Skip to main content

Bantul Dulu Dibully, Sekarang Tidak Lagi

Dulu jadi warga Kabupaten Bantul (DIY) itu sering minder karena Bantul dulu dibully, sekarang tidak lagi.

Bantul, bersama Gunung Kidul, dulu merupakan icon ndeso-nya Jogja. Kalau sudah bilang Bantul, wah, langsung ingatan melayang pada persawahan dan orang-orang lugu. Padahal, Kabupaten yang terletak di Selatan Kota Jogja ini subur makmur dan orangnya ramah serta santun.

Dulu, ngaku tinggal di Bantul tapi sekolahnya di Kota Jogja itu berisiko dibully. Apalagi kalau kerap terlambat datang ke sekolah, seakan mengesahkan pandangan bahwa Bantul itu nun jauh di sana di pelosok.

Tinggal di Bantul bisa berarti tinggal di daerah yang tak terjangkau telepon. Iya sih, pakai 0274 - tapi lanjutannya yang nggak ada. Adanya cuma lima digit angka di belakang alamat yang berarti kode pos. Itupun alamatnya panjang banget pakai RT, RW, nama desa, nama kecamatan, yang kalau dapat surat bukan diantar pak pos tapi kurir dari kantor desa.

Bantul Dulu Dibully Dengan Ini

Dulu, orang Bantul sering diolok-olok dengan berwajah gosong sebelah. Orang Bantul yang bekerja atau bersekolah di Kota Jogja kalau berangkat kena sinar matahari di pipi kanannya. Pas pulang di sore hari, paparan sinar matahari tetap memanaskan pipi sebelah kanan.

"Kamu orang Bantul, ya?"

"Kok tahu?"

"Pipimu gosong sebelah."

Ada lagi olok-olok bagi orang Bantul. Kalau ada anak sekolah seragam putihnya sudah agak kekuningan, bisa jadi dia orang Bantul. Soalnya sungai-sungai di Bantul yang buat nyuci baju sudah mengandung banyak sedimen. Maklum, Bantul kan di kidul sono sedangkan sumber mata airnya di Gunung Merapi.

Hahahah...

Ada lagi guyonan bernada melecehkan Bantul: orang Bantul kalau naik sepeda onthel bukannya di lajur kiri, tapi berjejer-jejer menutup jalan. Niatnya membully atau memuji sih? Bisa naik sepeda onthel berombongan di jalan raya berarti jalanannya lengang, manusiawi dan tidak macet.

Itu duluuuu...

Sekarang, siapa yang masih berani membully Bantul?

Jangan, ya. Nanti nggak bisa menikmati eksotisnya Hutan Pinus dan Taman Buah Mangunan yang instagenic banget atau Pantai Goa Cemara yang sejuk dan punya banyak spot menarik itu.

Foto-foto keren ini ada instagramnya @explore.bantul


Bantul dulu dibully, sekarang tidak lagi.

Bantul, ya, without m.

Tulisan ini merupakan collaborative blogging dengan tema Bullying.

Baca juga tulisan Witri Prasetyo Aji: Bully, Budaya Atau Tradisi?

Comments

  1. Baru tau Bantul pernah dibully. Btw, jd kangen jogja...

    ReplyDelete
  2. Huahahah. Pipi gosong sebelah :D

    Ah masa sik Mbak, dibully? Soalnya sekarang kan banyak destinasinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ho oh mbak. dulu gitu mbak zaman saya masih sekolah/kuliah. tahun 90-an. ealah..dah tuek ya saya.

      Delete
  3. Membuka wawasan baru nih... hahaha baru tau kalo bully berlaku juga buat wilayah

    ReplyDelete
    Replies
    1. pada intinya dikotomi desa-kota, mbak. di madiun pun kata suami saya juga ada tuh semacam ini. yang dekat kota merasa 'wah' padahal sama-sama kabupaten. hehe...

      Delete
  4. Aku made in bantul...berarti ramah dan santun yaa.. ☺ klo gosong sebelah...biasa dipke juga ke tmn kul ku yang nglaju godean-jogja😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku takjub pas ketemu orang bantul kota. alus.

      godean ki juga bantul to lis? apa godean yg sleman?

      Delete
  5. Aku kok baru tau ya dulu Bantul suka dibully. Tapi aku akui tempat wisata alamnya yg ngehits. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak. ini cerita masa lalu. kalo lihat bantul sekarang, wah, ga nyangka.

      Delete
  6. Wah... Senasib sama saya dong. Kalo ngaku orang Soreang juga sering dibully. Bandung coret. Jauh banget dari kota. Waktu sekolah dan kuliah, sering banget dibully. Tapi lama2 tahan. Dianggap becanda aja. Sekarang Alhamdulillahnya, pembangunan sudah pesat. Gak tahu, apa masih ada bully-bully kayak gitu lagi. *malah curhat* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi...iya gitu lah mbak. kota coret pokoknya.

      barangkali kalau bisa tunjukin prestasi, yang mbully berhenti sendiri

      Delete
  7. Wahaaa.... sekarang yang suka membuli terkecoh dengan pesona alamnya ya? hehehe
    Kalau lihat sih bagus sepertinya
    oh ya baru tahu lho kalau sungainya banyak sedimen

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya namanya juga bully mbak, apaaa aja bisa dijadiin bahan bully. entah betul entah nggak soal sedimen itu.

      Delete
  8. Wah, ini semacam penghinaan level akut sih kalo kayak gini. Temen2 kantor saya juga kebanyakan orang Bantul, tapi gak pernah kok ada yang bully dengan kalimat2 kayak gitu. Syukurlah saya sekantor sama orang2 baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah sekarang sudah ga ada lagi yang begitu mas.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.