Skip to main content

Kosmos Di Mata Saya



Melihat kembali perjalanan catatan saya di blog ini selama 2014 sungguh menarik. Blog ini masih muda, banyaaak sekali kekurangannya, tapi saya bersyukur dapat mengelolanya.

Apa yang paling menarik dari catatan saya selama 2014? Hmmm...sulit menentukannya karena setiap tulisan punya sejarah kelahirannya sendiri. Ada yang berhasil saya tulis dengan cepat, ada yang berhari-hari masih berupa draft saja. Ada yang sambil meledak-ledak, ada juga yang ditulis sambil berurai air mata. Ada yang ditulis dengan konsisten, ada juga (baca: banyak juga) yang slank-an. Namun satu yang sama: semua ditulis menggunakan bahasa yang se Indonesia mungkin. *tidak baku banget*

Ada juga satu tulisan yang penuh haru biru rasa rindu, yaitu Sabtu, 15 Maret 2014, Pukul 21.00 WIB, yang saya tulis sehari sebelumnya. Isinya tentang sebuah acara TV yang menarik jagad kosmis saya kembali mengapung di antara makhluk-makhluk kosmos lain.*halah*


Gambar dari natgeotv.com/za/cosmos-a-spacetime-odyssey

Bermimpi, berkhayal, berfantasi, bercita-cita, itulah yang saya rasakan kembali. Hidup terasa lebih penuh makna. Tapi bukan cuma itu. Menurut saya kedudukan ilmu astronomi di masyarakat masih dipandang sebelah mata. Pentingnya ilmu ini baru terasa dan dibahas ramai-ramai saat penentuan tanggal 1 bulan-bulan khusus di tahun hijriyah. Selebihnya ia dilupakan.

Kenapa, ya? Soal biaya, saya kira. Ngapain sih mikir pergi ke bulan kalau makan aja masih susah? Begitu kira-kira pendapat sebagian orang. Padahal kalau nantinya diajak bicara tentang ilmu gastronomi juga keluarnya pendapat yang serupa. Mau makan aja kok disuruh mikir? Hahaha... Sudahlah. Negara lain sudah mikir untuk pergi ke Mars bahkan bisa sampai mendaratkan robot peneliti di komet kita masih sibuk gontok-gontokan soal perut.

Rasanya ingin sekali ilmu atau pengetahuan tentang astronomi tidak hanya berhenti di film-film. Astronomi pada dasarnya adalah sains.
Sains sendiri menanamkan sifat rendah hati. Mengapa? Sebab sains terbuka pada adanya penemuan baru. Bisa jadi teori yang dulu susah payah ditemukan kini terbantahkan. Pun jika kemudian datang teori baru yang lebih ilmiah, sains menerimanya dan meninggalkan teori lama. Sikap seperti inilah yang saya kira penting bagi masyarakat: rendah hati, terbuka pada perubahan dan bersedia menerima hal baru yang lebih baik dengan lapang dada, tanpa merendahkan harkat dan martabat penemu teori sebelumnya.

Kembali ke tulisan saya tadi. Sebetulnya niat saya waktu itu ingin membuat catatan khusus tentang kosmos. Setelah tulisan itu tadi saya sudah membuat draft resensi minggu pertama acara itu. Sayangnya saya tak bisa menyelesaikannya. Barangkali inilah kekurangan tulisan Sabtu, 15 Maret 2014, Pukul 21.00 WIB itu. Tulisan itu hanya berhenti pada tahapan terpesona, baru sampai tahap ngiming-imingi, belum mengedukasi. Saya kira, lain kali jika ada serial TV yang bagus dan mendidik ada baiknya saya tulis seutuh mungkin dari seri ke seri. Atau jika tak memungkinkan, setidaknya saya bisa buat rangkuman keseluruhan acara itu sehingga ada manfaatnya bagi pembaca yang mungkin tak punya akses menonton acara itu. Ah, blogger yang baik. Semoga saya bisa menjadi yang seperti itu.

Comments

  1. iya ya mba, seharusnya jika memang ada hal yg bagus utk ditulis, lebih baik ditulis, supaya ketika kita membacanya lagi, akan kembali ingat hal tsb

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak. jadi bisa bermanfaat lebih lama ya

      Delete
  2. Untuk urusan 'astral', sepertinya kita umumnya masih jauh lebih gampang terpikat dengan astrologi atau malah yang ala 'dunia lain' ya.
    Oya, untuk video tentang kosmos (universe), ada beredar yang dari National Geogrphic (banyak episode, beberapa seasons), atau versi yang lebih pendek dari Stephen Hawking (cuma 3 episode). Salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahaha..dunia lain. iya mas, betul.

      Delete
  3. Saya datang dan sudah membaca “Self Reflection” di blog ini
    Terima kasih telah berkenan untuk ikut lomba saya ya
    Semoga sukses

    Salam saya
    #48

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.