Skip to main content

Kuah Bakso Seharga Lima Ribu

Bakso, jajanan kesukaan anak-anak saya. Bisa jadi hiburan di kala susah makan dan malas masak ;-) . Bakso di Madiun sini harganya beragam, mulai dari lima ribu sampai sepuluh ribu per mangkok. Tentu itu harga di warung bakso pinggir jalan lho ya, bukan di tengah jalan, eh, di restoran maksudnya.
Akhir pekan kemarin (30/5), saya ngajak anak-anak mbakso murah meriah di warung di kecamatan sebelah. Harganya per mangkok lima ribu saja. Ada tiga pilihan: bakso kecil,
granat atau urat. Saya pilih yang kecil saja dengan alasan sederhana: isinya banyak. Kalau bakso granat kan cuma satu, sedangkan bakso urat pasti tak sebanyak bakso kecil. Yang penting kan anak hepi lihat glundungan bakso yang berlimpah :-D . Lagipula dengan harga segitu saya nggak yakin baksonya bakal kenyal dengan daging.
Berhubung jajannya sore dan suami saya tidak ikut karena masih kerja, saya pesan untuk suami saya satu bungkus bakso yang dipisah kuahnya. Biar nanti kalau mau dimakan nggak mbedhedheg alias bikin eneg.
Selesai makan, kami pulang dengan oleh-oleh sebungkus bakso. Lumayan untuk hiburan sepulang kerja, kan? Malamnya pas suami pulang, saya siap memanaskan baksonya. Kuahnya. Lho, kok ... kuah doang? Di mana bakso dan mie-nya? Haduuuh ... kayaknya si mbak penjual lupa memasukkan bungkusan yang berisi bakso dan mie. :-|

Ya sudahlah. Mau gimana lagi? Salah saya juga sih nggak langsung ngecek saat menerima bungkusan pesanan itu di warung. Untung suami saya nggak marah, malah ngajak keluar beli mie ayam. Ya, gitu deh. Lain kali, lain kali, cek dulu, cek dulu.
Iya, baik.

Comments

  1. hehehe...pelajaran yang berharga ya mbak...harus teliti...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Sebetulnya sederhana tapi unsur kejutannya jadi hilang.

      Delete
  2. yaaa... kasian pak misua dapet kuahnya aja... nggak pa pa lah ya, ngangetin badan :) kalau perlu sambil diceritain mbak, gimana rasa baksonya jadi sambil nyeruput kuah, kebayang rasa baksonya :D Btw saya juga keturunan madiun lho mbak... kalau mudik biasanya ngebakso di semeru atau di simo. Duh... jadi pengen pecel #Eh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha... Akhirnya ngemie kok mbak.
      Oh, ada darah madiun ya mbak. Wah saya malah belum tau semeru n simo. Di kota ya mbak? Saya di kabupaten.

      Delete
  3. wah suaminya baik ya, udah capek, nggak ada makanan, masih mau beli lagi hehehee... Kok harga baksonya murah ya, disini minimal 10rb :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...kebetulan kl makan suami di kantor mbak. Kadang malam pun di kantor.
      Iya itu bakso memang segitu tapi ya jangan berharap bakso full daging. Kl yang mau daging betulan ya 10 ribuan mbak.

      Delete
  4. Widiw... masak mie instan pake kuah bakso aja.. ada juga tuh mie yg rasa bakso..hehe
    Kadang gitu juga penjualnya, suka lupa..murah lho baksonya..pengen juga, tapi lengkap gak kuah aja..xiixix :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya mbak. Ga kepikir begitu malah. Haha...
      Husnuzhon aja penjualnya lupa.

      Delete
  5. Ooo..begitu....besok balik lagi ke warungnya mb....trus bilang, mau ngambil bakso yng kmrn ketinggal....He...he. Di sini ada mb yang 5rb an....bakso model surungan gtu mb...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha...gitu ya lis. Boleh juga dicoba.

      Delete
  6. 5 ribu? murah bener ya mbak.. eh tapi kalau cuman kuahnya doang jadi nggak murah lagi sih.. hehe.. artinya malam itu bakso bukan rejeki suami artinya ya, mbak. rejekinya makan mie ayam. memang yang namanya rejeki itu nggak bisa tertolak dan nggak bisa dihalangi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak. Murah meriah memang, tapi ya ga bisa terlalu berharap dapat banyak daging.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.