Rumah Tanpa TV Dan Kuasa Ibu

Rumah-tanpa-tv


Halo, assalamu alaikum.

Sudah hampir satu bulan ini rumah kami sepi dari keberadaan televisi. Iya, kami akhirnya berhasil mewujudkan rumah tanpa TV! Alhamdulillaah.

Meniadakan TV itu bagai proses menyapih anak. Ada rasa ragu, was-was, ketakutan tapi juga optimisme. Semuanya jadi satu.

Hengkangnya TV dari rumah kami benar-benar merupakan keputusan besar yang membawa perubahan (agak) signifikan dalam hidup kami.

Peran saya sebagai ibu tentu menjadi kunci dari ini semua. Bukan bermaksud sombong atau pamer, bukan. Kalau sombong atau riya nanti malah pahala (yang kalau dapat) bisa amblas.

Ingin simak tulisan ini dalam versi audio? Klik di bawah ini:



Rumah Tanpa TV Betulkah Karena Ibu?

Hari-hari tanpa TV itu akibat manuver ibu. Kira-kira begitu kesimpulan yang didapat dari sebuah acara pengajian di sekolahnya anak-anak. Saat itu pokok bahasannya adalah bagaimana cara agar anak bisa fokus meraih prestasi. Salah satunya dengan menyingkirkan televisi dari rumah.

"Kalau mau tidak ada TV di rumah, tanyakan sama ibu, siap apa tidak?" begitu kata sang penceramah.

"Ibulah yang bisa membuat keputusan ini. Kalau ibu siap, maka TV bisa disingkirkan. Kalau belum, ya, maka TV masih akan ada di rumah."

Pernyataan itu seolah menegaskan kalau pemilik TV itu adalah ibu. Hmm...mungkin itu adalah pengalaman pribadi si penceramah, tapi mungkin ada benarnya juga. Nyatanya, yang paling sering nonton TV di rumah adalah saya, meskipun itu juga dalam rangka mendampingi anak menonton TV.

Baca juga: Film Anak Yang Baik

Rumah Tanpa TV, Padahal Sebetulnya Kami Sayang TV

Awalnya  biasa saja, lama-lama terjerat pesonanya. Oh, TV. Kami tak bisa hidup normal tanpamu!

Gombal...

Ya, jadi begini sejarahnya. Perrrtama kali kami punya TV di rumah itu saat pernikahan kami berusia 1,5 tahun. Saat mau nikah dulu memang kami sepakat untuk tidak menghadirkan TV di rumah. Saya sih oke saja sebab pada dasarnya saya bukan penggila TV.

Tapi, Saudara-Saudara sekalian, hidup bertiga saja bersama satu batita dan satu bayi di rumah ternyata bikin stres juga. Hidup kok serasa cuma ngurusin ompol dan ompol lagi. Maka, pada Januari 2011, saya memohon kepada suami, "Yah, beli TV, yok."

Baca juga: Acara TV Kesukaan Suami Istri Beda, Ga Apa-Apa?

Dan satu buah TV layar datar berdiameter sekian inci itu pun kami boyong ke rumah. Waktu itu kami beli di sebuah mal di Kota  Tangerang. Jauh-jauh dari sana, kami ajak si TV ikut pindah ke Madiun.

Pas beli, oleh mbak SPG-nya kami diingatkan bahwa, "Umur TV seperti ini paling cuma 2 tahun, Bu." Wew... Nyatanya TV itu melebihi harapan hidupnya dan bertahan hingga kini di usianya yang menjelang 8 tahun.

Diet-tv


TV sempat menjadi kesayangan kami. Dua batita saya kemudian besar menjadi balita dengan TV. Saat itu semua terasa mudah. Bahkan anak-anak belajar bicara Bahasa Inggris pun dari tayangan TV. TV berbayar, tapinya.

Saya juga menikmati tayangan TV kami. Acara masak-memasak seperti MasterChef Australia kesukaan saya, saluran TV khusus memasak seperti AFC dan Food Network adalah saluran yang tiap hari saya tonton. Jujur saja, gara-gara sering lihat The Pioneer Woman dan kawan-kawannya, saya jadi punya ide liar dalam memasak.

Baca juga: My Version of Sarah Benjamin's Prawn Mee

Kalau sedang tak ingin nonton acara soal gastrologi eh gastronomi, saya menancapkan mata di saluran HGTV. Bangun rumah! Cita-cita saya sampai sekarang.

Bosan mengkhayal soal rumah, saya  bisa nambah pengetahuan dengan nonton BBC Knowledge atau National Geographic. Ah, iya, saya penggemar Sir David Attenborough.

Film atau serial? Drakor? Reality show? Mmm...saya tidak terlalu suka acara-acara itu. Jadi meski tersedia saluran drama, saya pilih nonton yang lain. Malah kadang nonton serial di Fox Crime.

Pagi dan siang TV dikuasi anak-anak. Malam adalah jamnya suami saya. Saya kapan? Ya di sela-sela itu. Pas anak sekolah, pas anak sudah terlelap, pas suami belum pulang, pas suami sudah tidur.

Ide Rumah Tanpa TV Itu Muncul Gara-Gara Ini

Anak-anak suka nonton TV kapan saja mereka sempat. Pagi sebelum berangkat pun mereka masih nonton Miles from Tomorrowland. Gara-gara jarak rumah-sekolah cuma sepelemparan batu, jadilah kebiasaan berangkat mepet menjelma. Bisa ditebak, tiap pagi saya kerap ngomel-ngomel.

Pulang sekolah pun anak-anak selalu mencari TV. Nonton film animasi kesukaan yang meski sudah ditonton belasan kali ya tetap saja ditonton ulang. Kalau sudah begini, kuping mereka seperti ditelan sesuatu. Menghilang.

Saya lalu mengancam mereka, "Kalau ga bisa berhenti nonton TV, ibu ga akan bayar langganan TV-nya!"

Baca juga: Tak Harus TV Nasional

Dan...ancaman saya itu tidak membuat mereka gentar. Walhasil saya pun harus memenuhi ancaman saya. Sedih dong saya harus kehilangan acara favorit. Hiks...hiks... tapi demi sumpah janji, maka saya laksanakan.

Tanpa TV berbayar, bagaimana kebiasaan anak-anak? Malah makin parah! Tayangan TV lokal dan nasional tidak bisa memenuhi standar kami, eh, saya. Acaranya kurang berbobot, isinya hiburan semata yang bagi saya malah bikin stres. Sudah itu banyak iklannya pula.

Pusing...!!!

Anak sulung saya malah jadi pecinta sinetron azab kubur. Sudah begitu mereka jadi nonton berita nasional yang kadang ada tayangan kriminalnya. Belum lagi iklan sabun mandi, pembalut wanita, pemutih kulit dan deodoran bertebaran sepanjang waktu. Bahkan saat jam sarapan pun terpaksa nonton Upin-Ipin yang disesaki iklan rambut dan ketiak perempuan. Ampun dah.

Saya jadi uring-uringan sendiri. Keluar dari mulut singa masuk mulut buaya, nih! Harus ada perubahan besar! Saya tidak tahan lagiii...!!!

Demi mengerem kebiasaan buruk nonton TV terus-menerus, terpaksa saya keluarkan jurus ancaman lagi, "Kalau ga bisa diatur, TV-nya Ibu bawa ke kantor!"

Lagi-lagi ancaman saya tidak mengerikan bagi anak-anak.  Akhirnya, hari itu, 16 September 2018, TV saya suruh untuk diangkut ke rumah mertua alias kantor suami. Habis perkara.

Ketika Di Rumah Tanpa TV Lalu Apa Hiburan Di Rumah?

Saya sih sudah siap mental beradu argumen sama anak-anak. Tapi, atas kehendak Alloh, mereka tidak protes. Bahkan tidak merindukan TV. Sampai detik ini. Meja TV sekarang malah diduduki oleh magic com.

Ketika eyangnya anak-anak saya kabari, beliau mengira TV kami rusak. Setelah saya jelaskan, baru ibu saya itu paham dan mendukung.

Ada juga ibunya teman anak saya yang terheran-heran. "Terus, hiburannya di rumah apa dong?" Iya. Apa dong?

Kadang memang ada perasaan kehilangan TV. Pas malam hari ketika anak-anak sudah tidur, kadang saya merasa, "Eh, andai ada TV." Tapi berhubung sudah tiada, biasanya saya gunakan waktu senggang itu untuk pegang HP. Browsing, facebookan, main Pinterest, nulis di blog, coret-coret di aplikasi canva, bikin video dan macam-macam lagi. Intinya, bagi saya sih insya Alloh no problem asal ada kuota 😃.

Suami saya juga tampaknya tidak merindukan TV. Nyatanya juga biasa saja dan tetap main HP pas di rumah 😑.

Anak-anak gimana?

Si bungsu, berhubung masih batita, belum paham benar. Bagi dia yang penting ada ibunya, urusan lain mah gampang.

Mas Besar dan Mas Kecil juga tampaknya baik-baik saja. Pagi sebelum ke sekolah kami sarapan tanpa TV. Pusat perhatian kini berpindah ke tingkah laku adek yang mulai suka pecicilan. Ngobrol, bercanda, baca buku juga jadi kegiatan pagi.

Baca juga: Mengajak Anak Belajar Bahasa Inggris Tanpa Pusing

Pulang dari sekolah biasanya Mas Besar minta pinjam HP saya dan dapat izin main selama 1 jam. Unduh video tutorial adalah kegemarannya. Kalau Mas Kecil biasanya baca buku atau leyeh-leyeh saja. Yang nomor dua ini tidak terlalu suka sama gawai.

Kadang pas hari Sabtu ada teman yang main sebentar sepulang sekolah. Main game bareng atau nonton video offline di YouTube selama satu jam sudah cukup menghibur.

Rumah-tanpa-tv

Sore hari diisi kegiatan bermain sama adek atau bersepeda atau dolan ke sekolah. Ya gini deh kalau sekolahnya terlalu dekat. Main pun ke sekolah.

Ya, intinya alhamdulillaah tidak ada TV di rumah. Meski kadang ketinggalan berita tapi berhubung ada grup WA, jadi ga masalah deh. Tetap ada yang bantu kami update berita, seperti pas bencana gempa yang baru-baru ini terjadi di Lombok maupun Bencana Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Baca juga: Earthquake, A Small Scale of Doomsday

Ya, begitulah kisah rumah tanpa TV kami. Buat kami TV itu bagai pisau yang bisa dimanfaatkan sebagai alat, namun juga bisa melukai, tergantung cara pemakaiannya. Dalam hal ini, barangkali kami tak cukup lihai menggukannya sehingga terluka berkali-kali. Maka, keputusan menyingkirkan TV dari rumah kami pandang sebagai solusi terbaik.

Bagaimana dengan teman-teman, apakah juga menjalani kehidupan di rumah tanpa TV seperti kami? Seperti apa strateginya? Atau ide itu belum diwujudkan? Boleh dong bagi pengalamannya di sini, di kolom komentar. Yuk, yuk!

Comments

  1. Tapi hati hati juga mas, sekarang hiburan di tivi kadang kurang penyaringan, ada sinetron kurang baik untuk anak anak tanpa sensor, bener gak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Itulah sebabnya juga kami singkirkn TV dr rumah.

      Delete
  2. sudah sering saya terapkan, tapi memang awalnya susah
    harus telaten juga ya hehehe

    ReplyDelete
  3. Masih ada tv mb. Dulu kerja di tv...jd kayaknya bakalan susah klo harus hidup tanpa tv. Yang jd penghalang anakku bobok siang...sponge bob mba... Mana durasinya lamaaa bnget.

    ReplyDelete
  4. Sempat ngerasain nikmatnya nggak punya TV selama 4 tahun ngekos. Jadi bebas jalan, main, dan nonton sesuai takaran. Nggak berlebihan dan kelamaan natap layar. Walaupun kerja di bidang iklan, untungnya iklan digital, jadi nontonnya pindah ke Youtube.

    Eh sekarang nikah, kenal TV lagi. Kadang kalo rumah sepi, suka dinyalain biar ada suara aja sebagai teman.

    ReplyDelete
  5. Wah tv dirumah saya sih masih sering nyala sama ponakan, tapi saya sendiri hampir gak pernah lihat tv semenjak masuk kuliah, hehee

    ReplyDelete
  6. Salut buat njenengan yg bisa tanpa TV Mbak, aku masih belum bisa nih.. masih pecinta TV huhu

    ReplyDelete
  7. bisa ko sebenarnya tanpa TV asal banyak kegiatan aja buat anak

    ReplyDelete
  8. Wah saya suka banget gaya penulisan artikel ini. Mengalir gitu. Anyway saya suka juga tentang "penghapusan" TV di rumah. Menurut saya televisi sekarang banyak informasi yang salah kaprah dan ngga mendidik. Saya dan keluarga juga jarang banget nonton tivi, kecuali nonton berita. Alhamdulilah, saya ngerasa tenang dan damai aja gitu hehe.

    Baru pertama kali berkunjung di rumah blog ini. Bakal sering-sering balik lagi. Salam kenal, Diko blogger dari Semarang. :)

    ReplyDelete
  9. Karena di rumah tidak ada anak kecil, kehadiran TV hanya sebagai "peramai" saat rumah sepi atau buat temen sesaat sambil makan. Apalagi di rumah dipasangi wifi, TV rumah semakin tak pernah dihidupkan. Namun rencana saya saat sudah menikah nanti memang akan meniadakan TV pada list barang-barang yang harus dimiliki di rumah, karena sudah terbiasa tanpa TV, hmm sepertinya ini akan mudah. (nggaktau lagi nanti kalau mulai stress kaya mbak, karena permasalahan "ompol lagi-ompol lagi" itu, hehe)

    ReplyDelete
  10. Sudah lama sekali saya tidak pernah nonton tv, dari saya masing single dan hidup sendirian pun saya tidak suka nonton tv. Suami saya juga tidak suka nonton tv. Kita ada tv di rumah itu untuk nonton film aja. Kalau saya pribadi karena sibuk banget banyak kerjaan yang enggak ada habis-habisnya jadi tidak ada waktu untuk nonton tv. Saya nonton tv kalau ada berita yang heboh aja misalnya bencana alam atau pemilihan presiden. Selain ngikuti berita yang seperti itu, tv saya selalu off. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts