Skip to main content

Apa Kabar Momongannya?

[Ilustrasi ]
Di tempat belanjaan di pagi hari.
Si A:"Apa kabar momongannya?"
Si B: "Baik. Hari ini momongan saya minta alpukat."

Momongan, artinya yang diasuh. Istilah ini bisa mendadak muncul saat seseorang merawat orang tua yang sudah tak bisa apa-apa lagi. Seperti dalam ilustrasi percakapan tadi.

Selain istilah momongan ada juga istilah 'bayi' dan 'balita'. Sudah barang tentu keduanya merujuk pada objek yang sama: orang yang sudah sepuh dan harus selalu dibantu dalam banyak hal.

Sepintas tak ada yang salah dengan istilah-istilah tadi. Tapiii...kalau ditelisik, ada aroma kurang senang di sana. Bayi, balita, momongan identik dengan 'merepotkan'. Dalam tanda kutip, ya. Mengasuh mereka itu adalah membuat repot. Badan besar tapi perilaku kayak anak kecil. Mandi tak bisa, cebok tak mampu, makan pun harus disuapi deeste deesbe. Uh, merepotkan!

https://ausathmedia.files.wordpress.com/2011/06/ivatan_old_woman.jpg?w=141

Kadang secara tak sadar, pengasuh 'bayi' tadi curhat ke orang lain. Ya manusiawi lah curhat karena lelah mengurus 'momongan' tadi, cuma kadang curhatnya 'keterlaluan'. Pakai tanda kutip lagi, ya. Keterlaluannya itu kadang curhatnya di depan si 'momongan'. 'Momongan' yang tak bisa bicara jelas tapi mungkin masih jelas pendengarannya bisa terluka hatinya.

Andai si 'momongan' bisa, tentu ia tak mau merepotkan siapa pun. Tapi nyatanya ia sedang tidak bisa. Ketentuan Alloh telah berlaku kepadanya bahwa siapa pun yang dipanjangkan umurnya akan kembali seperti anak kecil. Rewel, penuntut, penakut dan lain-lain.

Bayangkanlah kita yang menjadi 'momongan', tak sedihkah hati kita ketika anak atau pasangan kita menyebut diri kita dengan 'momongan'?

Alangkah baiknya jika kita tetap sebut 'momongan' kita dengan panggilan yang biasa kita sematkan kepadanya. Bapakku, Ibuku, Nenekku, Kakekku dan seterusnya. Bukankah menjaga lisan dari perkataan buruk kepada orang tua itu harus? Mengucapkan "Ah!" kepada orang tua yang sudah renta saja dilarang, apalagi memanggil mereka dengan panggilan yang meremehkan.

Tak ada lagi 'momongan', 'bayi', 'balita', 'pasien' atau apapun itu. Setuju?

Comments

  1. Sebenarnya kuncinya ikhlas ya mak...pasti g akan keluar kata2 'merepotkan' itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikhlas itu ilmu yang paling sulit diterapkan ya mak. Untuk kasus ini, ada trik khusus juga, yaitu membatasi bicara berlama-lama dengan orang lain biar nggak ada kesempatan curhat. Hehe...beeraaat...

      Delete
  2. Pas baca ilustrasinya, aq nangkepnya bebi sitter anak Mbak, eh ternyata bukan.

    Di sini juga ada gitu Mbak Diah. Kalo ada ortu sepuh yg udah ga bisa apa2, anak2 yg merawat nyebut beliau sebagai momongan.
    Tulisan ini makjleb banget buat yg suka blg itu hiks (eh saya ga lo yaa hihihi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, nggak tega dengar yang seperti itu. Kesannya meremehkan gitu. Semoga kita bisa menjaga lisan kita ya. Aaamiiin.

      Delete
  3. Oh..tak pikir momongan ki bahasa lain/ istilah lain dari anak mbak.... "Sudah punya momongan mbak"....... Ternyata biasa untuk manula

    ReplyDelete
  4. saya mah berpikirnya momongan itu adalah bayi atau anak kita :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi...momongan dalam tanda kutip mbak.

      Delete
  5. Gak tahu kenapa klo bukan bayi atau anak balita rasanya kok kurang sreg ya dipake kata "momongan"...
    Ga enak aja di hati rasanya.
    Padahal klo memang maksudnya bayi atau balita sebetulnya gak ada konotasi negatif juga ya..tp klo yang dimakusdkan orang sdh sepuh, jadi ga enak ya dengernya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Konotasinya negatif. Sedih dengarnya.

      Delete
  6. iya juga sih ya kalo ada orang yang nyebutin kata momongan kesan nya tuh kaya kurang sopan, mending bilang aja to the point, misalnya mau beli alpuket buat dede, atau buat nenek, buat kaka kan lebih enak dengernya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Kurang sopan. Mending langsung saja ya. Lebih enak didengar.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…