Skip to main content

Kerja Freelance Untuk Ibu Rumah Tangga



kerja-freelance-untuk-ibu-rumah-tangga
"Kepingin kerja?" tanya ibu saya waktu melihat saya sering membolak-balik halaman lowongan kerja di koran.

Saya diam saja. Tahu diri. Ya iya lah, saya masih SMP waktu itu tapi kepikiran kerja freelance kayak di film-film Amrik itu. Sekedar cuci piring di restoran atau apalah sepulang sekolah, begitu pikir saya. Dan saya tidak sendirian, ada sahabat brave must be have saya, Rosa, yang juga punya cita-cita sama: kerja sambil sekolah. Kan keren gitu dan dapat penghasilan. Haha... Sayangnya, lowongan yang ada di koran selalu nggak jelas bagi kami dan nggak ada yang menerima anak sekolahan.

Anehnya, setelah duduk di bangku SMA keinginan kerja itu hilang, lang, lang. Barangkali karena saya puyeng dengan urusan sekolah yang membuat saya harus berkorban hati. Alah...istilahnya... Iya sih, di SMA dulu saya nggak hepi soalnya. Ceritanya bisa dibaca di sini: Hantu Dari Masa SMA.

Lanjut ke masa kuliah, keinginan itu juga tidak muncul lagi. Wah, jangan-jangan ini karena saya sudah nggak bergaul lagi dengan Rosa, ya, hehehe... Mungkin betul, karena pada kenyataannya Rosa kerja sambil kuliah. Di tahun 90-an, kerja apa sahabat saya itu? Jadi SPG EO dan buntutnya selepas kuliah dia melanjutkan karir di EO tersebut. Keren kan?

Sebelum lulus kuliah, saya pernah punya mimpi bekerja dari rumah. Jadi apa? Jadi webmaster. Waktu itu saya dan salah satu sahabat masa kuliah saya bercita-cita bisa kerja tanpa meninggalkan rumah, cuma duduk di depan komputer mengerjakan pesanan lalu dapat duit. Tapi karena nggak tahu harus berbuat apa supaya bisa jadi webmaster, impian itu tinggallah impian belaka.

Keinginan kerja muncul lagi saat saya lulus kuliah. Iya dong, masak iya mau nganggur aja? Setelah beberapa lama nganggur dan sempat mengajar les komputer dan bekerja di gerai ponsel, akhirnya saya kerja juga penuh waktu di sebuah perusahaan periklanan. Di bidang itu juga, saya ketemu lagi dengan Rosa karena perusahaan tempat saya bekerja punya bidang yang bersinggungan dengan bidang kerja perusahaan tempat Rosa bekerja.

Pekerjaan penuh waktu akhirnya saya tinggalkan saat saya akan menikah. Kali ini pekerjaan pindah ke rumah. Betul-betul ke rumah karena saya jadi ibu rumah tangga, hehehe...

Apa Sih Freelance Itu?

Setelah menekuni dunia blog, saya jadi kenal bermacam-macam pekerjaan yang bisa dilakukan blogger dan salah satunya adalah freelance. Apa sih sebetulnya kerja freelance itu? Menurut Wikipedia, freelance  berarti tenaga lepas. Kata ini pertama kali dituliskan Sir Walter Scott (1771-1832) dari Britania Raya dalam novelnya Ivanhoe untuk menggambarkan seorang tentara bayaran abad pertengahan, atau metafora untuk sebuah 'tombak yang bebas' (free-lance).*

Bidang kerja freelance antara lain meliputi jurnalisme, penerbitan, tulis-menulis, desain grafis, penerjemah, fotografer dan bidang kreatif lain yang intinya tidak terikat secara penuh kepada satu bos. Ngeblog juga termasuk dalam hal ini lho, meski ada juga yang bilang jadi blogger tuh nggak ada duitnya. Ya, blogger yang kayak apa dulu sih. Kayak saya?

Keuntungan kerja freelance adalah fleksibilitas waktu dan tenaga. Sang freelancer-lah yang menentukan sendiri berapa banyak pekerjaan yang bisa dia lakukan dalam kurun waktu tertentu. Mau ambil banyak, boleh, asal mampu. Ambil sedikit pekerjaan juga boleh, tapi resikonya pendapatannya juga sedikit.

