Skip to main content

Anak Masuk SD? Seharusnya Mereka Sudah Bisa Melakukan Ini Agar Mandiri Di Sekolah

Tidak terasa tahun ajaran 2017/2018 ini anak-anak saya sudah kelas 2 dan 3. Jadi ingat pas pertama kali si sulung mau masuk SD, ada rasa ragu, bisa nggak ya dia? Apalagi anak sulung saya itu termasuk anak yang super aktif sedangkan dia mau masuk ke SDIT yang menerapkan full day school. Anak yang nggak doyan 'belajar' begitu, mampu nggak ya sekolah betulan? Singkat cerita, anak sulung saya dapat menjalani hari sekolah di SD dengan gembira karena sudah punya bekal minimal untuk jadi mandiri di sekolah.

Saya kira setiap anak yang masuk SD sebaiknya juga sudah memiliki kemandirian dasar ini. Apa saja sih itu?

Membersihkan Diri

Pentiiing banget anak sudah bisa membersihkan dirinya pas masuk SD. Membersihkan diri di sini maksudnya adalah mandi dan beristinja alias bebersih diri usai BAK dan BAB. Kebayang nggak kalau sampai anak harus buang air di saat sekolah sementara ia belum bisa bebersih diri sendiri? Kasihan dong, ya.

Bisa juga sih minta tolong guru untuk membantu, tapi tentunya gurunya nggak bisa terus-menerus membantu kan, ya. Sangat baik jika saat masuk SD anak sudah bisa membersihkan diri. Kalau belum bisa, sebaiknya dikomunikasikan dengan pihak sekolah agar ada pendampingan sampai waktu yang disepakati. Tiga bulan, misalnya. Selama 3 bulan itu juga anak diajari cara bebersih diri di rumah.

Termasuk juga di sini hendaknya anak diajarkan membersihkan kamar kecil dan mengenali macam-macam bentuk toilet dan kunci pintu. Misalnya di rumah biasa pakai toilet duduk, ajari atau kenalkan juga dengan toilet jongkok. Mana tahu di sekolah adanya itu kan?

Berpakaian Sendiri

anak-sd

Saat anak masuk SD, diharapkan betul ia sudah bisa berpakaian sendiri. Ya pakai baju, ya lepas baju, ya pakai dan lepas kaos kaki serta sepatu. Di sekolah anak saya kegiatan di dalam kelas dilaksanakan tanpa sepatu. Sepatu diparkir di luar ruang kelas dalam rak khusus. Sangat memudahkan sang anak kalau dia sudah bisa copot dan pakai sepatu sendiri.

Bagaimana kalau belum bisa? Lagi-lagi komunikasikan dengan guru agar anak dibimbing untuk pakai dan lepas sepatu. Bisa juga anak dibelikan sepatu yang mudah dipakai dan mudah dilepas. Bagaimana dengan kaos kaki? Agak sulit kan ya memakainya? Ya, harus ditraining di rumah. Nanti kalau sudah mahir, anak juga akan merasa bangga dengan dirinya.

Baca juga: Ketika Anak Super Aktif Dinilai Sebagai Anak Hiperaktif

Makan Sendiri

anak-sd

Makan di sekolah sekarang sudah jamak, terutama di sekolah full day. Kadang anak bawa bekal dari rumah, kadang ada juga anak yang berlangganan catering sekolah. Nah, saat masuk SD, kalau bisa anak sudah bisa makan sendiri, tidak lagi disuapi. Kasihan kalau masih harus disuapi, siapa yang akan menyuapinya di sekolah? Nggak mungkin kan guru menyuapi muridnya saat makan siang?

Teman TK anak saya ada lho yang pas masuk SD masih harus disuapi. Jadilah sang nenek tiap jam makan siang datang ke sekolah untuk menyuapi. Selain repot, anak juga bakal malu dong ya kalau masih disuapi di sekolah.

Kalau anak belum bisa makan sendiri gimana? Ya dilatih di rumah dan bekal sekolah diberikan sedikit dulu saja dan dengan menu yang digemari anak. Pelan-pelan nanti insya Alloh anak bisa terampil makan sendiri.

Itulah hal-hal yang harus sudah dikuasai anak saat masuk SD agar mandiri di sekolah. Teman-teman ada yang mau menambahkan? Atau ada cerita seputar kemandirian anak di sekolah? Ceritakan dong di kolom komentar. Terima kasih.

Comments

  1. Kalo mandi sendiri kadang suka cepet dan asal nih anak saya, jadinya tidak bersih mandinya. kadang suka saya kontrol...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…