Seulas Senyum Di Wajahnya

Setiap hari ibu itu duduk di depan rumahnya yang baru selesai direnovasi. Duduk menghadap ke Barat dengan wajah penuh beban kesedihan dan ditemani sebuah tongkat. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan. Pertama kali saya melihatnya, ibu itu sedang berjalan perlahan dengan tongkatnya itu. Saya terkejut, sebab wajahnya mirip seseorang yang saya kenal. Ternyata bukan. Ibu itu benar-benar orang baru bagi saya.

Beberapa kali saya melintas dengan sepeda motor sepulang mengantar anak ke sekolah, saya melihat ibu itu tengah berjuang, tertatih-tatih berjalan.

Belakangan, tiap kali saya melintas di situ, ibu itu sedang duduk di depan rumahnya seperti yang saya ceritakan di awal. Tiap kali bertemu, saya berusaha memberi salam dengan mengangguk dan tersenyum. Seingat saya, ibu itu belum pernah membalas anggukan dan senyuman saya. Atau barangkali juga beliau membalas, hanya saja saya tidak tahu.

Di lain hari, ibu itu tengah dibimbing untuk duduk oleh seorang laki-laki. Mungkin suaminya. Wajahnya masih menunjukkan beban. Barangkali sakit yang dideritanya benar-benar menjadi beban pikirannya. Sakitnya apa, saya pun tak tahu.

Semenjak sering bertemu ibu itu, saya jadi punya kebiasaan baru: menilainya. Hari ini beliau seperti apa, kemarin seperti apa, ada perubahan atau tidak. Sekaligus berharap esok hari beliau tampak lebih segar dan wajahnya tak lagi tersaput mendung.

Dan pagi ini saya melihat seulas senyum di wajahnya saat saya melintas. Semoga ibu itu makin ceria dan makin mendekati kesembuhan.

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts