Skip to main content

Selapanan Manten

Sama Jawanya, tapi ada bedanya. Ini soal tradisi. Di Madiun sini orang masih banyak yang menjalankan tradisi, baik kelahiran, pernikahan ataupun kematian. Di sini tidak sedikit yang masih melaksanakan kegiatan pasca mantu. Wah, apalagi nih? Jujur saya baru tahu ada yang seperti ini: selapanan manten.
Bentuk acaranya apa? Yang saya alami di sini adalah bagi-bagi berkat.

Bulan Januari lalu tetangga yang satu blok dengan saya mantu. Selepas itu si empunya hajat mengirim berkat berisi nasi dan lauk-pauknya. Kaget juga saya waktu tetangga saya itu bilang berkat itu untuk syukuran selapanan.
Saya kira selapanan kehamilan, eh ternyata selapanan manten. Pas saya tanya kenapa, beliau menjawab,"Nggih kedahe ngaten." Seharusnya begitu. O, o, baru tahu saya. Setahu saya sih setelah usai pesta pernikahan cuma ada acara pembubaran panitia doang. Pengalaman pribadi.
Nah, kemarin tetangga saya yang barusan mantu pada awal Mei lalu juga mengirim berkat untuk selapanan manten. Kali ini saya sudah ngeh. Sambil senyum-senyum *siapa yang nggak, coba?* saya mengucap syukur dan terima kasih, lalu (nah, ini yang penting) menanyakan kabar si temanten baru.
"Tinggal di mana sekarang?"
Untung saya nggak tanya, "Sudah punya calon momongan belum?"
Ih, pertanyaannya sensitif. Kalau dapat momentum seperti ini sila menanyakan hal-hal yang lebih bermanfaat, ya.
Oya, dari tadi bicara selapanan. Apa sih itu? Selapanan berasal dari kata selapan yang berarti satu lapan. Bukan 18 lho, ya. Lapan dalam budaya Jawa adalah satuan waktu yang berjumlah 35 hari. Kalender Jawa mengenal 5 hari saja, yakni: Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi. Sedangkan kalender masehi mengenal adanya 7 hari: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu.
Udah tahu, Kakak!
Nah, satu lapan ini didapat dari bertemunya hari kalender Jawa dengan hari kalender masehi yang sama. Ketemunya itu tiap 35 hari sekali.
Jadi, misal seseorang menikah pas hari Minggu Wage, maka selapannya adalah Minggu Wage berikutnya. Sedangkan Minggu Wage berikutnya lagi namanya rong lapan, berikutnya lagi telung lapan dan seterusnya.

Buka kalender dulu
Yak. Sudah cukup pelajarannya, ya. Nah, sekarang, siapa yang pernah diselapanin manten? Atau nyelapanin? Atau menerima berkat selapanan manten? Atau ada tradisi lain usai pesta pernikahan? Bagi ceritanya, dong!

Comments

  1. dibugis gak ada tradisi bgtu mak, selesai acara meritnya selesai pulalah segala upacara adat. salam kenal yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesta nikah jadi puncak dan penutup acara ya mak. Salam kenal kembali.

      Delete
  2. Dan lema selapan sudah masuk di kamus bahasa Indonesia dengan arti 'tiga puluh lima hari'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya to mas? Ketahuan saya ngfak pernah buka KBBI. Makasih infonya mas. Dengan masuk KBBI bisa jadi nanti ada anak bernama selapan ya. Hehe

      Delete
  3. Aku aku..aku dulu ngalamin yg namanya selapanan manten...
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bisa diceritain mak Inda? Ada acara atau juga cuma bagi-bagi berkat?

      Delete
  4. Di sini walo masih masuk Jawa tapi ga ada tradisi selapanan manten, mba. Kalo untung hitungan tanggalnya masih dipake untuk acara2 tradisi yang lain. Beda daerah beda tradisi ya, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jawa memang penggunaan hari pasaran terus dilestarikan ya. Pengajian pun pake pasaran ya.

      Delete
  5. Iya, di Madiun tradisi Jawanya masih diikuti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengaruh taatnya masih terasa kuat mak. Malah lebih terasa di sini daripada di Jogja.

      Delete
  6. Selapanan bayi klo aku ngertinya mb.... Biasanya klo ibunya msh telaten, tiap 35 hari sekali, berdasarkan hari kelahiran si anak....ibunya mbuatin nasi gudangan (urap), trus dibagi ke tetangga kanan-kiri mb....he2, tp aku tergolong ibu ndak telaten....jadi tradisi itu ya lewattt...pernah njalani, tp jarang :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya itu. Kalo di sini ada tradisi telon-telon dan piton-piton bayi. Kalo di Jogja masih dengar mitoni kehamilan ya, ini mitoni bayi. Acaranya ya bagi berkat.

      Delete
  7. tradisi jawa memang banyak banget ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sini memang masih erat sih mak. Sunda juga kaya akan tradisi kan? Saya pernah ikut pesta nikah adik saya yang dapat orang Sunda, banyak juga acara adatnya. :-)

      Delete
  8. Kalo di tempatku bukan selapanan mbak tapi sepasaran...
    kalo selapanan biasanya sih buat bayi , ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, berarti ada juga sepasaran manten gitu ya mak? Kayak apa itu ceritanya?

      Delete
  9. kayaknya di sumatra gak ada tradisi kayak gini mbak, aku baru tahu kalau ada tradisi ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Sumatera beda lagi pasti ya mak tradisi nikahnya.

      Delete
  10. Di Kendari gak aga yang kayak gitu, paling sampai di pembubaran panitia aja..heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..sama dengan saya dong mak. Ya lain ladang lain belalang ya mak.

      Delete
  11. Di Ponorogo jg gt Mak Diah. Ada selapanan manten, bagi2 berkat. Bahkan ada juga yg pake kunjung besan segala. Jadi besan dr pihak laki-laki berkunjung ke pihak perempuan. Acaranya sih sederhana, silaturahmi dalam rangka selapanan itu tadi, sambil makan2 hihihi. Ya hikmah yg bs diambil spya kedua besan jd lebih akrab kali ya dan silaturahminya selalu terjaga hingga nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada juga ya mak. Dulu saya ga pake. Mungkin karena udah nyebrang ya, lagipula mertua sudah ga ada semua.

      Delete
  12. Kalau di Bandung sepertinya ga ada acara beginian, palingan yang umum itu siraman sam pengajian doang :D

    ReplyDelete
  13. banyak ya tradisi yang kita miliki...dan semuanya memperkaya budaya. Asyik dong dapet berkat lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah mak. Yang paling hepi itu anak-anak hehe

      Delete
  14. Terimakasih atas sharing ilmu dan pengetahuannya. semoga selalu menjadi manfaat bagi semuanya. salam sukses selalu. Amin

    http://karanganbungapapanblog.wordpress.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.