Skip to main content

Pengalaman Beli Film Di Online Shop

Online shop, siapa sih yang sekarang nggak kenal dengan nama ini? Sebagai netizen, saya pernah mencicipi belanja di online shop meski baru kelas online shop di facebook. Satu-satunya barang sebelum ini yang berani saya beli adalah buku. Yoi. Menurut saya buku adalah jenis barang yang sudah jelas keadaannya. Kita bisa baca review-nya dulu atau bisa dengar dari teman. Saya belanja buku lewat teman dan lewat sebuah akun khusus jualan buku. So far so good, alhamdulillaah. Nah, setelah berani belanja buku, saya mencoba belanja barang lain: film anak. Pengalaman beli film di online shop ini agak beda. Ternyata ada satu hal fatal yang lupa saya cermati sebelum membeli.

Seperti ketika membeli buku, saya beli film ini lewat akun di facebook. Penjual yang ini adalah temannya teman. Saya dapat rekomendasi ya dari teman itu. Setelah dapat nomor kontaknya, saya pesan satu kumpulan film anak muslim yang dikemas dalam flash disk. Wah, sudah nggak pakai CD lagi, ya, sekarang. Lebih memudahkan, gitu.

Setelah tanya harga dan ongkos kirim, saya langsung transfer hari itu juga. Lima hari kemudian, kiriman itu tiba. Dengan penuh semangat, saya colokkan flash disk itu ke pemutar DVD. Terbayang sudah bagaimana gembiranya anak-anak saya. Tapi... tidak mau mutar. Waduh...salahnya di mana nih?

Saya pun menghubungi penjualnya. Setelah saling menjelaskan baru ketahuan kalau film yang dijual tadi berformat mp4, sedangkan pemutar DVD saya tidak bisa membaca file berformat mp4. Astaghfirullaah. Sia-sia dong.

Usut punya usut ini adalah kesalahan saya sejak awal, yaitu kurang teliti. Seharusnya saya menanyakan terlebih dulu format filmnya, bukan asal pesan saja. Memang sih saya khilaf bertanya karena begitu berbinar-binar saat dapat informasi dari teman saya tadi. Sekali lagi: kurang teliti.

Sayangnya penjualnya pun kurang teliti dengan alpa menginformasikan spesifikasi barang yang dijualnya. Dan saat saya komplain pun penjualnya kurang bisa memberi solusi yang melegakan. Ya, husnuzhon saja lah, siapa tahu ada hikmahnya. Dan betul, saya jadi punya bahan untuk ditulis di blog ini. :-D

Terpaksalah saya mengubah format film tadi dari mp4 ke mpg pakai software Format Factory.

Pinjem laptop suami.

Terus gimana? Rugi dong? Ya dan tidak. Rugi waktu dan biaya, iya. Tapi juga dapat tambahan ilmu: teliti sebelum membeli.

Gimana, ada yang juga punya pengalaman beli film di online shop? Bagi ceritanya, yuk di sini. Yuk, yuk!

Comments

  1. Alhamdulillah iso diputer akhirnya. Baru tau klo formatnya bisa diubah... Met nonton film damar n rojat? Eh...isinya brp film mbak, kok pke flashdisk? Tp harganya jd lebih mahal drpd dikemas dlm cd/ dvd ya pastinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bisa diubah pakai software. Lha dulu pernah bawa flash disk ke jogja, dah diformat mpg, ee jebul di sana ga bisa diputer juga.

      Delete
  2. saya nggak pernah beli film, saya selalu download atau nonton streaming online, Bunda. haha.

    Saya selalu nonton streaming berhubung kecepatan internetan saya lancar jaya tanpa hambatan *ini mulai sombong* saya biasanya streaming atau download di http://putlocker.is/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur ya Mas punya koneksi yang cepat. Di sini bisa nonton video kalo nebeng wi-fi kantor si ayah. Berhubung perusahaan keluarga, jadi kalo hari libur anak-anak minta ke kantor buat internetan. Hehe..

      Delete
  3. dvd punya suami merk polytron juga nggak bisa muter mp4 tu Mbak, terus aku format jadi mp3 masih nggak mau muter, salahku ng ndi? hehe jadi formatnya ke mpg?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi pakai mpg Mbak. Atau kalau pakai TV yang model terbaru bisa langsung. Kata penjualnya gitu. Tapi karena TV saya bukan yang model sekarang jadi nggak bisa langsung colok ke TV.

      Delete
  4. waah ternyata memang harus teliti banget ya.. saya blm pernah beli film secara online

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Pengalaman memang guru yang killer tapi sayang betulan sama muridnya :-)

      Delete
  5. Ooh... Bisa to mbak.
    Untung bisa ditonton akhirnya

    ReplyDelete
  6. Pernah aku ngalami ketidaktelitian beli di Olshop juga Mbak, tapi beli gamis. Di gambar oke punya, tapi lupa nanyain panjangnya. Waktu sampe, agak kecewa karena ternyata gamisnya di bawah ekspektasi plus kependekan alias cingkrang. Alhasil ga bisa dipake, jadi rezeki ponakan yg masih SD, padahal tubuhku termasuk golongan pendek. Hbs itu mikir panjang kalo mau beli di OL shop

    ReplyDelete
  7. at least nggak rugi-rugi banget karena dapet ilmu teliti sebelum membeli.. format factory ini emang cukup helpful untuk urusan convert-convert.

    ReplyDelete
  8. Lain kali lebih teliti lagi ya, kak :)))

    Bantu share ya, kak: Yang hobi baca buku maupun tidak, boleh minta waktunya sejenak untuk mengisi kuesioner singkat mengenai minat baca di Indonesia. Untuk data pendukung untuk program mengenai minat baca. Mau buku gratis? Ada 3 buku gratis 3 pengisi kuesioner terpilih. berikut link formnya >>> Http://goo.gl/forms/8QdMG7KvZS
    Jawaban kalian sangat berarti. Tolong bantu share lagi ya. =d
    terimakasih :3

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…