Skip to main content

Kentut Yang Mahal

Baru berani cerita sekarang soal kelahiran anak saya yang ke-3. Jadi ceritanya saya melahirkan pada 8 Ramadan lalu alias 2 Juni 2017. Si bayi diperkirakan lahir pada 5 Juni. Pada awalnya saya tidak berpikir akan ada drama seperti ini, kentut yang mahal. Cobaan, kata saya. Ujian. Bisa jadi. Hukuman? Kalau iya, semoga menjadi penggugur dosa.

Okelah, saya cerita dari awal saja, ya. Masuk bulan Ramadan kehamilan saya memasuki usia 40 minggu. Tujuh hari puasa saya lewati dengan sukses alhamdulillaah. Janin tidak protes saat saya ajak berpuasa. Bulan Juni tiba. Saya makin deg-degan karena hari perkiraan lahir makin dekat. Feeling saya mengatakan kalau jabang bayi akan lahir setelah lewat tanggal 1. Nunggu bapaknya gajian mungkin, hehehe...

Berhubung HPL-nya tanggal 5 Juni, saya berencana kontrol ke dokter di RSI Siti Aisyah, Madiun pada hari Sabtu, 3 Juni. Kenapa tidak pas tanggal 5-nya? Soalnya tanggal 5-9 Juni kedua anak saya harus menghadapi Ujian Kenaikan Kelas. Saya sungguh tidak berharap saya melahirkan di tanggal-tanggal itu. Kalau bisa sebelumnya atau sesudahnya. Pokoknya jangan pas UKK. Kasihan anak-anak, pikir saya.

Pikir saya juga, kalau bisa sih jangan mundur dari HPL, soalnya saya takut si bayi membesar di kandungan sampai sulit lahir seperti anak kedua saya yang drama banget. Duh, bumil banyak maunya! Ga apalah, mumpung Ramadan, banyak-banyak berdoa.

Baca juga drama kelahiran anak kedua: Saya Tak Ingin Hamil Lagi Tapi Kemudian Saya Menemukan Cinta

Dan pada 2 Juni sore selepas sholat Asar, saya mulai merasakan sengkring-sengkring. Saya pikir, biasa, paling juga nanti hilang. Saya pun masih sempat belanja keperluan bulanan seperti beras, sabun mandi dan sebagainya. Segala bayaran listrik, air, SPP juga sudah saya siapkan di amplop-amplop. Saya juga masih sempat goreng tempe dan menyiapkan kolang-kaling untuk buka puasa.

Jam 5 sore, rasa sengkring-sengkring itu makin teratur. Saya pun merasakan, ini saatnya. Baru di kelahiran ini saya merasakan mulas di rumah setelah pada kehamilan sebelumnya mulasnya selalu sudah di RS akibat diinduksi. Saya segera menelepon suami. "Udah kerasa, Yah," kata saya. Suami saya bergegas pulang dan menyiapkan kendaraan bersama pak sopirnya kantor. Anak-anak saya siapkan. Mereka hepi banget tahu kalau adik mau lahir. Sementara saya meringis-meringis merasakan mulas, anak-anak malah menari-nari girang.

Pas adzan maghrib, kami dalam perjalanan ke RS. Mampir dulu di minimarket untuk beli air guna membatalkan puasa.

Sampai di RS, saya dengan PD-nya langsung naik ke lantai 2 tempat ruang bersalin. Saya bilang mau daftar. Oleh petugas, saya dimintai buku KIA.
"Mau operasi tanggal berapa?" tanya si mbak bidan.
"Hah? Normal, Mbak," jawab saya.
"Oh, Ibu mau normal? Kalau normal daftarnya di UGD dulu."
Saya melongo.
"Tapi ga papa, sudah di sini juga," kata si mbak yang bikin saya lega.

Setelah itu suami saya diminta mengurus ini dan itu sementara saya disuruh langsung masuk ruang bersalin. Anak-anak ditekel pak sopir untuk buka puasa.

"Buka 3," kata mbak bidan.
"Miring kiri, ya, Bu. Kalau sakit tarik napas panjang dan buang napas lewat mulut," instruksinya.

Saya mengangguk saja dan langsung ambil posisi miring ke kiri sambil sholat maghrib. Ga wudhu, tayamum saja. Selesai sholat, saya diberi obat agar BAB lewat dubur karena sejak kemarinnya saya belum BAB. Tidak pakai lama, saya langsung ke belakang.

Duduk di toilet ternyata membantu mengurangi rasa sakit. Maksud saya, posisi duduk bisa mengurangi sakitnya pembukaan. Duduk sambil goyang pinggul sedikit-sedikit. Posisi ruku' sambil goyang pinggul juga bisa mengurangi sakit. Intinya, goyangkan pinggul pelan-pelan.
Tapi ini cuma berlaku sebentar buat saya. Soalnya selanjutnya saya berada di meja operasi. Iya, akhirnya saya memilih melahirkan lewat operasi caesar.

Di ruang operasi, ternyata bius lokal tidak bersahabat dengan saya. Hanya kaki kiri saya yang hilang rasa. Sementara kaki kanan dan perut saya masih bisa saya gerakkan, bahkan rasa mulas akibat pembukaan jalan lahir tidak hilang. Berbeda dengan operasi caesar 7 tahun lalu, ketika obat bius disuntikkan, saya segera tidak merasakan sakit apapun.

Sedikit panik, saya menggerak-gerakkan kaki kanan saya. Takut dong kalau tahu-tahu dibedah. Hoaaa...

"Masih kerasa, Dok...!" teriak saya berkali-kali.
Dan akhirnya pak dokter anestesi menyuntikkan sesuatu lewat selang infus dan kepala saya terasa ringan. Saya pun segera naik Stellosphere. Keliling jagat raya, kristal di langit, suara-suara yang saling tumpang tindih...dan...jam menunjukkan pukul 12 malam kurang. Saya sudah melahirkan seorang bayi laki-laki pada pukul 21.59.
#
Malam itu, di kamar, saya menggigil hebat karena demam. Suami saya menaikkan suhu AC dan melapisi selimut saya, tapi saya masih menggigil. Setelah beberapa lama, badan saya mulai normal dan saya sempat tidur pulas hingga bangun di jam sahur: jam 3 pagi.

Soal menggigil ini biasa menurut saya. Soalnya pada operasi caesar sebelumnya saya juga menggigil. Sebabnya apa? Saya belum tahu.

Esoknya, saya melihat bayi saya untuk pertama kalinya. Bahagia tentu saja. Syukur alhamdulillaah bayi saya sehat. Drama dimulai pada hari berikutnya.

 #

Perut terasa penuh sekali. Makan tak enak,tidur pun tak nyenyak. Sebenarnya luka karena operasinya tidak sesakit yang dulu. Entah kenapa yang ini enak aja dipakai tertawa. Proses miringnya juga lebih cepat. Hanya saja saya sudah dua hari belum kentut. Kembung, sakit kayak ditusuk-tusuk. Lemas tubuh ini.

Kebetulan DSOG saya sedang di Surabaya, jadilah konsultasinya jarak jauh. Dokter jaga yang memeriksa saya akhirnya menyarankan saya dirontgen perut. Waduh...

Dengan lemas saya dibawa ke ruang radiologi pakai kursi roda. Di sana saya diminta tidur berbaring lalu difoto dan tidur miring lalu difoto lagi. Yang paling sakit itu saat harus miring. Sampai nangis saking sakitnya. Hasilnya? Ada gas di perut saya. Alhamdulillaah bukan sesuatu yang tertinggal, ya...

Hari berikutnya masih sama. Belum bisa kentut meski sudah dikasih obat lewat infus, sudah dicoba untuk BAB dan sebagainya. Tetap belum kentut. Ya Alloh...saya nyaris putus asa. Perawat juga selalu menanyakan apakah saya sudah kentut. Jawabannya tetap belum.

Akhirnya di sore itu pas suami saya sholat asar, saya ingat sesuatu. Ya, gas itu kan suka cari tempat yang lebih tinggi. Saya pun ambil posisi merangkak. Dan...berhasil... Air mata saya tumpah. Baru kali ini saya merasakan nikmatnya buang angin.

Saya sesenggukan di dekat suami saya yang sedang sholat. Alhamdulillaah...solusinya sungguh sederhana. Saya pun bersujud syukur dalam haru. Dalam posisi itupun makin lancarlah gas buangan itu keluar dari tubuh. Masya Alloh...

Kabar baik ini diterima semua orang yang tahu keadaan saya: keluarga, dokter dan perawat. Bukan cuma saya yang lega, mereka juga.

Kalau ingat itu, kata suami saya, itu kentut yang mahal. Ah, iya...

Teman-teman ada yang punya pengalaman serupa? Gimana ceritanya?

Comments

  1. Duh, kita benar-benar kudu banyak bersyukur nikmat Allah ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat amat mbak. tak ternilai kesehatan itu. alhamdulillaah.

      Delete
  2. Aku habis SC raka juga menggigil..dingin bnget. Tak kiro krn kehilangan bnyk darah mb..tapi entahlah, bnr pa nggak.

    Eh..aku dl nunggu kentut apa nggak ya, lupa aku mba😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. gitu kali ya lis. tapi kok ga ditransfusi darah ya?

      Delete
  3. Mbak saya juga Caesar lagi setelah diberi kesempatan merasakan sakitnya kontraksi semaleman.

    Kentutnya hampir 12 jam setelah melahirkan. Memang rasanya luar biasa nikmat ya Mbak. Apalagi setelah kentut diperbolehkan makan meskipun cuma bubur :)

    ReplyDelete
  4. Wah aku ya pernah ngalamin mba. Ikut deg2an pas abis operasi belum kentut . Hahhahaa

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.