerja sama membuat hubungan sosial lebih mudah.

Yang pasti orang tua juga senang!

Seperti ketika saya sedang sakit. Sesuatu yang menyedihkan ketika seorang ibu sakit tapi tak ada yang menggantikan untuk mengurus rumah dan anak-anaknya.

Tak mungkin  meminta tolong suami yang sedang dinas di luar kota. Jadi saya sekuat tenaga memaksakan diri untuk membuatkan sarapan sederhana.

Kemudian saya beristirahat di kamar dan berkata, “Rasanya ibu mual dan mau muntah ya.”

Tiba-tiba saja, si bungsu mengambil baskom, takut kalau saya muntah di kasur atau lantai.  Dia juga membantu di dapur meski tak banyak.

Hal-hal kecil yang dilakukan ini adalah bentuk empati. Sementara itu saya tak mau berlarut-larut sakit. Saya minum obat. Alhamdulillah siang hari kondisi saya sudah lebih baik.

Ketika si anak menolong saya, dia senang. Dia memiliki kesempatan untuk membantu saya sembuh, tidak mau merepotkan dan berusaha menjaga saya.

Maka, saya sangat berterima kasih kepadanya. Yang artinya usaha dia saya hargai. Anaknya senang, orang tua senang.

Jadi empati itu menumbuhkan rasa bahagia. Sesederhana itu, loh!

Semoga bermanfaat!


***

Nur Rochma

Facebook: nur rochmaningrum

Intagram: @nurrochmaningrum

Twitter: @NRochmaningrum




Comments

  1. Wah, sama ya anak kita 3 laki-laki semua.

    Terima kasih atas kesempatannya ya mbak.

    ReplyDelete
  2. Zaman sekarang orang tua memang dituntut untuk semakin pintar dan mengetahui segalanya untuk tumbuh kembang dan proses belajar anak.

    ReplyDelete
  3. Anak sekarang memang lebih suka dan sibuk dengan dunianya masing-masing, apalagi jika anak sudah bisa bermain HP.

    ReplyDelete
  4. Sebagai orang tua kita memang harus memberikan contoh yang baik terhadap anak, karena anak akan sulit menuruti keinginan kita jika kita tidak melatih dan mencontohkannya terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  5. Iya Mbak, pasti semua orang tua ingin anaknya memiliki karakter yang baik dan memiliki rasa kepedulian terhadap sesama.

    ReplyDelete
  6. Terimakasih banyak atas informasi mengenai beberapa hal yang dapat melatih anak memiliki rasa empati sejak dini, Mbak.

    ReplyDelete
  7. Memiliki banyak waktu bersama anak akan mempermudah kita sebagai orang tua untuk memahami karakter anak kita dan melatihnya untuk memiliki karakter yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts