Skip to main content

Anak Kecil Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban

Anak-Kecil-Menyaksikan-Penyembelihan-Hewan-Kurban

Halo, assalamu alaikum.

Idul Adha hampir tiba, ya, teman. Rasanya baru kemarin berhari raya Idul Fitri, eh, sekarang sudah mau hari raya lagi. Memang dekat sih, ya, selisih dua hari raya ini cuma 2 bulan. Idul Fitri di bulan Syawal, setelah itu bulan Dzulqo'dah, lalu Dzulhijjah saat Idul Adha.

Idul Adha atau Idul Qurban menjadi hari libur di berbagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam sehingga pelaksanaannya pun menjadi mudah. Alhamdulillaah.

Sebelum Membahas Boleh-Tidaknya Anak Kecil Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban, Penyembelihan Secara Islam Itu Yang Kayak Apa Sih?

Penyembelihan secara Islam adalah dengan membaca Basmalah, meletakkan ternak di tanah lalu dipotong 4 jalur kehidupannya di leher sekaligus dengan pisau yang tajam. Keempat jalur kehidupan itu adalah: arteri carotis, vena jugularis (keduanya adalah jalur darah), tenggorokan (jalur pernapasan) dan kerongkongan (jalur pencernaan). Atas kemurahan Alloh, keempat urat itu diletakkan di tempat yang berdekatan sehingga bisa diputus dengan sekaligus.

Anak-Kecil-Menyaksikan-Penyembelihan-Hewan-Kurban
Gambar dari http://ilmuveteriner.com/tata-cara-penyembelihan-hewan-yang-baik-dan-benar/


Sakit tidak, ya, si ternak?

Dalam penelitian mengenai rasa sakit saat hewan ternak disembelih secara Islami, Profesor Schultz dan rekannya Doktor Hazim dari Universitas Hannover, Jerman, menyimpulkan bahwa penyembelihan secara Islami tidaklah menghasilkan rasa sakit. Lebih lengkapnya bisa dibaca di tautan ini: penyembelihan secara Islam

Anak Kecil Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban, Baik Apa Tidak?


Di saat Idul Adha, hal apa yang paling menyolok? Tentu saja prosesi kurbannya, ya. Saking banyaknya ternak yang disembelih di hari itu dan 3 hari setelahnya (yang disebut sebagai hari tasyrik), kadang ada yang merasa ngeri melihat darah tersimbah di mana-mana.

Dulu, anak saya yang tengah saya larang ikut lihat karena masih terlalu kecil dan wataknya yang sensitif. Takutnya nanti dia malah kebayang-bayang kan kasihan. Tapi sekarang saat sudah SD malah dia yang pergi sendiri melihat penyembelihan.

Beda dengan masnya yang wataknya suka mencoba hal baru. Waktu masih kecil sudah diajak ayahnya menyaksikan penyembelihan hewan kurban.

Tapi setelah baca-baca dari beberapa sumber, saya kok sekarang jadi mikir-mikir ya untuk membiarkan anak kecil menyaksikan penyembelihan hewan kurban?

anak-kecil-lihat-penyembelihan-kurban


Ada pakar psikologi yang berpendapat bahwa sebaiknya anak di bawah 7 tahun dilarang menyaksikan penyembelihan sebab di usia semuda itu anak masih belum bisa membedakan antara kenyataan dengan khayalan. Bahaya kan kalau kemudian mereka ikut coba-coba menyembelih? Selengkapnya bisa disimak di artikel ini, ya.

Abah Ihsan, pakar parenting, juga tidak menganjurkan membawa anak yang belum mumayyiz (paham) untuk melihat prosesi penyembelihan.

Anak-Kecil-Menyaksikan-Penyembelihan-Hewan-Kurban
Sumber: Facebook Abah Ihsan Official
 https://m.facebook.com/abahihsanofficial/posts/329265234077795

Betul juga, ya.

Anak kecil kan masih rentan, ya. Keponakan saya dulu aja pernah nangis kejer karena lihat pinguin dimakan anjing laut di TV. Itu baru di TV lho, gimana jadinya kalau betulan.

Ada juga teman saya yang jadi ga doyan daging gara-gara lihat ayam disembelih.

Hmm...

