Belajar Bahasa Daerah, Apresiasi Keberagaman Budaya Indonesia


Keberagaman-budaya

"Nosarara nosabatutu."

Awal bulan bahasa ini saya berbincang santai lewat aplikasi WhatsApp dengan kakak saya. Perihalnya bermacam-macam, antara lain soal keberagaman budaya dan bahasa di Indonesia.

Dibandingkan dengan saya, kakak saya jauh lebih banyak mengenal Indonesia. Kakak saya selalu ikut suaminya pindah kerja ke berbagai kota di Jawa dan sempat juga tinggal di Sulawesi.

Ngomong soal ini saya jadi ingat cerita tentang keponakan pertama saya yang sempat jadi penduduk Kota Palu beberapa tahun silam.

Saat itu Kota Palu belum dihantam bencana tsunami dan likuifaksi yang dahsyat itu. Di Palu saat itu masih berdiri tegak Jembatan Kuning dan Masjid Apungnya juga masih sangat menawan.

"Kebanggaan orang Palu," kata kakak saya.

Kembali ke soal keponakan saya tadi. Anak itu sekarang sudah dewasa, hampir sarjana bahkan.

Dia sempat merasa agak bingung kalau ditanya orang dengan pertanyaan, "Asalmu dari mana?"

Gimana ga bingung, ya. Keponakan saya itu numpang lahir di Jogja. Umur batita ikut orang tua pindah ke Cirebon, lalu pindah lagi ke Jakarta sampai SD.

Setelah 7 tahun di Jakarta, pindah ke Jember. Tidak lama kemudian pindah lagi ke Surabaya.

Belum ada setahun di Surabaya, pindah ke Palu. Dua tahun di sana, pindah lagi ke Jogja sejak masuk SMA sampai sekarang.

"Kakak orang mana, ya, Ma?"

"Bilang aja orang Jogja, kan lahir juga di Jogja," jawab mamanya.

Belajar Bahasa Daerah Sekaligus Belajar Menghargai Keberagaman Budaya Indonesia


Yang lucu tapi juga inspiratif, saat dia masih SMP di Palu, keponakan saya itu di sekolah belajar bahasa daerah setempat. Bahasa Kaili.

Tentu saja susah belajar bahasa daerah bagi pendatang yang sudah besar. Kalau masih kanak-kanak malah lebih mudah karena biasanya belajarnya lewat pergaulan secara langsung dengan teman-teman.

Memang sih belajar bahasa daerah itu susah. Lebih gampang belajar bahasa asing malahan. Kayak belajar Bahasa Inggris, tanpa pusing deh karena banyak sumber belajar bertebaran.

Nah, saat keponakan saya itu belajar Bahasa Kaili, dia dapat nilai bagus!

Mamanya heran setengah mati. Mahir aja enggak kok dapat nilai bagus? Gurunya ga salah nih?

Saya pas dengar cerita itu langsung ingat tulisannya Rhenald Kasali. Saat itu anaknya baru saja pindah ke Amerika Serikat lalu dapat nilai bagus untuk pelajaran Bahasa Inggrisnya.

Rhenald Kasali heran, dong. Kok bisa? Lalu didatanginyalah sang guru.

Gurunya dengan tenang menjawab bahwa nilai bagus itu karena menilai kesungguhan belajar si anak. Seseorang yang datang dari negara yang tidak berbahasa Inggris kok bisa meraih capaian seperti itu berarti sangat bagus.

Wow...

Jadi, mungkin itu juga pertimbangan guru Bahasa Kaili keponakan saya tadi. Anak rantau mau belajar bahasa setempat itu sudah bernilai luar biasa.

Belajar Bahasa Daerah Setempat, Menghargai Keberagaman Budaya Indonesia

Keberagaman-budaya
Keberagaman budaya di Bromo. Foto milik Tri Sulistiyowati dolanjajan.com

Dulu sewaktu saya masih SMP juga ada teman yang merupakan anak pindahan dari Sumatera.

Anaknya pandai, tapi kalau mata pelajaran Bahasa Jawa keok deh dia. Lha wong yang asli Jawa aja K.O., apalagi yang baru saja kenal. Tapi sungguh saya menghargai dia yang mau belajar meski mungkin tujuan awalnya untuk meraih nilai bagus.

Kalau soal percakapan sehari-hari sih ga terlalu bermasalah, ya. Kadang anak pindahan cepat pintar berbahasa daerah karena mau bergaul dengan penduduk setempat.

Tapi tidak semua anak luar daerah yang kena masalah dengan bahasa daerah. Malah ada teman saya yang pindahan dari Sumatera yang berhasil memikat teman-temannya buat belajar bahasa daerahnya.

Itu adalah teman SMA saya. Dia aslinya dari Lampung. Dia malah mengenalkan aksara Lampung ke teman-temannya yang orang Jawa.

Asyiknya dia, ga kayak saya yang lupa sama aksara Jawa, teman saya ini masih fasih menuliskan aksara Lampung. Wow! Keren!

Gunanya Belajar Bahasa Daerah Juga Biar Kenal Keberagaman Budaya Indonesia

Keberagaman budaya Indonesia. Foto milik Jawapos.com

Belajar bahasa daerah setempat tentu saja sangat berguna. Selain untuk berkomunikasi juga untuk memahami kebiasaan, kesukaan dan pantangan orang di daerah tersebut.

Menyatukan pandangan lewat bahasa sangat mungkin dilakukan. Menyingkirkan batas antara kami dan kamu juga bisa dengan perantara bahasa daerah.

Terbayang ga kalau ada orang yang secara ras berbeda dengan kita tapi bercakap bahasa yang sama? Sangat mungkin perasaan yang timbul adalah kesamaan.

Kayak Cak Dave itu. YouTuber bule yang fasih berbahasa Jawa. Tahu, kan, ya?

"Bule kok medhok Jawa? Weleh, kanca dhewe ki."

Jape methe kalau kata orang Jogja. Teman kita sendiri.

Nah, masih ingat kata pembuka tulisan soal keberagaram budaya Indonesia ini? Nosarara nosabatutu?

Itu Bahasa Kaili untuk "kita semua bersaudara."









Comments

  1. Saya pernah mengerjakan test transkrip bahasa, bahasa Jawa dan Malaysia, lha koq skornya lebih tinggi bahasa Malaysia ! Padahal tahu bahasa Malaysia cuma dari Upin Ipin, dan pakai bahasa Jawa dari orok.. Ckck...

    Problemnya menurun ke anak, meski emaknya jawa tulen, tp bapaknya Kalimantan, jadi sehari-hari dirumah lebih banyak bahasa Indonesia. Alhasil, anak-anak saya susah banget belajar bahasa Jawa.. Kata anak saya, lebih susah dari bahasa Inggris.. Duh, ironi ya..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts