Skip to main content

Keguguran Saat Hamil Muda (Bagian 2)

"Kalau jalan lahirnya belum terbuka, kita coba pertahankan, Bu. Tapi kalau sudah terbuka...ya nggak ada jalan lain, harus dikeluarkan." Suara Dokter Maya masih dapat saya ingat jelas. Ekspresi wajahnya pun masih saya ingat betul. Sebuah peristiwa yang mengantarkan saya ke meja operasi.

Baca juga:
Keguguran Saat Hamil Muda (Bagian 1)
Keguguran Saat Hamil Muda (Bagian 3)

Seperti yang saya tulis sebelumnya, keputusan pahit harus diambil. Calon bayi saya harus dikeluarkan. Dikuret. Di tengah tanggul air mata saya yang bobol, dokter menjelaskan prosedur kuret di rumah sakit itu. "Kuretnya dilaksanakan dengan bius total dan tidak rawat inap. Jadi kalau Ibu sudah siap saat ini juga, operasi bisa segera dilaksanakan. Silakan Ibu berembug dengan suami dulu."

Setelah berunding dengan suami, kami memutuskan kuret dilaksanakan saat itu juga demi menghindari bahaya lebih lanjut. Alhamdulillaah keadaan mendukung. Terakhir kali saya makan adalah empat jam yang lalu, jadi pelaksanaan operasinya tidak perlu menunggu saya berpuasa dulu.

Saya masuk ke Poli Kebidanan. Di sana saya dan suami diterangkan prosedur kuret dan diminta menandatangani surat pernyataan kesediaan dikuret dan satu lagi surat kesediaan dibius total. Maaf, saya tidak ingat betul istilah suratnya, yang jelas saya dan suami diminta bertanda tangan di kedua surat itu.

Selesai tanda tangan, saya dibawa masuk ruang persiapan operasi. Yang unik, di sini saya tidak dipakaikan baju operasi yang hijau-hijau itu, tapi saya disuruh pakai kain jarik. Jariknya boleh pakai milik sendiri, bisa juga beli di situ. Berhubung saya tidak bawa jarik dan cukup jauh kalau harus mengambil ke rumah, saya pilih untuk membeli saja. Di sini saya juga diminta melepas semua perhiasan yang menempel di badan, termasuk anting-anting. Semua barang bawaan saya titipkan ke suami yang menunggu di luar ruangan.

Di ruang persiapan, saya diinfus di tangan kiri, dites alergi obat, diambil sampel darah, diukur tekanan darah dan temperatur tubuh.

Saya juga diminumi antasida. Setahu saya itu obat untuk mengatasi nyeri lambung. Kemudian jalan lahir saya juga dimasuki obat. Entah obat apa. Oh ya, saya juga berbaring di atas selembar underpad yang fungsinya menyerap darah. Mirip pembalut tapi kayak perlak, gitu. Di ruang persiapan, saya ditolong oleh dua orang perempuan petugas medis (mungkin bidan) dan satu mahasiswi praktik.

Selesai di ruang persiapan, saya didorong ke ruang operasi yang ada di seberang ruang utama. Karena di ruang persiapan tidak tersedia topi operasi, saya diizinkan pakai jilbab, dengan catatan nanti ditukar dengan topi di ruang operasi. Jadi bagi yang berjilbab, boleh minta pakai topi selama dioperasi, ya.

Masuk ruang operasi, saya menunggu dulu beberapa saat. Mungkin sedang disiapkan. Setelah ganti topi dan pindah tempat tidur, akhirnya saya dibawa masuk. Di sini saya diangkat ke meja operasi. Deg-degan? Tidak terlalu. Dingin. Suara musik rancak terdengar. Lampu operasi di atas saya.

Lagi-lagi di sini tekanan darah saya diukur. Tangan kanan-kiri saya diikat sehingga saya betul-betul telentang. Tapi nggak apa karena tetap diselimuti. Seingat saya ada tiga petugas di sana. Satu perempuan dan dua laki-laki. Dokter anestesi datang, memperkenalkan diri dan meminta saya berdoa. Lalu beliau memberi tahu saya kalau bius akan segera disuntikkan lewat selang infus. Terakhir saya ditanya sesuatu, saya jawab, mata saya yang terpejam serasa merona merah lalu...hilang. Tiba-tiba saya sudah terbaring di ruang perawatan pasca operasi saat membuka mata.

Selonjorin kaki dulu...bersambung lagi insya Alloh.

Comments

  1. saya juga punya pengalaman kuretase, dua kali dengan kisah yang berbeda... huhu... nggak lagi2 deh pengennya :(

    ReplyDelete
  2. Terharu dengan ceritanya, semoga diberikan lagi sang calon bayi dan mba diberikan kesabaran dan ikhlas.

    Salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin. Makasih. Salam kenal juga mbak.

      Delete
  3. sabar ya mba..semoga cepat dapat amanah baby dari Allah

    ReplyDelete
  4. Di... Turut berduka cita ya. Maaf baru sempet baca2 blogmu sekarang.. Ga nyangka klo dirimu lg dpt cobaan. Yang tabah ya... Semoga bisa ketemu dengan adeknya di surga... Aamiin...

    ira_artha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah...ada Ira. Duh, makasih Ra udah mau main ke sini. Aaamiiin. Makasih support-nya.

      Delete
  5. Aduuuh berapa hari ndak main kesini sampai ketinggalan berita.

    Dulu sebelum Alfi saya juga flek terus keguguran Mbak, makanya pas hamilnya Alfi ada masalah, Dr. Maya langsung ambil tindakan Caesar sebelum waktunya lahir.

    Semoga dapat ganti lagi ya Mbak. Amin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh sama dokter Maya juga ya mbak. Alhamdulillaah ya Alfi sehat. Aaamiin. Malasih mbak.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.