Skip to main content

Film Anak Yang Baik

Kebanyakan anak-anak suka nonton film. Maka film untuk anak pun menjadi bisnis yang menjanjikan. Ada film yang bagus, bagus banget, ada juga yang jelek dan jelek banget. Nah, film anak yang baik itu yang seperti apa, sih? Menurut hemat saya ciri-ciri film anak yang baik itu adalah yang:

Ada Orang Tuanya
Ada orang tua dalam film anak. Menurut saya ini penting. Orang tua itu panutan, pelindung dan pengayom bagi anak. Tanpa kehadiran orang tua, film anak menjadi berbahaya. Siapa yang akan menjadi penengah kala ada konflik, misalnya.

Tapi jangan salah, orang tua di sini bukan berarti orang tua si tokoh betulan. Bisa jadi tokoh lain yang berperan sebagai sosok orang tua. Misal di film yang tokohnya mobil. Mobil mana punya orang tua? Nah, di sini ada sosok yang berperan sebagai ibu dan ayah.

Sosok orang tua pun tak selalu harus tampil di layar. Di film Charlie and Lola, misalnya, ayah dan ibu tak pernah digambarkan muncul, tetapi ada. Mereka bisa membuat keputusan dan menjadi tempat anak bertanya. Di sana cukup digambarkan dengan dialog antara Charlie dengan Lola yang mengutip perkataan ibu mereka. "Ibu menyuruh kita bergegas." Keren, ya.

Gambar dari https://en.m.wikipedia.org/wiki/Charlie_and_Lola_(TV_series)?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C6270735076

Tokoh Nakalnya Tidak Abadi
Dia lagi, dia lagi yang nakal. Hari ini nakal, lalu dapat hukuman, minta ampun, eh...besoknya nakal lagi. Akrab dengan yang begini? Iya. Coba deh bayangkan dampak yang timbul pada penonton anak. Bisa jadi anak menganggap proses menjadi baik itu sulit atau tak perlu. Nakal itu asyik! Apalagi kadang si nakal digambarkan bertingkah konyol dan jadi bahan tertawaan. Bikin orang tertawa itu kan baik. Nah, lho.

Jangan, dong. Tokoh berbuat nakal itu wajar saja, tapi harus segera dikisahkan bertaubat, berhenti nakalnya agar menjadi panutan bagi anak-anak.

Tokoh Baiknya Boleh Berbuat Salah
Jengah juga kan lihat tokoh baiknya nggak pernah salah. Beneeer terus. Baiiik terus. Dipujiii terus. Mana ada? Tokoh baik boleh kok khilaf. Yang penting ada penyesalan dan perbaikan. Ini untuk memberi contoh nyata kepada penonton bahwa kadang si benar pun bisa salah. Manusiawi, gitu.

Ini juga mengajarkan kepada anak bahwa hidup tak selalu datar. Ada kalanya si tokoh baik terpeleset masuk ke lubang kesalahan. Anak juga perlu belajar bahwa ada cara untuk kembali baik setelah nakal. Penting banget, kan?

Dialognya Santun
Kesal juga kalau tiba-tiba anak kita mengumpat. Siapa yang ngajarin? Setelah kita telusuri ternyata kosakata ajaib itu berasal dari TV! Huaduh! Kecolongan! Film anak yang baik, meski menggambarkan tokoh jahat atau nakal, tak perlu memakai dialog yang tidak santun. Saya kira bisa kok diakali dengan mimik wajah atau bahasa tubuh yang menggambarkan rasa ingin mengumpat, misalnya. Tapi jangan juga kemudian memunculkan gerakan tubuh yang memicu rasa benci seperti misalnya mengepalkan tinju ke arah tokoh lain.

Santun berarti juga tidak mengolok-olok. Sedih rasanya melihat film anak yang isinya mengejek keadaan fisik seseorang, baik secara verbal maupun nonverbal.

Bebas dari Pornografi
Jelas dong ya. Film anak itu harus bebas dari pornografi. Sekecil apapun. Seperti pakaian yang mengekspos sisi sensual, adegan peluk-pelukan, cium-ciuman, gandeng-gandengan, berdua-duaan. Bahkan kalaupun diganbarkan adanya orang tua yang rukun dan mesra, tak perlu menampilkan adegan-adegan itu.

Tanpa Sihir
Sihir pada hakikatnya adalah perbuatan buruk. Sayangnya, sihir di film anak kadang ditempatkan sebagai hal yang mulia. Mulia karena digunakan untuk membantu sesama. Sekali lagi, sayangnya sihir digambarkan begitu memesona misal dengan kilatan cahaya yang indah. Begitukah sihir? Serupa dengan permainan kembang api?

#

Hmm...susah amat ya bikin film anak yang baik. Tergantung cara pandang si pembuat juga. Kalau dengan pembatasan-pembatasan itu membuat para kreator film merasa terkungkung, ya jadi sulit. Lain halnya jika batasan ini dianggap sebagai tantangan, makin terpaculah kreativitas. Mirip dengan iklan rokok lah. Itu kan juga dibatasi banyak rambu, nyatanya bisa bikin juga, bahkan beberapa di antaranya memorable. Saya bukan pendukung (iklan) rokok lho ya. Cuma sebagai contoh saja.

Dari ciri-ciri film anak yang baik tadi, jika kiranya dalam sebuah film terdapat 90% dari ciri film anak yang baik, menurut saya bolehlah dikatakan film itu bagus. Kalau menurut pendapat teman-teman, apa ciri film anak yang baik? Boleh dishare di sini. Yuk, yuk.

Comments

  1. tipsnya menarik, nih, saya termasuk yg suka nonton, kadang bingung mau nonton yg mana setiap kali ada anak didik saya ngajakin nonton bareng. harus dr jauh hari saya lihat trailer, lihat jalan cerita dsb. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waw bagus sekali langkahnya, mas. Antisipasi itu penting ya. Dan menjadi orang yang dituakan itu juga harus up-to-date terus biar tidak keliru ya.

      Delete
  2. AH, sinetron2 anak2 itu nyebelin Mak .. banyak yang mengabaikan poin2 di atas. Kalo ada yang jahat ya jahat terus, gak kapok2 :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah, mak. Sudah nggak kapok, hatinya tertutup tapi populer. Gimana coba?

      Delete
  3. FIlm anak-anak, yg mendekati dunia anak-anak sebenarnya ya Ipin upin itu mbak. Kalau sinetron, meskipun diklaim sbg sinetron anak-anak, tapi tetap saja unsur tidak anak-anaknya dominan diterapkan tokoh anak-anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Upin Ipin tergolong film anak yang baik. Namun ya namanya anak, tetap harus didampingi saat nonton.

      Delete
  4. memang idealnya untuk anak-anak tuh seperti yg diceritakan di atas , tapi aku sih suka memberitahu kalau itu gak bener jangan diikuti. Karena bagaimanapun anak harus mampu melihat sesuatu yg gak benar dan mampu mengatakan kalau itu gak bener dan gak patut ditiru. Jadi setelah besar dia semakin pandai memilah-milah mana yg bisa ditiru mana yg gak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idealis ya, mah. Betul kata mamah,.ada kalanya yang tidak ideal itu menjadi salah satu sumber ilmu baru, yaitu ilmu mengenali yang buruk dan mengatur langkah untuk menghindarinya.

      Delete
  5. idealnya seperti itu. tetapi kadang mau tak mau harus berhadapan juga dengan sebaliknya. Justru momen ini yang saya gunakan untuk menerangkan kepada anak-anak bahwa ini tidak baik, tidak sesuai Islam, dan bla-bla lainnya. Mudah-mudahn pesan saya yang kena di mereka ya, bukan pesan filmnya. Tapi tetep harus ngedampingi anak dalam menonton film walau pun film anak-anak (katanya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mbak. Anak juga prlu jurus mengatasi keburukan ya. Sekaligus mengenalkan kepada anak bahwa dunia ini tidak ideal. Pendampingan merupakan cara yang tepat untuk menanamkan nilai kepasa anak. Meski begitu, di film yang baik pun bisa dibuat tidak ideal yang kemudian diikuti solusinya.

      Delete
  6. Upin ipin, adit sopo jarwo, tatonka, dan ada beberapa lagi *lupa* yang masih ok lah tuk ditonton. Kalau sinetron cuma di Net kayanya yang layak ditonton. Etapi itu sinetron bukan ya? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tatonka. Setuju, mbak. Ada nilai kepahlawanan, persahabatan, dll. Film dengan tokoh nonmanusia menurut saya lebih mudah untuk dibuat ideal. Betul nggak ya? Kalau tokoh manusia lebih rumit karena potensi mudah ditirunya tinggi. Jadi harus lebih berhati-hati membuatnya.

      Delete
  7. charlie and lola film favorit saya dan anak saya :) lucu-lucu banget mereka.. dan bahasa inggrisnya juga cukup gampang dimengerti walau logatnya british banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Ceritanya selalu sederhana dan yang khas anak banget. Saya suka karena di situ nggak ada nakalnya. Paling juga perasaan iri yang dipendam lalu terbaca oleh saudaranya lalu didiskusikan bersama. Nontom film anak bagus itu jadi mikir, film ini dibuat untuk anak atau orang dewasa sih? Berasa ikut kursus parenting gitu. Haha...

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.