Skip to main content

Kisah Lansia (Bagian 3)

Setelah kurang lebih sebelas hari di Jogja menemani Bapak, saya dan anak-anak kembali ke Madiun.
Baca juga: Kisah Lansia (Bagian 1)
Dan Bagian 2-nya.
Sesampainya di Madiun, teman-teman bertanya tentang kabar bapak.
"Sakit apa, to?"
Ya, itu sulit dijawab karena bapak bukannya sakit tapi sudah sepuh. Itu saja. Gejala parkinson ada, menurut seorang dokter syaraf, tapi selama di Jogja saya tidak melihat tanda-tanda itu di diri Bapak. Wallohu a'lam kalau memang ada dan saya yang tak bisa melihat gejalanya.

Bapak itu mengalami bengkak di kakinya, jadi harus rutin minum obat dan vitamin B. Kalau kaki bapak dipencet terjadi lekukan yang tidak segera kembali. Jadi ingat pelajaran tanda beri-beri di SD, ya?
Keluhan bapak yang lain adalah kesulitan membaca sebab fokus mata kanan dan kiri tidak lagi sama. Kadang saat ngobrol pun kontak mata dengan bapak agak terganggu.
Akibat masalah dengan mata itu bapak jadi jarang baca Quran. Sesekali baca tapi sebentar saja sudah berhenti karena lelah. Nah, peringatan juga bagi yang masih awas matanya agar berusaha menghafal Al-Qur'an. Buat jaga-jaga kalau-kalau nanti mata kita bermasalah. Semoga nggak, ya.
Bapak memang jadi lebih sering di kamar saja. Keluar kamar cuma untuk urusan penting seperti wudhu, mandi, buang air, makan. Kadang juga baca koran.
Sebetulnya kalau untuk diajak bicara bapak itu masih bisa karena pendengaran dan daya pikirnya masih bagus. Cuma, bapak juga mulai kesulitan berbicara. Suaranya gemetar, lirih dan sering kurang jelas artikulasinya. Suara gemetar itu sendiri sebetulnya sudah dialami bapak beberapa tahun sebelum jadi sulit bergerak. Dulu, bapak sempat diberi jatah jadi khotib atau imam di masjid setempat kalau Ramadhan tiba, bergiliran dengan bapak-bapak yang lain. Biasanya dua kali tarawih dan dua kali subuh. Nah, ketika suara bapak mulai gemetar, bapak lalu menolak tiap ditawari jadi imam, apalagi khotib. Kan imam sholat itu harus yang lebih unggul dari jamaahnya.
Sebagai anak yang jauh dari orang tua, bisanya ya cuma mendoakan. Semoga bapak tetap sehat dan sabar, serta jika nanti dipanggil Alloh dalam keadaan khusnul khotimah. Aaamiiin.

Comments

  1. Klo nonton berita tv masih seneng kan mb? Mksdnya biar ga bosen aja... Tp bpknya mb di hobi baca kok ya....dulu pernah kerumah...liat beliau lg baca buku tebelll bgt....

    ReplyDelete
    Replies
    1. TV sudah ga menarik lagi buat bapak sih lis. Tambahan lagi yang suka nonton tv sekarang anak remaja, jadi nontonnya ya yang digemarinya. Bukan berita, gitu.

      Delete
    2. Sebelumnya kita kita turut mengucapkan semoga bapaknya si mbak cepat sembuh dan diberikan kesehatan..
      amin...!!

      Delete
  2. semoga bapak ttp sehat. sabtu minggu kemarin jg abis silaturahim ke rumah orangtua. liat keadaan mereka makin disadarkan usia terus bertambah dan hanya bisa mendoakan mereka dari jau, gimana lagi sekarang saya tinggal beda kota sama orangtua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin. Ortu jauh ya mbak? Jadi menyesal kenapa bakti kita kurang ya mbak. Apalagi saya. Ah...

      Delete
  3. Yang sabar ya mak, semua ada masanya. Sekarang masa kita merawat orangtua. Saya juga jauh dr ortu, semoga kita bisa datang secepat kilat manakala dibutuhkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak. Semoga kita bisa jadi anak yang berbakti. Aaamiiin.

      Delete
  4. waktu memang melayu ya mbak, meski terkadang segar kembali. yang penting sabar menghadapinya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali. Tiba-tiba sudah banyak perubahan.

      Delete
  5. Duh, aku tau banget ini gimana rasanya jauh dr ortu yg udh sepuh. Semoga sabar ya dikau dan bapak juga, aku ikut meng aamiin kan doamu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak Nurul juga jauh ya? Aaamiiin. Makasih mak.

      Delete
  6. aamiin..

    makasih atas pengingatnya, mbak diah. jadi ingat hafalan quran yg udah lama nggak pindah-pindah dari juz amma.. :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mak. Mumpung ramadan dah dkat, kita ada kesempatan untuk nyuntik semangat hafalan.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…