Skip to main content

I Screwed My Head The Wrong Way

Suatu pagi usai mengantar anak ke sekolah saya berjumpa seorang teman. Teman saya itu ibu dari teman anak saya di TK dulu. Sebut saja namanya Mama Aan. Masih mbak-mbak, masih muda dan cantik. Anaknya baru satu, ya temannya anak saya tadi. Ketemu dia, saya membatin, "Kok si Aan blum punya adek, ya? Padahal Mama Aan masih seger, muda dan cantik gitu?"

Ups...astaghfirulloh. Emang apa hubungannya antara seger, muda dan cantik dengan punya anak lagi? Punya anak lagi itu nggak butuh seger, muda dan cantik. Kalau dititipi Alloh ya dititipi aja, gitu. Ah, I screwed my head the wrong way! Cara berpikir saya keliru!

Apa karena seger dan muda itu identik dengan subur? Mungkin juga. Tapi cantik? Cantik sama dengan subur?

Tak jarang saya berpikir dengan cara keliru yang lain. Ketemu tetangga yang suaminya masih seger tapi istrinya sudah kelihatan berumur, mbatin lagi, "Kok bisa ya, suaminya masih kelihatan muda gitu punya istri lebih tua?"

Atau pas menghadiri pernikahan. Pengantinnya kok beginilah, kok begitulah.

Duh, model berpikir apa lagi ini? Nggak ada itu ceritanya pasangan harus mudaan si istri. Bahagia dan sejahtera itu tidak ditentukan oleh itu. Faktor pendukung mungkin iya, tapi bukan penentu.

Memang harus lebih banyak menahan diri dari berprasangka dan banyakin istighfar. Astaghfirulloh, astaghfirulloh.

Comments

  1. haha makin lengkap kalo dikasih fotonya mama aan pajk :D

    ReplyDelete
  2. saya juga pernah dikira lebih tua mba, padahal lebih tua suami 5 bln..beda dikit sih ya..emang kalo perempuan lebih cepat tua katanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Konon begitu Mbak. Ya gimana lagi ibu-ibu memang harus mengikuti perkembangan buah hati ya.

      Delete
  3. muda, cantik dan seger itu belom tentu subur tapi apa salahnya dicoba. eh...

    ReplyDelete
  4. Tapi manusiawi mbak...mbatin2 gitu....ntar nggak seru. Reporter infotaimentnya nggak dapet materi... Bisa jadi bahan diskusi...hi...hi * wis ah, sing comment ra mutu...bubar..bubar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi..ora oleh iklan njuk bubar ya Lis.

      Delete
  5. manusiawi sich , asal membicarakannya jangan dengan orang lain...nanti malah disampaikan yang enggak enggak dech

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Buru-buru dikunci deh biar nggak turun ke lisan.

      Delete
  6. Hihihi, kadang aku juga begitu sih. Tapi langsung cepat-cepat tanya sama diri sendiri, "Apa aku nyaman kalau ada orang yang menerka-nerka soal aku?". Biasanya aku langsung stop dan lupa. Mudah-mudahan sih kita gak sering-sering begitu ya, Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penyakit hati kayaknya ya Mbak. Emang harus bisa ngontrol diri lebih baik lagi. Bahaya kalo keterusan.

      Delete
  7. heehehe.... fenomena yang sering saya temui...
    walaupun belum menikah kadang ngk suka juga kalau ada yang ngomong gitu...
    astagfirullah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi kalo ke acara pernikahan buru-buru ya Mbak. Atau nggak ngumpul-ngumpul. Takut keceplosan atau ikut ngipasin.

      Delete
  8. Nah, itulah mbak kalo di lingkungan kita sini orang yang sering nanya2 gitu sering dianggap (lambe turah) :D tapi itu haknya mereka nanya sih, asalkan lihat sikon ya. Kayak adik ipar saya udah 7 tahun tapi belom ada momongan jadi sensi, kalo ditanya macem2 soal keturunan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi...lambe turah. KO juga kali ya mbak. Kakehan Omong.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…