Skip to main content

Seulas Senyum Di Wajahnya

Setiap hari ibu itu duduk di depan rumahnya yang baru selesai direnovasi. Duduk menghadap ke Barat dengan wajah penuh beban kesedihan dan ditemani sebuah tongkat. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan. Pertama kali saya melihatnya, ibu itu sedang berjalan perlahan dengan tongkatnya itu. Saya terkejut, sebab wajahnya mirip seseorang yang saya kenal. Ternyata bukan. Ibu itu benar-benar orang baru bagi saya.

Beberapa kali saya melintas dengan sepeda motor sepulang mengantar anak ke sekolah, saya melihat ibu itu tengah berjuang, tertatih-tatih berjalan.

Belakangan, tiap kali saya melintas di situ, ibu itu sedang duduk di depan rumahnya seperti yang saya ceritakan di awal. Tiap kali bertemu, saya berusaha memberi salam dengan mengangguk dan tersenyum. Seingat saya, ibu itu belum pernah membalas anggukan dan senyuman saya. Atau barangkali juga beliau membalas, hanya saja saya tidak tahu.

Di lain hari, ibu itu tengah dibimbing untuk duduk oleh seorang laki-laki. Mungkin suaminya. Wajahnya masih menunjukkan beban. Barangkali sakit yang dideritanya benar-benar menjadi beban pikirannya. Sakitnya apa, saya pun tak tahu.

Semenjak sering bertemu ibu itu, saya jadi punya kebiasaan baru: menilainya. Hari ini beliau seperti apa, kemarin seperti apa, ada perubahan atau tidak. Sekaligus berharap esok hari beliau tampak lebih segar dan wajahnya tak lagi tersaput mendung.

Dan pagi ini saya melihat seulas senyum di wajahnya saat saya melintas. Semoga ibu itu makin ceria dan makin mendekati kesembuhan.

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.