Skip to main content

Untuk Apa Jadi Paskibraka?

Di peringatan Hari Kemerdekaan, di Istana Merdeka selalu ada pasukan pengibar bendera pusaka, disingkat Paskibraka. Bersamaan dengan itu, di tingkat propinsi dan kabupaten/kota juga ada Paskibraka. Meski sekarang yang dikibarkan bukan lagi bendera pusaka melainkan duplikatnya saja, nama pasukan khusus ini tetaplah Paskibraka.

pasukan-pengibar-bendera-pusaka

Paskibraka 2016 yang bertugas sore bersama Presiden RI
(dipotret dari televisi)

Untuk apa jadi Paskibraka? Mungkin ada yang bertanya-tanya untuk apa bersusah-payah, berpeluh-lelah hanya sekedar untuk mengibarkan bendera? Bahkan yang mencuri perhatian baru-baru ini kasus Gloria, calon Paskibraka 2016 yang memiliki paspor Perancis. Gloria nyaris batal dilantik sebagai anggota Paskibraka. Walau akhirnya Gloria bisa tampil bertugas di upacara penurunan bendera di Istana Merdeka. Semakin banyak pertanyaan muncul: sepenting itukah menjadi anggota Paskibraka?

Baca juga: Mendoakan Indonesia

Nah, sehubungan dengan itu, untuk mengulik makna menjadi Paskibraka dan manfaatnya, saya mewawancarai dua orang mantan anggota Paskibraka di era 1990-an. Kenapa angkatan 1990-an? Alasan pertama, agar bisa diketahui seperti apa mantan anggota Paskibraka di masa dewasa. Alasan selanjutnya, karena saya kenal baik dengan mereka, jadi lebih mudah proses wawancaranya. Hehe...

Narasumber saya adalah Dewi (wirausahawati, crafter) dan Gunardi (wirausahawan). Mereka ini kakak-beradik. Simak ya, wawancara kecil-kecilan saya via WA.

paskibraka

Jadi Paskibraka tahun berapa dan di pasukan berapa?

Dewi: Tahun 1991, Paskibraka Propinsi DIY. Pasukan 8, pagi. (maksudnya pas upacara pengibaran bendera).

Gunardi: Tahun 1997, Kota Yogyakarta, pasukan 45, tugas pagi dan sore.

Untuk sampai posisi itu, ingat nggak, harus ngalahin berapa orang? Atau, paling nggak, berapa tahap?

Dewi: Kalau berapa orang, nggak ingat. Tahapnya dari sekolah, kabupaten terus propinsi. Di Kabupaten, sekolahku ngirim 4 anak (2 pasang putra-putri).

Rasanya jadi Paskibraka gimana?

Dewi: Rasanya bangga lah, pengen ada Ibu dan Bapak mirsani (menyaksikan) pas aku tugas. Hiks, tapi apa daya.
(Orang tua Dewi tidak bisa hadir karena juga harus ikut upacara bendera di instansi masing-masing - red)

Gunardi: Bangga, berasa orang yang "terpakai" oleh negara.

Kenapa ingin jadi Paskibraka?

Dewi: Pengen jadi Paskibraka karena di SMA udah jadi tonti (peleton inti - red), dan sekolah membuka lebar peluang untuk ikut.

Gunardi: Ikutan kakak. Dan ada harapan mana tahu pengalamannya bisa dipakai untuk tes Akabri.

Paskibraka Setelah Dewasa

Terus, sekarang setelah dewasa, memandang Paskibraka itu gimana?

Dewi: Memandangnya...anak-anak yang bisa lolos memang benar-benar yang terbaik. Soalnya seleksinya ketat banget.

Gunardi: Paskibraka adalah tugas yang mulia. Dan kadang ikut merasakan (terharu) terutama momen setelah para Paskibraka selesai bertugas.

Dewi: Betul.....momen setelah bertugas sangat mengharukan. Apa lagi ditepuktangani kayak di TV, merinding lihatnya

Apa yang diperoleh dari menjadi Paskibraka setelah dewasa?

Dewi: Yang diperoleh apa yaaa...cinta tanah air. Kalau lihat bendera berkibar tuh seneng banget. Lihat bendera dipasang sekenanya jadi nggak suka.

Gunardi: (Dapat) Pengalaman aja sih.

Pernah dicibir orang nggak? Kalau pernah, cibiran macam apa?

Dewi: Alhamdulillaah nggak pernah.

Punya kisah sedih seputar jadi Paskibraka?

Gunardi: Sedihnya itu cuma punya sedikit foto kenang-kenangan dan seragam Paskibraka yang hilang. Dipinjam teman tapi nggak kembali.

#

Nah, itulah hasil wawancara kecil-kecilan saya. Meskipun yang saya wawancarai bukan Paskibraka di tingkat pusat, tapi saya rasa cukup mewakili jawaban dari pertanyaan: untuk apa jadi Paskibraka?

Menjadi Paskibraka di kala muda memang bukan segala-galanya, namun bukan pula sesuatu yang tak bermakna. Pembentukan karakter, penanaman jiwa patriot dan cinta tanah air, kedisiplinan, kerja sama tim, menghormati atasan, bukanlah hal yang sia-sia. Muda berjuang, dewasa berkarya

Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca. Mana tahu ada yang tergugah karenanya, kan?

Comments

  1. Yang pasti bangga. Dan efek ikutannya biasanya...laris manis/top di sekolah😁

    ReplyDelete
  2. whaa...mbuh nek kuwi lis. mungkin ngono yooo ;-D

    ReplyDelete
  3. dulu juga waktu sma jadi paskibra sekolah, badan jadi gosong karena sering di bawah matahari hehehe

    ReplyDelete
  4. yang jelas ada kebanggan tersendiri... ya..apalagi kalau sampai istana..

    ReplyDelete
  5. jadi inget dulu pernah ikut seleksi pas sma, tapi gak lolos, hihihi..

    ReplyDelete
  6. dulu sering jadi petugas upacara tapi ga pernah jadi pengibar bendera hehe

    ReplyDelete
  7. Jujur, kalau lihat paskibraka, aku selalu merasa mereka keren. Sempet kepengin. Tapi aku tau diri. Aku pendek banget dan yg biasanya kepilih pasti ada tinggi minimalnya. Tapi aku udah puas kok jadi penonton hihihi

    ReplyDelete
  8. Aku bangga lho melihat para paskibraka kita.. Muda dan berprestasi

    ReplyDelete
  9. Menarik topiknya mak. Aku dulu SMP ikut paskibra jd pasukan inti. Bangga banget loh, padahal cuma upacara di sekolah dan gak masuk tv hehe. Sayangnya di SMA ku ga ada ekskul paskibra, jadi terhenti deh sepak terjangku :(

    Tapi sedikit banyak kedisiplinan ketika menjadi paskibra itu terbawa sampai ke rumah.

    ReplyDelete
  10. Pasti bangga bisa menjadi anggota Paskibraka, seleksinya ketat ya.v

    ReplyDelete
  11. Wah saya dulu waktu smp aktif banget di organisasi paskibra. Seneng bisa ikut lomba ke sana kemari. Apalagi klo menang suka diumumin pemenangnya klo upacara di hari senin sekolah. Hah rasanya bahagia skali. Krn smp jd paskibra waktu SMK jdi suka disuruh jd pengibar bendera pas upacara. Wah jd bernostalgia lagi nih saya jdinya

    ReplyDelete
  12. Aku dulu gagal sih jadi paskibra hihihi.. capas gagal :D Salut sama paskibra/paskibraka yang berhasil karena latihannya ngga mudah, udah kayak latihan militer euy, aku mah lemah :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.