KEB

KEB

BPN

BPN

About Me

About Me
Diah is here! Mom of three boys.

Blogger Dewasa

Kemarin lalu saya membaca sebuah artikel di blog yang cukup panas topiknya, yaitu tentang pendapat seorang tokoh terkenal di negeri ini yang menuai kontroversi. Pada tulisan itu sang blogger menyetujui pendapat sang tokoh. Tentu sah-sah saja. Blogger itu kan juga warga negara yang dijamin kebebasannya untuk mengeluarkan pendapat.
Yang menarik, sang blogger pada awal tulisannya mempersilakan calon komentator yang kontra dengan pendapatnya (dan pendapat si tokoh) untuk minggir dulu dari forum. Jadi, intinya, si blogger (sedang) tidak ingin mendengar komentar miring yang kadangkala suka bikin panas hati
dan memancing debat kusir serta menuh-menuhin kolom komentar. Menarik, kan?
Menariknya di mana? Pertama, si blogger pintar mencuri perhatian dengan 'mengusir' pembaca yang berpotensi kontra dengannya. Makin sarkastik usiran, makin penasaranlah para pembaca. Iya, nggak? Apalagi pengusiran itu diletakkan di awal tulisan. Kita pun, terlepas dari berada di pihak siapa, jadi bertanya-tanya, mau nulis apa ini orang? Strategi anti-marketing yang jos, saya kira. Yang nggak sepakat minggir dulu! *lah kok jadi latah*

Menarik di bagian keduanya adalah, kok ya ada blogger yang sepertinya percaya diri tapi ternyata tidak. Ketika kita menulis suatu artikel yang potensi pro-kontranya tinggi, pasti kita sudah berhitung berapa ongkos mental yang akan kita keluarkan nantinya. Juga berapa ongkos koneksi internet untuk menjawab komentar-komentar sengak. Tapi itu kan memang sudah resikonya. Jadi janggal rasanya kalau ada blogger yang berani menulis hal kontroversial tapi enggan menerima dampak buruknya. Toh dampak positifnya, yakni traffic yang kemungkinan bakal melambung, berani ditanggungnya?
Intinya saya merasa bahwa blogger semacam itu kurang cukup dewasa. Blogger itu ya seperti orang ngobrol biasa. Hanya tempatnya saja yang di dunia maya. Bayangkan kalau di dunia nyata ada orang seperti ini. Ia akan terkesan arogan. Kalau keterusan, bisa-bisa tak ada lagi orang yang mau ngobrol dengannya. Kalau sudah begitu, rugi sendiri kan, cuap-cuap tapi tak ada yang mau mendengarkan.
Ya, barangkali sang blogger tadi sudah jenuh dengan komentar-komentar sadis yang sering mampir dan mengobrak-abrik forum di blognya. Tapi kalau memang tak siap dengan resikonya ya tulislah hal-hal yang 'biasa' saja. Tak elok rasanya mengusir-usir orang hanya demi kepuasan pribadi.

Related Posts

41 komentar

  1. Siapa tuh? Hahaha..malah kepo

    BalasHapus
  2. Akan lebih bagus menulis ilmu dan pengalaman yang bermanfaat bagi pembacanya.
    Tapi menulis kontroversial juga oke sebenarnya karena bisa menaikkan trafik. Soal pro dan kontra kan biasa, nggak usah ditanggapi dengan emosi.Dia toh bisa membalas komen dengan kalimat:" Saya menghargai pendapat Anda kok."
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Strategi yg jitu pakde. Mempertahankn pendapat juga butuh olah kata yg ciamik ya.

      Hapus
  3. Mungkin dia kurang piknik mbak, hahaaa

    BalasHapus
  4. Link nya mbak...*penasaran. Atau googling...kuncinya apa ya? Ha..ha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, marai penasaran ya? Tenang...kita ga kenal kok sm dia. :-)

      Hapus
  5. Aku gak berani nulis hal2 yg bersifat kontoversi krn takut byk yg tersinggung dan menuai polemik.. dikalangan kita2 kan msh byk yg tak bisa menerima perbedaan pendapat.. Hehe.. Aku nulis sesuatu yg bermanfaat saja yg bisa diambil benang merahnya bagi pembaca..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh energi ekstra mak untuk berpolemik.

      Hapus
  6. Aku juga jadi penasaraaan mb...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rombongan penasaran berikutnya nih. Bukan kita kok mak :-)

      Hapus
  7. Kalau menulis sesuatu yang kontroversial, ya, harus siap dengan segala risikonya.

    BalasHapus
  8. Ibarat mau bertamu ke rumah orang, pas di depan pintu malah diusir :D, ya jadi males mau maen lagi

    BalasHapus
  9. Kalo aku masih cari aman aja nulisnya, belum siap sama kontroversi hati Maaakkk xixixixi

    BalasHapus
  10. Jadi ingat akhir bulan lalu saya menulis dan sekarang teronggok di draft, karna saya rasa isinya akan sangat kontroversial, mungkin tidak di dunia maya tapi di dunia nyata, karena memang kisah nyata saya, saya pilih jadi draft saja, mungkin memang harus jadi rahasia saja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo rahasia yg sudah ditutupi oleh Alloh sebaiknya ga usah saja mak. Atau dialihkan ke bentuk lain. Kl saya kadang saya ubah jadi fiksi hehe

      Hapus
  11. Hiks, saya juga kadang2 gak siap lho Mak. Gak siapnya karena waktu nulis gak kepikir akan berpotensi konflik, pas ada yang menyalak baru deh kaget saya :(

    Tapi sy mencoba menghadapinya. Sudah berani melakukan sesuatu, harus berani menanggung risikonya juga.

    Eh, siapa sih blogger itu? *aih kepo juga*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apapun itu adalah sejarah kita ya mak. Ada yg menyalak berarti ada yg mengingatkn juga.

      Hapus
  12. Aku juga suka mikir dua kali kalau mau nulis yang pro kontra, duh males deh kalau ribut-ribut meski cuma di dunia maya. Kalau baca yang beda pendapat, ya mending diem aja ga usah komen. Apa kalau di FB tuh bisa berisik notifnya/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh yeah kl di facebook mak. Sini yg ga ikut rame aja sanpe pening apalagi yg bersangkutan ya. Etapi bukan berarti ga boleh lho ya, hanya caranya saja yg harus baik. Malu dilihat tetangga kl ramenya ga bermutu.

      Hapus
  13. Setiap orang punya cara masing2 ya mbak. Saya sendiri gak terlalu suka menulis yang kontroversial banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya saya pingin nyoba lho mas. Haha...nggak. Belum cukup ilmu utk berpolemik. Ntar yg ada malah malu-maluin.

      Hapus
  14. saya juga nggak siap mental nulis yang memancing keributan gitu. cari aman aja. Nggak siap mental, apa belum dewasa ya, hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru yg dewasa itu bunda. Bisa mengukur diri sendiri.

      Hapus
  15. meskipun saya nulisnya curhat dan perasaan nggak "pedas" tetap aja pro-kontra, padahal ya biasa aja nulisnya. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya tiap orang punya kadar sensitivitas yg berbeda ya mbak. Bersyukur dong mbak Sari malah jadi pemacu diri.

      Hapus
  16. Saya milih nulis yang ringan-ringan saja, Mak. Sharing pengalaman aja kalau saya.
    Kalau blogger yg spt itu ya kudu siap mental dong ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ringan dan berkesan ya mak. Bisa jadi amal baik yg bermanfaat utk diri sendiri kelak.

      Hapus
  17. Wah, boleh donk bocoran link blognya hehehe.

    Yah mungkin di kehidupan nyata pendapatnya sendiri sudah banyak ditentang makanya dia hanya bisa tuangkan di blog, namun salahnya blognya tidak dibikin privat hehehe. Iya nih, kurang dewasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibikin privat atau kolom komentar ditutup aja ya mak. Jadi adil. Yg pro maupun kontra ga bisa komen.

      Hapus
  18. paling males bgt hrs terlibat war di medsos bgini... kyk org bodoh ribut ga tentu ama org yg ga kliatan ;p.. makanya aku anti nulis postigan yg memang terlalu tinggi resiko pro kontranya... yg netral aja deh..

    org yg mw nulis sesuatu yg kontroversial, tp ga mw dikomen ama org2 yg ga sependapat, ya udh toh, tutup aja kolom komentarnya :D.. aman kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mak. Tutup aja kolom komentarnya. Lebih elegan.

      Hapus
  19. Kadang blogger itu banyak maunya. Kalau nggak ada yg blogwalking ngomel2 galau. Kalau diblogwalkingi tapi nggak suka dg komentarnya jg ngamuk2. Jd maunya apa? Ditulis "nice info gan" aja yg netral hahahaaa. Kalau bloggernya sensi biasanya aku nggak bakalan komen lagi. Kalau butuh info disana ya lihat infonya aja, nggak bolak balik bw apalagi komen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha...iya mak. Serba salah ya. Jadi nice info deh.

      Hapus
  20. Kemungkinannya adalah:
    1. Blogger tersebut menguasai ilmu marketing
    2. Blogger tersebut arogan
    3. Blogger tersebut hanya mau menuliskan pendapat tanpa mau berdebat lebih panjang

    Tapi penasaran nih, bisikin dong blog yg mana? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi begitu. Entah salah satunya entah ketiganya.

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email