Ajari Anak Perempuan Berenang Sejak Kecil

Anak-berenang

Hai, assalamu alaikum.

Kemarin pagi saya mengantar anak-anak berenang di kolam renang terdekat. Hari libur, kolam renangnya ramai, bahkan kolam anak-anak penuh dengan anak perempuan seusia SMA yang belajar berenang.

Banyak banget. Mungkin ada 30 anak perempuan  besar-besar. Berhubung ini kolam renang di desa, tidak ada aturan harus pakai baju renang. Pakai kaos dan celana training saja juga boleh. Beda aturannya dengan kolam renang SunCity di Madiun.

Tampaknya mbak-mbak itu belum bisa berenang semua. Mereka dibimbing seorang pelatih. Bergantian belajar meluncur dan mengepakkan, eh, menggerakkan kaki di air.

Sebelum mulai, mereka berdiri berjajar di tepian kolam lalu mulai berhitung. Bergantian nomor ganjil dan genap belajar meluncur.

Ada yang tampak percaya diri, tapi banyak juga yang canggung bahkan megap-megap saat menyelamkan kepala.

Wajar, sih. Namanya juga baru belajar berenang. Di usia segitu pula. Pasti rasanya ga seasyik saat masih kecil.

Belajar Berenang Saat Masih Kecil

Saya lalu merasa bersyukur dulu diajari berenang sedari kecil. Yang pertama ngajarin adalah ibu saya. Saya diajari menyelam dan meluncur.

Pas masih SD saya hampir tiap pekan ke kolam renang. Agak jauh dari rumah. Berangkatnya jalan kaki, kadang boncengan naik sepeda. Lewat persawahan. Sambil pura-pura jadi Lima Sekawan atau Trio Detektif. Sekalian pemanasan biar begitu sampai kolam bisa segera nyebur.

Setelah bisa meluncur, oleh teman yang sudah bisa berenang, saya diajari buka mata di air, gaya katak dan gaya punggung. Saya ga jago berenang, tapi bisa.

Di kolam renang kadang kami ga sungguhan berenang. Banyak mainnya. Paling seru adalah main cari batu.

Jadi kami lempar batu kecil ke dasar kolam lalu balapan mendapatkannya. Permainan ini melatih keberanian untuk berlama-lama di air.

Ada juga permainan batu dan gabus. Caranya nyebur ke kolam sampai dasar, tekuk lutut dan lengan di dada. Batu berarti tenggelam. Kalau sudah ga kuat nahan napas, jadilah gabus yang mengambang.

Seberapa dalam kolamnya, sih? Sekitar 125 cm, deh. Kadang kami juga main di kolam anak yang dalamnya cuma selutut dan sedada.

Mengingat itu semua, saya berpikir, alangkah baiknya kalau anak perempuan itu diajari berenang sejak kecil.

Sungguh ga nyaman belajar berenang saat sudah besar, terlebih perempuan yang tubuhnya sudah jadi aurat. Belum lagi ada halangan datang bulan yang menghalangi perempuan nyebur ke kolam.

Belajar-berenang
Keuntungan anak perempuan belajar berenang saat kecil

Jangan suruh beli baju renang yang tertutup, ya. Tidak semua orang mampu dan tidak semua orang menganggap itu prioritas. Mikirin BPJS naik aja sudah pusing.

Jangan juga suruh mereka bikin kolam renang pribadi. 😅😅😅

Ya, itu aja yang saya pikirkan. Berenang kan juga olahraga yang disunnahkan. Sayang kalau dilewatkan. Anak perempuan bisa berenang itu bagus, lho. Berguna untuk dirinya dan bisa juga untuk anak-anaknya kelak.









Comments

  1. Aku Ndak bisa berenang mba..hiks... Padahal pas kecil ya dolane di sungai mba. Temen2 pada berani dan autodidak jadi bisa berenang, tapi aku tidak... Soale dulu fase2 itu, aku ra wani klo di bagian yang dalam. Selalu cm di pinggir+maian air tok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alya bisa to?

      Biasanya gitu. Main air tp ga diajari, jadinya ya main air aja 😁

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts