Skip to main content

Mendoakan Indonesia

Alhamdulillaah. Perjalanan Indonesia sebagai negara telah mencapai usia 71 tahun. Puji syukur kepada Alloh yang telah menunjukkan kuasa-Nya. Sekian lama dijadikan budak oleh berbagai bangsa, toh bisa juga lahir sebuah negara merdeka.

Sudah jadi sunnatullah, setiap bangsa akan mengalami masa kelahiran, pertumbuhan, kemunduran, bahkan kematian. Adapun nasib suatu kaum tergantung usahanya. Jika baik usahanya, maka baik nasibnya, dan sebaliknya. Lalu di usia 71 tahun, Indonesia berada di tahap mana, dengan nasib seperti apa? Sungguh, kita inilah yang mencetak masa depan kita sendiri.

Belakangan ini baru saja marak istilah 'impor menteri' berkenaan dengan kasus Menteri ESDM yang kemudian terpaksa dimantankan karena ternyata punya paspor AS. Terlepas dari pro dan kontra soal kapabilitas, prestasi dan kesetiaan sang mantan menteri terhadap Indonesia, sudah terlanjur ada yang dengan berolok-olok mengatakan soal 'impor presiden'.

Saya tidak sedang membahas sosok tertentu, ya. Yang saya tangkap dari soal olok-olok seperti 'impor presiden' tadi sesungguhnya tak patut dilakukan. Kenapa? Karena olok-olok itu bisa saja menjadi doa. Dan sadarkah kita, mendoakan keburukan bagi negara dan bangsa sama dengan mendoakan keburukan bagi diri sendiri?

Jika benar kita diberi presiden impor oleh Alloh, bisakah kita membayangkannya? Nyamankah? Apa bedanya dengan 72 tahun yang lalu?

Baca juga: Untuk Apa Jadi Paskibraka?

Indonesia, negara tercinta ini, tempat kita dilahirkan dan dibesarkan, sudah mengalami pasang yang begitu tinggi dan surut yang begitu rendah. Indonesia, pasar yang luar biasa di ASEAN, tak heran banyak yang menbidik kita. Wajar kalau banyak pihak juga ingin menguasai kita. Mulai dari VOC, penjajah Belanda, penjajah Jepang, penjajah pemikiran hingga penjajah moral sekarang ini. Barang dan jasa dari berbagai bentuk, baik yang bermanfaat, yang membawa keburukan, hingga yang syubhat, semuanya berebut masuk dengan berbagai cara.

Indonesia yang mempesona

Jika Indonesia ini seorang selebriti, tentunya bayarannya sudah selangit. Penggemarnya buanyak. Follower-nya jutaan. Sang manajer pun bisa mematok harga dengan semena-mena. Toh berapa saja yang diminta bakal dipenuhi penggemar. Hebat, kan?

Sayang, kan, kalau potensi sehebat itu disia-siakan? Nah, kita ini sebagai pemilik negara, yang barangkali tak bisa memberikan sumbangan secara fisik, ada cara luar biasa yang bisa kita lakukan. Jadilah warga negara yang ikhlas. Doakan kebaikan untuk negara kita, jangan keburukan. Meski terdengar pahit, tapi keburukan negeri akan menimpa penduduknya juga. Bukankah bencana akan menggerus semua yang ada di wilayah bencana, tidak memandang baik atau buruknya seseorang?

Dan ingatlah, pemimpin itu lahir dari rakyat. Seperti apa kualitas rakyat, seperti itulah pemimpinnya.

Jadi, yuk, jadi warga negara yang baik. Doakan kebaikan untuk negara ini. Seperti doa yang dulu sering dibaca saat upacara hari Senin pas SD. Ada yang masih ingat doanya?

Tulisan ini adalah hasil collaborative blogging dengan tema Kemerdekaan. Simak juga tulisan Virly KA:
Tentang Indonesia dan Gotong-Royong,
Ade Delina Putri:
Bersama Kemerdekaan, Harapan Akan Selalu Ada
dan Liza P. Arjanto:
Makna Kemerdekaan Bagi Kita Saat Ini.

Comments

  1. banyak orang bilang bahwa indonesia mengalami kemunduran di usianya yg ke 71 ... nasionalisme semakin kurang, yg jadi acuan malah budaya asing

    apapun itu, kita sebagai ibu, punya peran penting bagi anak2 kita supaya mereka tumbuh menjadi anak2 yg cinta indonesia ... dan enggak lupa menyisipkan doa yg terbaik untuk indonesia, berdoa rame2 itu katanya (lagi) lebih makbul

    ReplyDelete
  2. Saya doakan semoga Indonesia setidaknya tidak lebih mundur dari kemaren.

    ReplyDelete
  3. Mbak Soraya: ga lepas dari peran kaum ibu ya mbak.

    betul itu. perlu doa rame-rame. setidaknya setiap ibu mendoakan Indonesia agar jadi lebih baik.


    Mas Mirwan: aaamiiin. semoga kita menjadi lebih baik dan diridhoi Alloh.

    ReplyDelete
  4. Saatnya mendoakan Indonesia agar lebih baik, nyaman dan tenteram untuk anak cucu kita ..

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah kemarin di tempat tinggalku diadakan syukuran sembari do'a bersama dlm rangka kemerdekaan. Adem jadinya :)

    ReplyDelete
  6. semoga indonesia punya rakyat tg semakin dewasa , majulah indonesia

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.