Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Menjaga Reputasi

"Kamu itu termasuk mahasiswa yang nggak pernah ngomongin dosen." Apa? Siapa? Saya? Komentar seorang teman kuliah saya dulu itu terdengar seperti kisah fiksi ilmiah bagi saya. Tampak terpercaya tapi belum tentu benar. Masak sih saya dikenal sebagai mahasiswa yang tidak pernah ngomongin (jelek tentang) dosen? Mungkin karena teman saya itu bukan teman terdekat saya. Bisa jadi penilaiannya berdasar hal yang kasat mata baginya atau yang saya tampakkan. Tapi kaget juga saya. Citra mahasiswa baik itu melekat kepada saya selama setidaknya dua puluh tahun terakhir ini. W.O.W. Bukannya saya ini sering ngomongin dosen, cuma saja penilaian sempurna dari teman saya itu membuka mata saya. Ya tentu saya pernah malas, tidak serius dan lain-lain. Namun ternyata perilaku tidak baik itu tertutupi oleh citra saya yang lain: mahasiswa baik. Banyak hal di dunia ini yang membuat kita merasa butuh adanya opini kedua. Tapi dalam hal ini saya kira saya tidak perlu opini lain. Biarlah sesekali …

Mengenal Indonesian South Sea Pearls

Mutiara sejak dulu menjadi primadona. Tapi tahukah kita bahwa produksi mutiara terbesar dan terindah berasal dari perairan Indonesia? Yuk, kenal lebih jauh dengan Indonesian South Sea Pearls!
Pasar dunia saat ini didominasi empat tipe mutiara, yaitu Mutiara Air Tawar (Fresh Water Pearls) yang banyak diproduksi di China; Mutiara Akoya dari perairan Jepang dan China; Mutiara Tahiti yang berwarna hitam (Tahitian Pearls) dan South Sea Pearls atau Mutiara Laut Selatan. South Sea Pearls merupakan tipe mutiara besar yang indah dan langka. Mutiara ini dihasilkan oleh tiram mutiara raksasa, Pinctada maxima, yang hidup di Samudera Hindia yang hangat. Habitatnya membentang dari perairan Barat Laut Australia, perairan Nusa Tenggara, perairan Sulawesi dan Papua, terus ke Utara hingga perairan Filipina dan Myanmar. Tak heran, produsen South Sea Pearls di dunia internasional adalah Indonesia, Australia dan Filipina.

Staycation: Selonjorin Kaki, Menjaring Inspirasi

Anak sekolah sudah menempuh setengah semester pertama di tahun ajaran ini. UTS sudah lewat, rapor sementara juga sudah dibagikan. Emak bisa menghela napas lega. Alhamdulillaah. Separuh semester sedang ditempuh. Berarti masih ada tantangan hingga akhir tahun ini. Bismillaah. Di akhir semester nanti, ingin pulang kampung untuk meramaikan rumah Ibu di Jogja. Suara riuh-rendah cucu-cucunya, pasti tidak bakal ditolak Ibu. Eyangnya anak-anak saya itu selalu menyambut kebisingan yang ditimbulkan duo krucil saya dengan tabah. Apalagi cucunya akan bertambah satu lagi dari saya, insya Alloh. Akhir semester nanti sepertinya akan jadi episode pulkam satu-satunya di tahun 1438 Hijriyah ini, sebab diperkirakan pada pertengahan tahun depan, adiknya Damar-Rojat lahir, insya Alloh. Yang berarti kemungkinan besar saya tidak bisa pulkam saat Lebaran 1438 H depan. Nah, maunya libur akhir semester ini sebagai gantinya. Kenapa Staycation Sama Ibu? Liburan di Jogja pinginnya bisa puter-puter sama Ibu dan …

Satu Jam Bersama Tarry Kitty

Ealah judulnya kayak judul acara TV aja. Eh tapi betulan, belum lama ini saya menghabiskan waktu satu jam bersama Tarry Kitty, seorang blogger penakluk Negeri Beton, Hong Kong.
Sebetulnya saya sudah pernah kopi darat sama Mbak Tarry pas bulan Ramadan lalu, sekalian bukber. Tapi waktu itu bukbernya bareng keluarga. Mbak Tarry bawa putri kecil dan suaminya, saya bareng duo Damar-Darojat dan suami. Jadi, disepakati bakal ada kopdar jilid 2 dengan peserta dua orang saja, yaitu saya dan Mbak Tarry. Hehehe...
Sebelumnya saya membayangkan kalau blogger kopdar itu obrolannya tak jauh dari blog. Ternyata nggak sama sekali. Kami malah ngobrolin keluarga, kesibukan dan hal-hal keseharian lainnya.

Cerita Menggelikan Dalam Perjalanan Ke Kampus UNS

Ini adalah cerita menggelikan dalam perjalanan ke kampus UNS tahun 2001. Boleh ikut ketawa ya atas kekonyolan saya. Boleh! Bebas!

Ada dua cerita menggelikan yang masih bikin saya geli campur tak percaya. Keduanya dalam satu paket perjalanan meski di hari yang berbeda. Kita mulai dari cerita pertama, ya!
Cerita Menggelikan Dalam Perjalanan Ke Kampus UNS: Gerbang yang Direnovasi Cerita bermula dari masa pengangguran saya selepas didaulat jadi sarjana. Sudah sarjana, tidak tahu mau apa. Parah banget. Berhubung ada lowongan tenaga pengajar di Universitas Sebelas Maret a.k.a. UNS di Solo, saya pun ikut-ikutan mendaftar. Serius ikut-ikutan! Apalah saya ini, ilmu pun tak nyantol, mana ada tampang pengajar. Tapi asal syaratnya bisa masuk, saya ikut aja. Semangatnya boleh lah.

Tesnya berlangsung dua hari kalau tidak salah. Tentu saja itu setelah lulus tes administrasi, ya. Tes hari pertama adalah tes tertulis. Hari berikutnya TOEFL dan tes wawancara.
Di hari pertama, saya menghadapi drama …

Bantul Dulu Dibully, Sekarang Tidak Lagi

Dulu jadi warga Kabupaten Bantul (DIY) itu sering minder karena Bantul dulu dibully, sekarang tidak lagi. Bantul, bersama Gunung Kidul, dulu merupakan icon ndeso-nya Jogja. Kalau sudah bilang Bantul, wah, langsung ingatan melayang pada persawahan dan orang-orang lugu. Padahal, Kabupaten yang terletak di Selatan Kota Jogja ini subur makmur dan orangnya ramah serta santun. Dulu, ngaku tinggal di Bantul tapi sekolahnya di Kota Jogja itu berisiko dibully. Apalagi kalau kerap terlambat datang ke sekolah, seakan mengesahkan pandangan bahwa Bantul itu nun jauh di sana di pelosok. Tinggal di Bantul bisa berarti tinggal di daerah yang tak terjangkau telepon. Iya sih, pakai 0274 - tapi lanjutannya yang nggak ada. Adanya cuma lima digit angka di belakang alamat yang berarti kode pos. Itupun alamatnya panjang banget pakai RT, RW, nama desa, nama kecamatan, yang kalau dapat surat bukan diantar pak pos tapi kurir dari kantor desa. Bantul Dulu Dibully Dengan Ini