Kerugiannya kerja freelance apa? Tentu soal pendapatan, ya. Tidak bisa stabil nilainya dan tidak ada yang namanya uang pensiun, hehe... Tapi saya kira pekerjaan seperti ini cocok sekali untuk ibu urmah tangga. Soalnya ritme kerjanya bisa diatur sendiri. Kalau sedang sibuk dengan keluarga, ambil sedikit pekerjaan saja. Kalau sedang banyak waktu luang, bisa ambil banyak pekerjaan. Asyik, kan?

Ibu Rumah Tangga Kerja Freelance?

kerja-freelance
Sumber gambar: pixabay

 

Di dunia blogging, ternyata banyaaak pekerjaan freelance yang ditawarkan. Saya pun ketemu teman-teman dunia maya yang pekerjaannya freelancer. Ada yang half-time-freelance dan ada juga yang full-time-freelance. Yang half-time itu berarti kerja freelance tapi masih punya pekerjaan sampingan lain. Eh, pekerjaan lain, maksud saya, soalnya ada juga yang jadi kurang jelas mana yang sampingan dan mana yang utama, saking besarnya pendapatan yang diterimanya dari pekerjaan freelance-nya.

Kalau yang full-time-freelance sih sudah jelas, mereka betul-betul kerja freelance! Seluruh pendapatan mereka diperoleh dari kerja freelance. Hebat, ya! Dan banyak lho blogger ibu-ibu yang begini. Sip banget deh. Nah, kalau saya di mana? Belum lah bisa disebut apa-apa. Ngeblog juga masih harus banyak disiplin, termasuk urusan jam ngeblog, hehe...  

Bagaimana kalau ibu rumah tangga kerja freelance? Boleh banget dong, asal memenuhi syarat freelancer yang baik, hehe... Syarat utama adalah restu suami dan ridho anak-anak. Harus dinomorsatukan itu. Biar apa? Biar berkahnya melimpah, gitu. Kan keluarga itu satu tim. Setuju?

Syarat kedua, niatkan kerja ini sebagai ibadah. Rugi kan kalau sudah mengeluarkan banyak tenaga, pikiran dan waktu tapi nilai ibadahnya nol? Dapat dunia doang dong, ya. Jangan. Sekali lagi, niatkan untuk ibadah, bukan hanya untuk sekedar eksis di media sosial

Yang ketiga, pilih pekerjaan sesuai kesukaan. Kalau sudah punya minat pada satu bidang, milikilah tekat yang kuat untuk menempuh jalan ke sana dan disiplinlah.

Nah, gimana, teman-teman ada yang kerja freelance? Atau ada yang sedang mengincar jadi freelancer? Bisa kok cari di internet soal situs penyedia pekerjaan freelance. Boleh dong bagi kisah perjuangannya di kolom komentar, siapa tahu bermanfaat buat yang sedang cari-cari informasi. Yuk, yuk!
 
* Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_lepas


Artikel ini merupakan collaborative blogging dengan tema: Freelance
Baca juga tulisan Mak Witri Prasetyo Aji: Freelance, Why Not?

Comments

  1. buat ibu rumah tangga yang ingin punya uang jajan sendiri dan menyalurkan hobi, kerja freelance ini asyik juga ya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyes banget mbak. sekarang zamannya hobi jadi penghasilan ya.

      Delete
  2. Mau juga aku freelance..tapi managemen waktuku juga masih kacau balau

    ReplyDelete
    Replies
    1. semuanya memang harus dipelajari dulu ya.

      Delete
  3. Yess, pilih kerjaan sesuai hobi jd nggak terasa kerja

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak, kata adikku, punya hobi yang jadi penghasilan itu enak banget. udah senang ngerjakannya, dibayar pula.

      Delete
  4. Kadang pengen banget jd freelancer tp ga tau caranya gimana. Takut ga sesafety kerjaan kantor jg sih Mbak.. hehe.. thanks infonya ya Mbak

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.