Tapi ada juga anak kecil yang biasa-biasa saja menyaksikan penyembelihan hewan ternak. Soal ini bisa dibaca di tautan Abah Ihsan, ya.

Menanamkan Hikmah Berkurban Tanpa Mengajak Anak Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban


Terus bagaimana dong agar anak sedini mungkin mengenal hikmah berkurban?

Nah, ini tinggal kreativitas orang tua saja, ya. Bisa dengan diceritakan kisah sejarah ibadah kurban dari  Al-Quran surat Ash-Shoffat (surat ke-37) ayat 102-108.

Bisa juga dengan membacakan buku cerita anak mengenai kisah kurbannya Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. ini. Banyak kok buku cerita bergambar mengenai ini.

Bisa juga dengan mengajak anak memilih hewan kurban dan menengok si hewan kurban pada H-1. Di tempat tinggal kami lokasi hewan kurban diistirahatkan selalu ramai oleh pengunjung saat sore di H-1. Sambil nyuapi atau momong anak 😄😄.

Kalau Terpaksanya Anak Kecil Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban, Bagaimana?

Misalnya karena bapak ibunya jadi panitia penyembelihan semua, atau tinggalnya di depan masjid tempat penyembelihan. Gimana dong?

Ya sudah, gimana lagi. Yang penting anak dibekali ilmu dan wejangan dulu dari rumah tentang nilai berkurban.

Juga, pendampingan saat anak kecil menyaksikan penyembelihan hewan kurban harus dilakukan. Jangan sampai anak-anak berseliweran sendiri di lokasi bersama teman-temannya. Dikhawatirkan nanti hanya sensasinya saja yang ditangkap, bukan hikmahnya.

Nah, gimana menurut pendapat teman-teman soal boleh tidaknya anak kecil menyaksikan penyembelihan hewan kurban? Ada yang punya pengalaman khusus mungkin? Boleh dong diceritakan di sini. Di mana? Tentu saja di kolom komentar. Yuk, yuk!

Comments

  1. Kalau menurut saya anak-anak tidak perlu menyaksikan proses penyembelihan hewan qurban karena selain tidak ada manfaat, bisa jadi malah menimbulkan trauma tersendiri bagi anak. Saya sendiri sewaktu kecil pun begitu, gara-gara menyaksikan penyembelihan di usia yang masih terlalu kecil, sampai sekarang pun tidak berani.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, mbak. Tampaknya masalah trauma itu yang paling banyak terjadi. Ada yang langsung tampak, ada juga yang terpendam.

      Delete
  2. Kata emak, Saya ga doyan daging (daging apapun termasuk ayam) gara2 lihat kambing disembelih Mbak. Sekarang Kalau ayam/sapi udah doyan, yang kambing masih ga doyan blas.

    Makanya Saya ga ajak Alfi nonton penyembelihan hewan qurban. Paling cuma lari2an sama temen2nya di sekitar lokasi aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trauma ya mbak. He eh mbak, mending diajak kenalan sama suasananya dulu aja ya ga usah lihat penyembelihan dulu.

      Delete
  3. dulu waktu ada penyembelihan kurban di sekolah Farras, saya larang Farras utk lihat, tapi anaknya pengen lihat ya sudahlah saya biarkan. Dan ternyata jadi pengetahuan baru buat dia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini juga kondisi yang ga bisa kita kontrol sebagai orang tua ya mbak. Farras kelas berapa waktu itu mbak?

      Delete
  4. Saya juga punya anak yang masih dibawah umur 7 tahun, nah pas ada penyembelihan itu saya larang mba. Untungnya anaknya manut aja :) hehe. Takutnya kalau lihat proses penyembelihan malah kebayang-bayang ....

    ReplyDelete
  5. Aku pribadi gak berani menyaksikan penyembelihan hewan qurban. Jangankan hewan qurban, melihat ayam di potong saja aku gak tega, langsung enek dan kebayang-bayang terus. Apalagi kalau dengar suara gerangan hewan itu, yaampun sedih banget jadinya. Jadi aku masih belum ngebayangin kalau ada anak kecil yang sengaja diajak untuk menyaksikan penyembelihan hewan qurban, yang pasti anaknya harus kuat mental ya, Mba.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…