Skip to main content

Santi Dewi, Blogger Yang Selalu Happy

Santi-dewi

Tulisan ini merupakan artikel ulasan blog pemenang Arisan Link Grup 6 Blogger Perempuan. Baca juga ulasan 11 blogger lain dengan label profil blogger

Happy Life, Happy Family. Kebayang nggak sih, hidup kita bahagia dan keluarga kita juga bahagia? Sempurna sekali kan! Penjabaran tagline itu dijembrengkan secara terbuka oleh Mbak Santi Dewi, pemilik blog santidewi.com dalam tulisan-tulisannya seputar dirinya dan keluarganya.
Blog Mbak Santi ini kaleeem banget, saya suka. Berlatar belakang putih dengan pilihan warna pendukung serba pastel. Wuuuh...jadi ingat masa remaja dulu. Suka banget sama warna-warna pastel yang lembut dan indah.


Tampilan blog santidewi.com
Saya kenal Mbak Santi sudah agak lama. Waktu itu kenalnya lewat postingan soal film anak Pororo the Little Penguin di blog Mbak Santi. Merasa seirama karena anak-anak kami suka nonton Pororo. Eh, ternyata bukan hanya itu, anak saya yang kecil dan Fayda, putri Mbak Santi, sama-sama masuk SD tahun ini.
Blogger cantik ini sama kayak saya, punya anak dua. Bedanya, Mbak Santi dikaruniai buah hati laki-laki dan perempuan, sedangkan saya dua anak lelaki. Bedanya lagi, sulung Mbak Santi, Farras, usianya lebih tua dari sulung saya. Jadi, saya bisa belajar banyak dari Mbak Santi tentang mendampingi anak lanang.


Followersnya banyak!
Mbak Santi ini termasuk aktivis lho. Eh, maksudnya aktif karena beliau seorang wanita karir di sebuah BUMN di Serang, Banten. Jadi ibu yang bekerja di luar rumah plus ngurusi rumah tentu tak mudah. Ditambah lagi nulis di blog secara rutin. Tulisan Mbak Santi juga bukan cuma artikel lho. Beliau juga nulis fiksi, Saudara-saudara! Belum cukup cuma rajin ngeblog saja, Mbak Santi juga rajin menulis di luar blog sampai tulisannya pernah dimuat di media cetak dan menghasilkan beberapa buku antologi! Waw...!! Boleh cek langsung di tab Profile-nya ya.

Dari blog Mbak Santi ini saya dapat banyak ilmu. Yang paling berkesan menurut saya adalah tulisan tentang 'Kah dan Kulan'.
"Sekarang ini saya sudah jarang sekali mendengar ada orang yang menjawab kah atau kulan. Biasanya jika ada orang tua yang memanggil anaknya, maka jika anaknya perempuan akan menjawab kah danjika anaknya laki-laki maka akan menjawab kulan. Seperti halnya saya yang jika dipanggil orang tua saya, maka saya akan menjawab kah? Kah dan Kulan adalah jawaban sopan dari seseorang dibandingkan dengan jawaban 'naon' "
~ Santi Dewi
Asyik deh main ke blog Mbak Santi. Penasaran? Ayok, intipin bareng tulisan terbarunya. Buat yang masih kepo sama Mbak Santi Dewi, boleh colek beliau lewat sini:

Email: susantidewiok@gmail.com
Facebook: Susanti Dewi
Twitter: @santiadji
Instagram: @susantidewiok

Comments

  1. hehe... serasa diingatkan kembali tulisan tentang kah dan kulan ini :)
    Makasih banyak ya mba... :)

    ReplyDelete
  2. hehe...berkesan banget mbak tulisan yang itu.

    maaf ya mbak, telat posting

    ReplyDelete
    Replies
    1. gpp mba diah, saya udah senang mba diah mau ngulas ttg saya :)

      Delete
  3. cussss langsung ah ke blognya mak santiiii :)

    ReplyDelete
  4. aku jd penasaran juga utk klik tulisan kah dan kulan td mbak.. pengen tau itu bahasa apa..trnyta sunda yaaa. suka deh baca review sesama blogger gini, jd bikin kita nambah bahan bacaan dari tulisan2 blogger lain.. biasanya kalo nemu yg menarik postingan2nya, aku lgs bookmark

    ReplyDelete
  5. Aku kira Mbak Santi orang Jawa tapi bahasa Sunda nya kok endes pisan yak

    ReplyDelete
  6. Salam kenal mbaa. aku bbrp kali ke blog mba santi. Juga sering dikunjungi balik :) Awal taunya karena gugling hihii
    Fotonya happy banget yaaa yg terakhir

    ReplyDelete
  7. meluncur aaah ke blognya mbak santi ;)

    ReplyDelete
  8. Iya...mbak santi orangnya baikk...aku pernah banyak nanya ke beliau,langsung direspon *padahal kan beliau sibuk

    ReplyDelete
  9. Wah Mbak Santi keren ya, di sela2 kerja dan ngurus anak2 msh sempat ngeblog :)

    ReplyDelete
  10. Waah..ada Mbak Santi di sini. Bener ini Mbak Damar, Mbak Santi orangnya kaleeem...ngga kayak saya gerasa gerusu..xixi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.