Skip to main content

Anak Kecil Itu Mengambil Rapornya Sendiri

Catatan: tulisan ini bukan mengkritisi mereka yang harus berpisah dari keluarga dengan alasan syar'i.

Dia berdiri menunggu di halaman sekolah di bawah pohon trembesi yang gagah. Dia menggeleng saat saya tanya apakah sudah dijemput. Saya terenyuh, sedih dalam hati. Hari ini, gadis kecil itu mengambil rapornya sendiri tanpa ditemani ayah atau ibunya.

Teman-temannya hari ini ada yang dipangku ibunya, ada yang duduk bersebelahan dengan ibunya, ada yang menangis karena terjatuh lalu dihibur ibunya. Hari ini semua anak di sekolahnya mengambil rapor ditemani ibu atau nenek mereka, kecuali dirinya dan seorang temannya. Seorang anak laki-laki yang juga mengambil rapornya sendiri.

Ibu si gadis kecil baru saja meninggalkannya dan ayahnya untuk bekerja di negeri orang. Demi rupiah yang berlebih, ibu si anak laki-laki kecil malah sudah lebih lama lagi berada di negeri tetangga. Saya termangu. Sebesar itukah pengorbanan mereka, anak-anak kecil yang tumbuh tanpa kasih sayang ibu? Ibu mereka menjauhi mereka dengan alasan yang kadang teramat sulit dimengerti.

Uang? Pekerjaan? Status? Kesempatan? Dengan suami di sisi mereka yang masih sanggup menafkahi, bagi saya sungguh tak bisa dilogika apalagi dirasa. Untuk apa? Untuk apa?

Comments

  1. :(
    Ingat dg anak saya bbrp waktu lalu. Dia tiba2 nangis waktu saya tanya, hanya iseng bertanya, apa pendapatnya kalau sy bekerja.
    Saya kasih perumpamaan, kalau sy kerja dia bs beli mainan semaunya, kalau sy di rumah dia harus bersabar jika ingin membeli sesuatu. Dan sy terharu karena dia memilih saya di dekatnya.

    ReplyDelete
  2. Sedih ya kalo liat anak-anak yang terpaksa harus ditinggal orangtuanya merantau demi mencari sesuap nasi. Di kampung saya banyak...orangtua muda yang meninggalkan anak-anaknya dititipkan ke kakek neneknya...

    ReplyDelete
  3. semoga kita bisa menjadi ortu yang bisa berada di dekat si buah hati, ya, menyaksikannya tumbuh. amin

    ReplyDelete
  4. dilema para buruh migran ya mbak... itu para ibu- bapak mrk pada merantau semua..? ditempatku, klo yang sampai ln nggak bnyak...rata2 dipabrik, dan anak kmd menjadi "jatah" para kakek-nenek....

    ReplyDelete
  5. semoga anak-anak itu tumbuh menjadi generasi yang kuat ya Mbak. Walau tidak dipungkiri pasti ada ruang kosong di hati mereka kelak...

    ReplyDelete
  6. Ngga sanggup bayanginnya, Mbak.. :( Pasti sedih rasanya :'

    ReplyDelete
  7. Banyak anak seperti ini di sebagian besar desa di negeri ini. Semoga mereka tumbuh jadi anak yg bermental kuat dan tegar.

    ReplyDelete
  8. Kasian banget, ga ada keluarga lainkah? Om atau tantenya? Klo soal uang memang susah juga, mungkin kalau tidak bapaknya tidak kerja, anak itu ga bisa sekolah. Oya, anak itu kan tinggal sama keluarga dong, apa semuanya sibuk? Btw sy punya murid smk yg dari cerita si anak dia selalu ngambil rapot sendiri sejak sd. Dan itu tidak berlaku di smk kami. Anak itu bahkan diketahui mengidap suatu penyakit be jolan di kepala. Setelah walikelas homevisit bbrp kali barulah anak itu dibw ke rs. Ibunya sibuk kerja pabrik dan bapaknya supir pribadi. Untung masi ada neneknya.

    ReplyDelete
  9. Semoga anak itu tumbuh jadi anak yang sehat, soleh dan pintar. Biasanya mereka akan bermental baja dan teguh hati :')

    ReplyDelete
  10. Saya juga waktu sekolah sering ambil raport sendiri :)
    tapi ga selamanya boleh si, seingat saya pas sudah smp/smu harus sama wali & pernah akhirnya saya minta diambilkan sama bapanya temen hehe

    Walau pengennya kaya anak2 lain tapi karena ibu/bapak saya juga guru yang mana biasanya hari itu juga sibuk membagikan raport ya jadi nerima aja hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.