Skip to main content

Mengajari Anak Berpuasa

Ujian itu bernama mengajari anak berpuasa. Saya tidak ingat pada umur berapa persisnya saya mulai berpuasa. Yang jelas berpuasa saat masih kecil dulu terasa berat karena meski saya tidak tergolong banyak makan tapi tetap saja godaan berkeliaran menggoyahkan iman.

Tahun ini anak saya sudah berumur 6 dan hampir 5 tahun. Sudah saatnya saya ajari mereka berpuasa. Puasa hari ketujuh ini merupakan hari kedua mereka belajar berpuasa. Terlambat? Saya pikir tidak. Mengajari anak berpuasa itu membutuhkan kesiapan mental yang tak sepele. Ya mental si anak, ya mental orang tua. Nah, sebagai langkah awal, saya memberlakukan peraturan sebagai berikut:

Sarapan sebagai sahur
Tidak ada cerita saya membangunkan anak sebelum subuh untuk ikut sahur. Tidak. Saya biarkan saja mereka terlelap seperti biasa dan bangun seperti biasa. Kenapa? Ya karena saya belum siap mental kalau-kalau mereka rewel dan minta menu macam-macam. Padahal menu sahur saya dan suami saya apa adanya saja. Tambahan pula saya bangun satu setengah jam sebelum adzan subuh. Rasanya akan repot sekali kalau juga harus menyiapkan menu sahur untuk anak dengan waktu yang relatif terbatas seperti itu. Mungkin di kesempatan lain saat anak-anak sudah mulai bisa diajak kerja sama, saya akan ajak mereka untuk sahur di jam sahur. Mungkin tahun depan, insya Alloh. Untuk saat ini, biarlah mereka sahur di jam sarapan.

Puasa Mbedhug
Puasa mbedhug maksudnya adalah berpuasa sampai bedug luhur berbunyi saja. Sebetulnya tidak mbedhug sungguhan, soalnya saya pakai patokan jam. Ceritanya saya ingin terapkan saat adzan luhur berbuka, ternyata sulit. Ya sudahlah, beberapa menit sebelum adzan juga tidak apa-apa *ibu malas*.

Kebayang yang ginian ya, Nak?

Itu pun sudah penuh perjuangan. Rengekan, muka cemberut, percobaan curi-curi makan dan minum tetap jadi menu utama saya. Padahal baru dua hari, ya. Eh tapi ketika mereka mogok berpuasa pun saya tetap membatasi mereka dari kegiatan makan dan minum di jam puasa mereka itu. Yang namanya ujian ya, pas mereka tidak saya arahkan untuk puasa malah mereka cenderung tidak rewel. Sungguh, ini ujian!

Hadiah
Sebagai pemacu semangat berpuasa, saya membuat tabel daftar ibadah di bulan puasa yang terdiri dari puasa, tarawih dan ngaji. Tiap kali anak-anak berhasil menempuh satu bentuk ibadah, meski masih a la kadarnya, diberi satu tanda centang. Kalau tidak melakukan, satu tanda silang. Hadiahnya apa? Semula saya ingin memberikan uang dalam celengan. Satu koin untuk satu centang, tapi rupanya uang kurang riil untuk anak usia segitu. Jadilah saya pilih iming-iming yang lebih nyata bagi mereka: es krim satu wadah besar jika berhasil berpuasa sebanyak minimal sepuluh hari dan tambahan satu kaleng biskuit kesukaan mereka untuk minimal sepuluh centang ngaji. Ini berlaku untuk masing-masing anak.

Kok cuma sepuluh centang? Iya. Saya khawatir kalau targetnya terlalu sempurna malah jadi beban ke anak dan sayanya stres. Nggak deh. Toh mereka baru belajar. Jangan sampai proses belajar membuat mereka enggan melakukannya lagi di Ramadhan yang lain.

Kenapa tarawih tidak dimasukkan dalam daftar tindakan yang mempengaruhi pemberian hadiah? Pingin sih sebetulnya, tapi kembali lagi ke target yang diusahakan tak terlalu sempurna, saya putuskan untuk tidak melibatkan tarawih dulu tahun ini.

Cukup seragam untuk tarawih saja.

#

Ketahuan banget ya malesnya saya ini. Tapi sungguh saya cuma ingin agar anak-anak saya kelak berpuasa dan beribadah lain secara ikhlas lillaahi ta'ala dan istiqomah. Menilik karakter anak-anak saya, dengan ucapan basmalah saya terapkan strategi ini. Tiap anak beda-beda kan, ya? *cari pembelaan*

Itu cerita saya mengajari anak berpuasa. Kalau teman-teman, gimana strateginya? Cerita, ya. Siapa tahu bisa menginspirasi saya dan bisa saya terapkan :-)

Comments

  1. Kalo aku dulu kelas 1 MI mulai puasa Mbak Diah, tapi masih mbedug dan bolong2 pastinya alias tidak sebulan penuh. Tapi kalo traweh rajin karena banyak temennya. Maksudnya ya trawehnya anak2, ga sekhusuk yang sudah dewasa ato anak besar yg sudah jowo :D.

    Menurutku yg penting niat buat nglatih anak Mbak. Apapun caranya mereka pasti pelan2 bisa belajar. Allahu a'lam ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu ya mbak, bahkan di lingkungan mbak Vhoy yang lbh religius (eh betul kan ya?)

      Aaamiiin. Semoga mereka bisa menghayati dan taat.

      Delete
  2. Raka sahurnya kadang juga msh sambil merem mb...puasa msh mbedug juga...klo sehari mungkin juga sdh kuaat....tp ayahnya blm tega....lha tubuhnya langsing gtu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi gitu ya? Lega, brarti anak-anakku masih segitu puasanya dimaklumi ya.

      Delete
  3. Hahahaaa jadi ingat dulu puasa mbedhug asiiik

    ReplyDelete
  4. tapi kok sy pernah baca artikel psikologi klw mengajarkan anak beribadah dengan mengimi-ngimingi sesuatu yang ia suka banyak manfaat negatifnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu ya mas? Tapi kl diiming-imingi hal yang ga disukai malah repot mas. Hehe...

      Eh maksud saya gpp, orang dewasa aja diiming-imingi surga kok sama Alloh.

      Delete
  5. Anak saya juga berumur 6 tahun di tahun ini. Puasanya cuma sampai jam 9 mak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi mulai dari jam sahur ya mak? Lega lagi deh kl gitu. Masih normal hehe

      Delete
  6. Ssaya dulu juga sering puasa mbedug, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung dulu masih ada bedug ya mas. Kl ga ada kan repot nunggu bedugnya ga bunyi2, terus ke mesjid pukul bedug sendiri hehehe

      Delete
  7. Aku waktu masih kecil selalu puasa setengah hari.. Huahahah.. Dasar gembul! :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gpp mbak, asal kecilnya ga sampe umur 20 ya :-D

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…