Skip to main content

Ibu yang Jauh dari Anaknya

Beberapa minggu lalu seorang teman mengungkapkan keinginannya untuk berangkat kerja ke luar negeri lagi. Dulu sekali, mungkin sepuluh tahun yang lalu, ia pernah bekerja di luar negeri selama bertahun-tahun. Malaysia dan Taiwan pernah menjadi rumah kedua baginya. Kemudian ia menikah dan memutuskan untuk tinggal di kampung halamannya, merintis hidup bersama suaminya.

Namun Alloh menakdirkan rintisannya itu berhenti. Beberapa tahun membina rumah tangga, sang suami meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di jalan raya. Sedih, pedih dan pilu ia rasakan sebab saat itu anaknya yang kedua baru berusia empat bulan. Masya Alloh, saya tak sanggup membayangkan perasaannya.

Lima tahun berlalu. Kini ia merasa khawatir saat anak-anaknya beranjak besar. Usaha kios yang ia sewakan tak cukup membuatnya merasa aman. Maka ia memutuskan kembali merantau ke Taiwan, bekerja di pabrik sebagaimana yang dilakoninya dulu. Dalam waktu dekat ini kemungkinan ia segera berangkat meninggalkan kedua anaknya yang dititipkannya kepada sang adik.

Ada lagi seorang tetangga saya yang seorang IRT dengan dua anak. Ia dulu juga bekerja di luar negeri. Di Hongkong tepatnya. Di perumahan, ia menyewa rumah berpindah-pindah. Semenjak lebaran saya tak bertemu dengannya lagi. Ke mana? Ternyata anak-anaknya tinggal di rumah nenek mereka. Begitu juga dengan suaminya. Lalu, si tetangga saya tadi? Ternyata ia kembali ke Hongkong untuk bekerja.

Saya, yang hanya melihat dari luar, hanya bisa bersedih. Inna lillaahi wa inna ilayhi rooji'uun. Sungguh sulit. Sulit pasti melepas anak. Sulit pula mengubur rasa bersalah karena harus meninggalkan anak. Kalau boleh menangis, saya pasti akan mencucurkan air mata. Sedih dan haru. Bagaimanapun mereka adalah ibu yang harus menghidupi dan atau mengayomi anak-anaknya. Hanya saja jika boleh berandai-andai: andai biaya sekolah murah, andai biaya hidup tak membelit, andai ada tunjangan janda, mungkin kasus-kasus seperti ini tak banyak. Atau tak ada lagi.

Gambar dari http://jabanahsadah.blogspot.in/2011/04/siti-rahmah-tkw-dan-take-way.html

Comments

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…