Skip to main content

Trik Menjauh Dari Gadget

Gadget, kini hampir semua orang muda punya. Dari yang minimalis sampai yang canggih, dari yang berguna sampai yang cuma untuk gaya-gayaan, dari yang produk baru hingga produk ternama, hampir semua orang dalam rentang usia produktif memilikinya. Usia produktif? Hasil survey dari mana nih? Saya pribadi tidak meneliti secara rinci, hanya saja dengan menengok di sekeliling, bukan cuma satu-dua orang muda yang khusyuk dengan gadgetnya, termasuk orang ini *tunjuk diri sendiri*

'Penyakit' Akibat Gadget

Punya gadget tapi membelenggu? Aduh, itu saya. Pernah merasakannya sendiri deh. Cuma punya satu smartphone saja jadi tak produktif dan kurang humanis. Bayangkan saja, saya ini IRT, punya dua anak usia hampir 5 dan hampir 6 tahun. Jelas dong kerjaan banyak. Nah kalau ketemu gadget, biasanya saya mencari excuse untuk menikmati me time.
"Bentar ya, Nak, Ibu masih baca nih."
"Sebentaaar aja, ya, Ibu ngetik dulu. Pentingngng."
Padahal cuma baca status teman dan ngomentarin. Sepenting apa, coba?

Lama-lama saya merasa kalau begini ini nggak bener. Anak terlantar karena ditinggal chatting, pekerjaan di rumah terbengkalai gara-gara facebookan, jalan-jalan sama keluarga jadi nggak nyaman gara-gara sedikit-sedikit ambil gambar untuk diunggah.

Gambar dari http://lifehacker.com/5898612/how-can-i-stop-using-my-phone-all-the-time-and-actually-connect-with-people-in-the-real-world

Akhirnya, setahun belakangan ini saya memutuskan untuk lebih menjauh dari gadget. Caranya?

Satu: Hapus Messenger
Duhai...tanpa WA (messenger saya waktu itu), dunia hampa. But, a promise is a promise. Hapus dan tidak cari penggantinya. Sip! Aman! Tak ada lagi pesan-pesan yang berseliweran 24 jam. Tangan tidak sedikit-sedikit pegang gadget.

Kedua: Pegang Gadget Di Saat-saat Tertentu
Di rumah ada gawangan pintu (ventilasi di atas daun pintu) yang bisa saya manfaatkan untuk naruh smartphone. Jauh dari jangkauan, jadi cukup membantu untuk mengurangi kegatelan tangan mencari-carinya. Kalau pekerjaan sudah lumayan beres, anak sudah beres, baru deh saya intip si gadget. Itu pun paling juga cuma nengok grup di facebook, cek email, tulis draft kalau lagi ada ide. Sudah. Untuk urusan browsing yang lebih mendalam lagi saya lakukan di malam hari setelah anak-anak tidur.

Ketiga: Hapus Aplikasi Yang Melenakan
Di ponsel saya sekarang cuma ada aplikasi untuk ngeblog, browser dan aplikasi pengunduh video saja. Yang lain sudah disingkirkan. Pokoknya minimalis.

Itulah langkah-langkah saya untuk menjauh dari gadget demi kelancaran dan stabilitas urusan di rumah. Ada yang punya pengalaman serupa dengan saya? Bagi ceritanya, yuk!

Comments

  1. Iya..gadget kdng mbuat pekerjaan dmh agak terbengkelai....klo gak gitu, mata ngantuk krn keasikan browsing. Kadang klo udah gitu #beraniLebih ; Lebih enak tidur.... He..he

    ReplyDelete
  2. saya udah hapus twitter..FB ada rencana pengen dihapus..soalnya berat juga di HP. WA and BB masih perlu karena ada grup ortu sekolah :) perlu diet gadget saya juga nih mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asal ga kecanduan aja mak. Sebetulnya untuk bermessenger pun harus ada etikanya ya.

      Delete
  3. wah memang gadget hp dan netbook bikin telena
    eaaa
    sukses ya mba buat lombanya
    @guru5seni8
    http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tinggal kitanya aja sih mbak. Kalo bisa ngendalikan diri ya bagus.

      Delete
  4. Bener bgt mak, gadget emang bikin semuanya terbengkalai kalau kita sendiri tidak berani melawan nafsu sdr untuk mendewakan gadget. Sebaiknya yang wajar2 saja memperlakukan gadget, sukses bwt lombanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita yang pegang gadget atau gadget yang pegang kita ya mak.

      Delete
  5. pake hape jadul yang cuma bisa sms atau telpon, sedikitnya itu bisa meminimalisir :D jadi gak tiap waktu onlinenya,, nah kalau netbuk masih susah buat #beranilebih jauh nya :( padahal kepala suka pusing kalau kelamaan ngenet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah hp jadul malah lebih bagus ya mbak. Hmm...kadang kita ini kalo belum kena batunya nggak berhenti.

      Delete
  6. Harus berani lebih dalam melepas ketergantungan ya Mbak.
    Saya sepertinya sulit. Utk saat ini membutuhkan messengernya.
    Febriyanlukito.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar lebih produktif dan bertanggung jawab aja sih mas.

      Delete
  7. sama nih aku juga blm bisa jauh dari gadget, tapi udah gak sesering dl
    baru bisa pegang gadget kalo semua urusan rumah udah selesai ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi punya bayi ya mbak. Dijamin sukses puasa gadgetnya.

      Delete
  8. Terimakasih mak damarojat, ilmunya bermanfaat

    ReplyDelete
  9. Aku dulu gadget freak, terus mulai bisa lepas dari gadget setelah patah hati, sampe sekarang jadi gak dikuasain lagi sama gadget :D

    Salam,
    Senya

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.