Skip to main content

Desa Mawa Cara

Hidup di tengah masyarakat yang punya kebiasaan agak berbeda dengan kita itu kadang membuat rasa galau muncul. Kadang adaaa aja pertanyaan yang tak bisa kita jawab karena, ya, memang kita tidak tahu persis alasan sesuatu hal terjadi. Seperti misalnya pertanyaan, "Kenapa di tempat asalmu nggak ada anu, sedangkan di sini ada anu. Padahal masih sama-sama orang Anu kita ini." Mumet nggak? Mau jawab apa cobak? Dulunya saya juga cuma bengong cengar-cengir aja. Sekarang dengan tenang saya jawab, "Desa mawa cara."


Apa tuh 'Desa Mawa Cara'? Secara harfiah mirip dengan pepatah 'Lain Ladang Lain Belalang. Lain Lubuk Lain Ikannya'. Setiap tempat punya caranya sendiri-sendiri.
Oke, kembali ke desa. Kadang walau sama-sama dari suku Anu, masing-masing daerah punya perbedaan. Geser dikit ke Selataaan aja, misalnya, sudah ada yang berbeda. Bisa pada cara pengucapan atau kosakatanya. Misalnya, terigu dengan teligu; srundeng dengan sundreng; brokat dengan broklat. Mana yang benar? Wah, mana, ya?
Perbedaan pengucapan atau kosakata sih agak lumayan bisa ditolerir. Yang agak bahaya itu yang ada di tataran adat kebiasaan. Ini nih yang saya beberapa kali kesandung. Contohnya soal sumbang-menyumbang acara pernikahan. Nyumbang uang atau barang. Kalau barang, barangnya apa? Terus kalau ada pesta nikah di dekat kita tapi kita tidak dapat undangan itu gimana, baiknya datang atau tidak? Kalau datang bawa apa? Datang sendiri atau berpasangan? Datangnya jam berapa?
Banyak kan persoalannya. Solusinya ya tanya sama tetangga kanan-kiri yang terpercaya.
Itu masih agak mending. Ada yang lebih bahaya lagi, yaitu yang menyangkut kepercayaan. Pernah seorang teman bercerita kalau dirinya terpaksa mretheli oleh-oleh pisang yang dia bawa pas menjenguk orang sakit. Perkaranya, di daerah situ ada pandangan bahwa njenguk orang sakit bawa pisang utuh dengan tandannya itu sama artinya dengan mendoakan keburukan. Baiklah. Ambil jalan tengah saja, pisangnya dipreteli. Tarik napas panjang. Yah, desa mawa cara.

Comments

  1. Di situ bumi di pijak, di situ pula langit di junjung. Tapi beda budaya itu kdng bikin capek mb...di tempatku kebiasaan masyarakatnya dikit- dikit kenduri....mau puasa, puasa dpt 21, mau lebaran. Itu blm klo hamil, meninggal dr 3 hari mpe 1000 hr.... Beda bngt ma rumah asal dulu, dimana tradisi2 kyk gitu dah ilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jane ga semua langit harus dijunjung ys tapi kita hormati aja. Lha gimana lagi wong kita hidup bermasyarakat

      Delete
  2. Harus bisa beradaptasi dengan budaya yang kita tempati. Kita adalah bangsa yang multi etnis dan berbagai agama, maka dari itu, saling memahami satu sama lainnya bisa menjadikan kita sebagai bangsa yang kuat.

    ReplyDelete
  3. Iya tuh, aku agak susah menyesuaikan diri lagi di Jawa, keluar rumah dikit dengar pintuku ceklek, udah ditanyain sama tetangga aku mau kemana wkwkwkkk

    ReplyDelete
  4. Susah-susah gampang sih kalo menyesuaikan diri dengan tradisi di suatu desa.

    ReplyDelete
  5. Keragaman, itulah Indonesia berbeda-beda tapi tetap satu jua

    @siethi_nurjanah

    ReplyDelete
  6. Jangankan beda kota Mbak, beda kecamatan ato desa kadang udah jauh banget perbedaan budayanya. Tapi sy senengnya kalo berkunjung ke tempat lain itu salah satunya ya itu, jd tahu budaya daerah lain, terutama yg terkait keseharian di sana.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.