Idul Fitri dan Toleransi Itu


Hai, assalamu alaikum.

Idul Fitri sudah di sini,
Bagaimana denganmu,
Sudahkah kembali suci,
Atau sekadar kembali bisa makan kapan pun?

"Besok lebaran! Sudah bisa makan sewaktu-waktu!"

Demikian teriakan gembira si Mas Kecil di rumah eyangnya yang tentu saja disambut antusias oleh kakak dan sepupunya.

Bocah berumur hampir 9 tahun itu bukannya tak menikmati puasa, tapi seperti kebanyakan anak, ia menantikan datangnya Idul Fitri dengan suka cita bak menang perang.

Perang melawan hawa nafsu sendiri, ketika lapar dan makanan tersedia tapi ia tak boleh menyantapnya.

Saya patut bersyukur, Ramadan tahun ini Mas Besar dan Mas Kecil telah berpuasa penuh sebulan lamanya tanpa bolong. Plus bonus di tahun ini mereka sudah bisa ikut salat tarawih berjamaah di masjid.

Tahun lalu meskipun mereka sudah bisa berpuasa sehari penuh dan sebulan lamanya tapi mereka belum melaksanakan salat tarawih di masjid.

Penyebabnya sederhana. Mereka senantiasa kehabisan amunisi untuk menjaga mata tetap terbuka selepas salat isya. 😂😂😂

Tahun ini sungguh berbeda. Usai salat maghrib teman-teman sebaya mereka datang ke rumah dan mengajak anak-anak saya salat tarawih di masjid.

Tidak langsung ke masjid tentu saja. Mereka biasanya bermain dulu, sepedaan, kadang beli jajan dan mercon. 😣

Sepulang tarawih (tanpa salat witir dulu) mereka juga segera menghabiskan energi dengan dolan.

Heran saya, malam-malam kok ya main.

Kemudian sekitar jam 21 barulah mereka pulang.

Tentu saja saya sambut mereka dengan aneka wejangan. 😅😅 Kebiasaan ibu-ibu yang jangan ditiru deh. Seharusnya wejangan keluar di saat mereka makan atau mau tidur. Tapi ya gitulah saya, perlu membenahi metode pengasuhan saya.

Kejutan lain dari anak-anak di Ramadan kali ini adalah mereka berhasil melaksanakan itikaf di masjid dari malam usai tarawih hingga subuh! Masya Alloh!

Semua itu gara-gara ajakan teman!

Bener deh, teman yang baik itu yang bisa membawa perbaikan diri.

Baca juga: A Good Friend of Theirs

Memang sih mereka cuma satu kali melaksanakan itikaf tapi bagi saya itu sudah luar biasa sekali.

Mudah-mudahan di Ramadan mendatang mereka lebih rajin dan giat beribadah karena Alloh bukan karena teman.

Idul Fitri di Rumah Eyang


Lebaran ini seperti biasanya kami pulang ke Jogja. Iya dong, ibu saya masih sugeng, masih hidup, jadi kewajiban kami adalah pulang menemani ibu selama sekitar satu pekan.

Tujuh hari yang kami harapkan dapat menggantikan satu tahun. Ah, jauh panggang dari api. Kami masih lebih sering meninggalkan ibu di rumah untuk jalan-jalan keliling kota.

Ibu adalah orang pertama yang harus saya sungkemi saat Idul Fitri. Namun bukan hanya itu, kepada ibu pula kami harus bertoleransi.

Hmmm...bukannya toleransi itu dilakukan saat kita menghargai perbedaan yang ada? Ibu saya muslimah, lalu toleransi apa yang dimaksud?

Mungkin bukan toleransi ya kata yang tepat untuk kasus ini, tapi kata toleransi rasanya sudah mengalami perubahan makna yang besar menjadi sekadar toleransi antar umat beragama.

Toleransi yang itu juga saya jalankan di banyak tempat dan masa. Bahkan sebelum hebohnya suara soal toleransi ini didengungkan orang-orang.

Kepada ibu saya, neneknya anak-anak, kami bertoleransi. Kami menghargai perbedaan pendapat dan kebiasaan.

Coba deh teman-teman tengok ke dalam keseharian kita sendiri, pasti akan banyak kita jumpai usaha menoleransi orang lain.

Ibu saya tipe ibu yang suka memasak sendiri. Maka saya hindari beli makanan di luar guna menghindari hati ibu terluka.

Meski saya juga kadang kepingin beli jajanan di luar tapi saya tahan. Andaikan beli ya secukupnya saja.

Beli baju lebaran juga begitu. Buat ibu saya lebaran itu tidak harus berpesta-pesta. Sejalan dengan prinsip itu, saya kalaupun terpaksa beli baju baru untuk lebaran tetap seperlunya saja.

Ibu saya juga tipe orang yang tak bisa duduk diam. Ibu selalu punya sesuatu untuk dikerjakan. Maka saya pun memberikan kelonggaran saat ibu dengan lincahnya naik motor di sepertiga malam akhir Ramadan untuk itikaf di masjid.

"Jangan membelenggu orang-orang tua," begitu pesan ibu saya.

"Biarkan orang tua tetap berkarya sehingga tidak cepat pikun. Badan kami tua tapi semangat kami muda!"

Idul Fitri dan Toleransi Itu


Bukan hanya kepada ibu, toleransi kepada umat beragama lain juga sudah kami terapkan. Setidaknya kepada satu tetangga kami yang bukan muslim.

Sudah jadi kebiasaan saat lebaran tiba ibu mengirimi tetangga tersebut ketupat, opor ayam dan kelengkapannya.

Sudah jadi kebiasaan pula tetangga kami itu menyambut hantaran tadi dan mengucapkan permohonan maaf lahir dan batin.

Sebaliknya saat hari raya agama lain itu tiba, tetangga tersebut gantian mengirimkan makanan untuk kami.

Langsung praktik saja tak usah kebanyakan teori.

Baiklah, sekian dulu cerita Idul Fitri kali ini. Mohon maaf jika ada kesalahan dan hal-hal yang kurang pas di hati.

Mohon maaf lahir dan batin. Taqobbalallahu minna wa minkum. Aaamiiin.

Comments

  1. Ga mau diam, kebanyakan orang tua emang gitu ya mbak. Mertua saya juga susah dibilangi, tapi raganya memang sudah waktunya banyak istirahat. Jadi sekalinya kerja agak berat dikiiit Aja langsung masuk angin. Kalau sudah begitu, tinggal undang mantri langganan saja 😊

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts