Hal - Hal Yang Dulu Saya Kritik Dari Ibu Yang Kini Saya Lakukan

Dulu saya sering tidak sepakat dengan ibu saya. Dalam banyak hal. Biasa, anak muda sok bijak. Sekarang, setelah saya menjadi ibu, tanpa disadari, saya malah mengcopy kebijakan ibu saya. Haha...nggak mutu ya! Nah, apa saja hal-hal yang dulu saya kritik dari ibu yang kini saya lakukan? Ini dia!

Make-Up Rumah Dadakan

Dulu saya paling heran kalau ibu tiba-tiba mendadani rumah hanya karena akan ada tamu. Yang ngecat lah, yang beli selusin tatakan baru lah, yang melitur kursi lah, yang ganti taplak meja lah. Menurut saya mbok ya biasa aja. Bersih-bersih seperti biasa aja, gitu. Berlebihan amat, batin saya. Kadang saya juga protes ke ibu, kenapa yang untuk sendiri biasa aja sementara untuk tamu harus selalu lebih kinclong.

Terakhir yang saya ingat, ibu mendadak menyuruh mereparasi lemari dapur saat saya baru saja melahirkan. Alasannya karena bakal banyak tamu datang. Iya, saya melahirkan anak pertama di rumah ibu. Maklum, anak mami. Haha...

Ternyata, eh, ternyata, ketika saya jadi ibu, begitu juga. Tepatnya saat anak sulung saya masuk SD. Waktu itu pelajaran olah raga pertamanya. Acaranya jalan kaki keliling perumahan karena SD-nya di lingkungan perumahan tempat kami tinggal. Begitu tahu kalau sulung saya jalan-jalan, saya buru-buru mempermak kilat teras dan depan rumah. Yang dirapi-rapiin, yang jalan depan rumah disapu, yang pagarnya dibuka sedikit biar terkesan welcome. Intinya saya ingin pas nanti rombongan kelasnya lewat, anak saya tidak malu menunjukkan tempat tinggalnya kepada teman-teman dan gurunya karena rapi. Haha...padahal... Eh, ternyata, Saudara-Saudara, rombongan itu mengambil rute yang lain. Tidak lewat depan rumah, Mbake... Wealaaah...
Tiwasno...
Mulane dadi wong aja sok pamer. Haha... Makanya jadi orang jangan suka pamer.

Usir Kucing dari Dalam Rumah

Kucing selalu hadir dalam perjalanan hidup saya. Konon kucing bisa mengenali manusia yang sayang pada kucing. Dan kepada orang-orang itulah kucing mau mendekat. Waktu kecil dulu saya selalu punya kucing. Kucing liar yang datang, kemudian diberi makan, lalu disayang-sayang dan resmilah dia menjadi anggota keluarga. Selanjutnya dia beranak-pinak dan jadilah satu dinasti kucing.

Dari seisi rumah, hanya Ibu yang sering mengusir kucing. Bagi saya kucing tidur di kasur itu oke-oke saja. Tapi Ibu selalu mengusir mereka. Apalagi kalau ada kucing melahirkan. Wah...Ibu paling getol mengusir supaya kucingnya tidak masuk rumah.

Dulu saya heran banget kenapa Ibu bisa begitu. Setelah saya jadi ibu, ternyata saya juga begitu! Paling sebel lihat kucing di dalam rumah. Mbok ya di luar aja. Kan sudah ada kandang di luar. Tentu saja anak-anak saya protes. Hehe...

Terus, apa alasan mengusir kucing? Sebab kalau mereka bikin kotor saya juga yang kebagian tugas bebersih. No way!

Nempil Makanan

Ibu saya dulu kalau jajan lebih sering tidak pesan. Misalnya beli siomay yang lewat depan rumah. Biasanya Ibu memerintahkan kami beli empat porsi saja padahal kami di rumah berlima. Saat ditanya, Ibu bilang tidak pingin. Tapi, pada saat jajanan sudah siap disantap, Ibu selalu datang bawa piring kelima dan mulai nempili makanan. "Nyicipi dikit, ya," begitu selalu kata Ibu. Tiap piring Ibu ambili sedikit. Jadilah lima porsi jajanan.

Saya selalu protes.
"Kalau pingin kenapa Ibu nggak beli aja?"
Tapi, sekarang, diam-diam saya meniru Ibu. Saya sadar setelah suami saya protes. Lhoh? Iya, ya? Rupanya di alam bawah sadar saya tertanam keinginan yang sama. Ingin ngirit. Hehe... Bukan cuma ngirit, tapi juga mengajarkan kebiasaan tidak pelit kepada anak.

Risih Dengar Musik

Saya termasuk penggemar musik barat sewaktu masih muda dulu. Saya mulai suka musik berbahasa asing sejak kelas 6 SD. Awalnya lagu-lagu berbahasa Inggris. Di usia dewasa muda saya mulai suka lagu berbahasa Jepang. *korban anime*

Alasan saya sih karena sambil nyanyi sambil belajar bahasa asing. Tapi Ibu saya seringkali ketar-ketir soal ini. Ya maklum, saya nyanyi asal aja, mana tahu liriknya seram. Ibu saya sering protes begini, "Nyanyi kok pake 'huah, huah'. Kayak orang muntah aja."

Belum lagi pas saya gemar banget sama boy band dan ikut-ikutan ngedance. Wah...Ibu saya bolak-balik nyindir.

Setelah jadi ibu, saya juga sering protes saat anak saya tiba-tiba nyanyi atau menyetel musik. Isinya itu lho. Belum lagi kalau anak sulung saya youtube-an musik, waaah...bisa langsung saya stop. Alasannya sama dengan Ibu: isi lagu itu belum tentu nggenah (beres). Saya tidak mau anak saya terlena dengan musik.

#

Tuh, kan. Ternyata ada hal-hal yang dulu saya kritik dari Ibu yang kini saya lakukan. Gimana dengan teman-teman? Btw, saya menantikan saat pulang kampung. Semoga saya bisa bertemu Ibu lagi dan mencium tangan beliau. "Bu, I'm a copy of you."

Comments

  1. hahaha..*ngakak karena ngalamin hal serupa* terutama yang make up rumaha dadakan^^

    ReplyDelete
  2. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya ya Mbak :)

    ReplyDelete
  3. senyum-senyum baca postingan ini karena saya pun sama Mba :)

    ReplyDelete
  4. ikut ngakak bacanya, hahahahaa...
    Terutama yang ngusir kucing itu, duuuhhh kok bisa sama sihh

    ReplyDelete
  5. wkwkwk..hanya "ibu" yang paham dunia "ibu".. :D

    ReplyDelete
  6. Sama mbak..klo jajan cukup 3 porsi. Ibu e nebeng.. Klo nggak gitu, ngabisin punya anake *eman2.

    ReplyDelete
  7. Like a mom, like a daughter judulnya ya mba

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts