Skip to main content

Impian Ibu Dan Anak

Tahun ajaran depan, insya Alloh anak sulung saya sudah masuk SD. Umurnya baru 6 tahun lebih sedikit, sih. Tapi karena 'terlanjur' sekolah dini dan si anak sudah bersedia masuk SD, maka saya dan suami saya sepakat menitipkan nama anak kami ke SD terdekat sebelum pendaftaran dibuka secara resmi.

Deg-degan, itu yang saya rasakan. Harap-harap cemas, iya. Sebab anak kami ini masih semau gue soal bersekolah. Kira-kira nanti dia mampu tidak, ya?


Tapi anak kami ini berkali-kali ditanya kesiapannya masuk SD selalu menjawab siap. "Sampai siang sekolahnya, Mas. Nggak papa?" tanya saya. "Nggak papa," jawabnya. Pertimbangan kami memilihkan SD yang sekarang adalah karena lokasinya yang super-duper dekat. Hanya berjarak kira-kira 100 meter saja. Jadi kalau ada keperluan mendadak masih bisa 'kabur' dulu. Harapan kami sih tidak perlu pakai kabur segala, ya. Mohon doanya ya teman-teman.

Hal lain yang membuat saya agak lega adalah anak kami sendiri yang memilih SDnya. Katanya nanti kalau sudah SD dia akan berjualan di sekolah. Memang anak kami ini sudah punya keinginan berdagang sejak kecil. Di TK pun dia sudah ngebet jualan. Darah pedagang dari kakek-nenek dari pihak bapaknya kali ya. Tambahan lagi, bude-budenya di sini sebagian berdagang dan punya toko. Jadi, baiklah, motivasi dia masuk SD supaya bisa jualan akan kami turuti.

Dalam bayangan saya, anak kami ini sebaiknya berjualan makanan saja dengan konsumen teman-temannya satu kelas. Kalau satu kelas berisi 20 anak, rasanya masih mungkin saya buatkan makanan kecil untuk dijualnya. Saya? Iya. Rencananya saya yang membuat, anak saya yang menjual. Dalam benak saya, kue-kue seperti donat, bolu kukus atau bakpao. Pokoknya yang mudah-mudah saja tapi enak dan sehat.

Masalahnya, saya ini kalau bikin makanan kadangkala lumayan rasanya tapi tampangnya nggak karuan, hehe... Jadi, mumpung masih ada waktu beberapa bulan lagi, saat ini saya sedang belajar membuat kue yang enak, cantik dan harganya terjangkau. Asal tahu saja, jajanan di sekolah yang laris itu yang harganya seribu rupiah. :-)
Apa saja langkah saya?

Pertama, beli buku resep kue. Ini supaya saya betul-betul bisa serius karena sudah keluar duit untuk mendapatkannya, bukan cuma gratisan dari internet.

Kedua, menyiapkan perlengkapan memasaknya. Beli cetakan, timbangan dan lain-lain.

Ketiga, berlatih bikin supaya nanti sudah terbiasa dan feeling terasah, jadi tidak perlu pakai acara timbang-menimbang lagi.

Keempat, cari cara agar harga jual bisa 'masuk' ke isi kantong anak SD.
Itulah impian saya (dan impian anak saya) untuk tahun ajaran depan. Semoga Alloh meridhoi dan dapat terlaksana dengan baik. Aaamiiin.

"Postingan ini diikutsertakan dalam #evrinaspGiveaway: Wujudkan Impianmu"


 

Comments

  1. Moga impiannya tercapainya yaa mbak, bisa ditulis jadii buku tuh ide jualan jajanan sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin. Eh malah nggak kepikiran tuh mak. Makasih idenya :-)

      Delete
  2. semoga impiannya dapat terwujud Mak,semangat!

    ReplyDelete
  3. wah anaknya keren nih sudah mau jadi enterpreneur sejak kecil...bisa nambah-nambahin uang jajan
    semangat ya mak ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak. Malah ibunya yang bingung sendiri jadinya hehe

      Delete
  4. bagus itu bu, bakatnya sudah keliatan, kita sebagai orangtua tinggal mengoptimalkan bakatnya tsb, agar kelak menjada sarana untuk mencapai kesuksesan hidupnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Kang. Bersyukur juga ketika anak sudah terbuka begini

      Delete
  5. aamiiin semoga tercapai mak impiannya. saya juga kalo bikin kue seringnya gagal hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe..iya mak. Jadinya harus latihan terus ini biar jadi betul.

      Delete
  6. wahh kerenn/// smeoga laris manis ya mak jualannya :)

    ReplyDelete
  7. waahhh darah dagang itu memang menurun kali yaa... di keluarga say agak ada yg bakat dagang semuanya pekerja hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mak. Kalo dari garis saya pekerja, kalo dari garis suami itu turun-temurun berdagang.

      Delete
  8. keren deh keinginannya. Kerjasama yg baik antara ibu dan anak :) Semoga sukses ya...

    ReplyDelete
  9. Biasanya sebelum barang di lempar ke pasaran ada tahap "uji coba" kan mbak.....nah boleh tuh dikirim sampel gratisannya.......:-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...lah sampe sleman dah jamuren dong.

      Delete
  10. Wah, impian yang enak nih hehe. Moga segera tercapai ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin. Iya ya,.impian yang enak hehe...makasih mak.

      Delete
  11. Serunya, asyik tuh jualan.
    Moga berhasil ya, Mak.

    ReplyDelete
  12. seru ya mak jualan di dukung si kecil. SUkses ya mak jualannya
    http://www.kulinerwisata.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak. Saling mendukung. Makasih mak.

      Delete
  13. Wah, adik bersemangat sekali yang mau sekolah. di usia sekarang bisa matang kalau dewasa, Bun. kemampuan berwirausahanya pasti sudah ok nantinya. semangat buat bikin tampilan yang menggiurkan, Bun, hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat jualannya mas. Sanbil jalan motivasinya belajar juga dipupuk. Hehe...harus bisa tampilkan yg cakep nih. Makasih mas.

      Delete
  14. keren banget anaknya mbak mau berdagang sejak dini, kebanyakan anak2 seusianya belum mengerti itu dan malu kalau berdagang. semoga impiannya terwujud ya. aamiin

    terimakasih sudah berpartisipasi dalam GA wujudkan impian mu, salam hangat dari bogor

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.