Skip to main content

Rumah Warisan

Seorang ibu, tepatnya seorang nenek, bertemu saya dalam sebuah kesempatan singkat. Rupanya waktu berjalan cepat, sepertinya baru kemarin cucu si nenek itu lahir, sekarang sang cucu sudah berumur satu tahun lebih. Saya takjub sekali menyadari cara Alloh menjalankan makhluk yang bernama waktu ini. Di dunia ini saya kira tak ada yang lebih cepat atau lebih lambat daripada waktu.

Ibu tadi terlihat menua. Kerut wajahnya tak banyak bertambah, pun ubannya. Namun satu hal yang secara signifikan (baca: jelas sekali) terlihat: giginya mulai tanggal. Sungguh, gigi memainkan peran penting dalam menunjang kenampakan usia seseorang.

Saya bertanya-tanya, apa sebab si ibu tadi menua dengan relatif cepat mengingat saat kami terakhir bertemu beliau masih terlihat segar. Dengar-dengar ibu itu sekarang menempati rumah anaknya. Rumah miliknya, sepeninggal suaminya, dijual dan dibagi waris. Akhirnya si ibu tinggal bersama salah satu anaknya.

Hal serupa juga pernah terjadi pada kerabat saya. Beliau seorang janda yang akhirnya juga tinggal di salah satu rumah anaknya karena rumah beliau sudah dibagi waris. Selang beberapa bulan kemudian kesehatannya menurun.

Orang tua yang tidak lagi memiliki rumah atas namanya bagai orang kehilangan wilayah kekuasaan. Tidak lagi merasa bebas, mungkin merasa rikuh dan perasaan lain sebagaimana orang menumpang. Meskipun rumah telah diatasnamakan anak dan orang tua tinggal di dalamnya, sejatinya anaklah yang menumpang di atas harta orang tuanya, bukan sebaliknya.

Saya tak tahu hal apa yang terjadi sehingga warisan dibagi dalam keadaan salah satu orang tua masih hidup dan menyebabkan orang tua meninggalkan rumahnya. Hanya saja saya kira jika keadaan tidak mendesak, dalam arti tak ada hal darurat yang memaksa sebuah keluarga untuk menjual rumah, lebih baik jika warisan dibagi saat kedua orang tua sudah meninggal dunia.

Comments

  1. bukan mak Fenita. ini betulan. fiksi2 sy ada di blog lainnya.

    ReplyDelete
  2. kasihan mak Ninik. saya mbayangin kl ibu itu ibu saya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.