Skip to main content

Oleh-oleh Dari Papua

Bicara tentang oleh-oleh lagi, nih! Jalan-jalan kurang lengkap rasanya kalau tak cari oleh-oleh. Oleh-oleh selain untuk orang lain, bisa juga dinikmati sendiri :-D iya apa iya? Masak iya beliin orang lain tapi kita nggak kecipratan. Hehe...

Kalau sekarang sih mudah ya cari oleh-oleh, tinggal mampir ke pusat oleh-oleh lalu cari yang diinginkan.

Oleh-oleh pun beragam, tak melulu identik dengan makanan, bisa berupa cindera mata khas suatu daerah. Kalau saya sih senang saja dioleh-olehi makanan atau cindera mata. Pokoknya kalau rasa mbayar (nggak usah bayar) itu asyik.

Oleh-oleh ada juga yang datang bersama si pemberi, ada juga yang diantar pak pos. Seperti pengalaman saya kali ini dapat oleh-oleh dari Papua. Wow...

Ceritanya sudah lamaaa sekali, tapi nggak apa ya diceritakan lagi. Kembali ke tahun 1990-an. Seorang teman bapak saya yang bertugas di tanah Papua mengirimkan sekardus oleh-oleh yang luar biasa: tuna kalengan!

Wizzzz...subhanalloh deh... Dapat kiriman itu senang sekali. Isinya kalau tidak keliru sekitar 20 kaleng. Tahu kan rasanya tuna kalengan itu? Super duper lezzzat!

Tuna itu ikan yang banyak beredar di lautan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang berarti Indonesia kecipratan juga. Ada Tuna Sirip Biru (Bluefin), Tuna Sirip Kuning (Yellowfin), Tuna Mata Besar dan Cakalang. Tuna-tuna ini termasuk besar ukurannya. Wilayah tangkapan tuna di Indonesia ada di sepanjang Selatan Pulau Jawa terus ke Timur hingga ke perairan Bali, Laut Flores hingga Laut Banda, Selat Makassar, perairan Wakatobi, perairan Papua. Kebanyakan di wilayah Indonesia Timur dijumpai Tuna Sirip Kuning dan Cakalang. *mendadak lapar*

Tuna Sirip Biru harganya mahal, bisa mencapai 1 Milyar! Nggak percaya? Boleh lihat di sini.

Bobotnya bisa mencapai 100 kg! Gambar dari http://m.detik.com/finance/read/2014/04/10/123336/2551083/1036/

Itu tuna dari negara kita, lho. Kebayang kan sebetulnya sekaya apa Indonesia ini?

Sayangnya meski kita ini menghasilkan 11% tuna di dunia internasional, sebagian besar tuna (70%-nya) masih diekspor. Orang kita kurang suka tuna kecuali tuna kalengan. Memang enak kok ya tuna kalengan, tapi saya yang segar juga suka. Bahkan cakalang yang kata orang tak seenak tuna lain, saya tetep aja suka. :-)

Kembali ke oleh-oleh tadi, ya. Saking senangnya dikasih oleh-oleh dari Papua, pagi-siang-malam makannya tuna. Alhamdulillah nggak bosan dan nggak alergi. Saya ingat betul, waktu itu saya masih SMP. Tiap pulang sekolah ambil pembuka kaleng. Kayaknya waktu itu ibu saya sampai tidak belanja berhari-hari, deh.

Duh, senang kalau ingat itu. Oleh-oleh yang saaangat berkesan. Enak, bergizi, mudah disajikan. Mmm... Rasanya pingin dikirimi itu lagi, hehehe...

Nah, kalau teman-teman, oleh-oleh apa yang paling berkesan? Bagi ceritanya, yuk!

Comments

  1. Wa... Giveaway...
    Pengen nyobain tunanya mbak. Pastilah lezat bingitz krn setelah bertahun ingat rasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lezat pol mbak. Sampe ga dibumbui lagi, cuma dipanasin thok.

      Delete
  2. tunaaa.. wah enyak nih, sehat lagi..

    ReplyDelete
  3. mauuu tunanya hehehe...belum pernah makan ikan tuna

    ReplyDelete
  4. waahhh, keliatannya enak banget mba tunanya >,<

    ReplyDelete
  5. saya kalau makan tuna suka agak gatel di tenggorokan knp ya mba? kalau dibikin nugget juga sama, suka ada rasa gatelnya di tenggorokan. apa itu namanya alergi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooh iya mbak. Barangkali memang alergi.

      Delete
  6. Ngomongin papua, jadi ingat tanah kelahiran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya, mas? Senang ya bisa punya banyak kenangan di sana.

      Delete
  7. Aku suka olahan tuna diapain ajaaaa...tapi belon nyoba yg jenis ini kayaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di kota besar barangkali ada mak yang jual.

      Delete
  8. Aku kurang suka ikan laut Mak Diah. Padahal nutrisinya lebih banyak ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ga apa mak. Yang penting asupan gizinya cukup dan seimbang. Makanan laut ada juga yang kurang baik karena sudah tercemar lautnya.

      Delete
  9. Apa ini sama dengan ikan kaleng yang dijual di toko-toko itu mb? Sardines dan teman-temannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kira-kira kayak sarden gitu cuma tidak pakai saos tomat. Rasanya gurih gitu trus potongannya besar.

      Delete
  10. Saya jadi ingat dulu kecil pernah dikasih ransum kalengan oleh oom yang tentara. Ada yang daging, ada juga yang ikan. Seingat saya rasanya enak bisa langsung dimakan. hehehe..

    Itu olahan tunanya seperti apa mak? Apa mirip seperti sarden gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha yang ngirimi dulu itu juga tentara. AURI. Jangan-jangan Omnya mbak. Hehe...

      Delete
  11. Aku makan tuna kalo ke rumah mertua tok, di rumah tahu tempe hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mertuanya tinggal dekat laut, mbak? Enak dong ya. Jadi kalo pingin tuna ke rumah mertua aja. Hehe...

      Delete
  12. Tunanya gede bgd y mak..kayak tuna2 di alaska, sering nonton di ngc

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Tapi tuna alaska (pacific bluefin) lebih gede lagi dari sepupunya si southern bluefin yang hidup di perairan kita. Weh...ada yang lebih gede...subhanalloh.

      Delete
  13. Kayak sarden itu ya mbak? *ngiler bayanginnya :D

    Makasih sudah ikutan #BirthdayGIVEAWAY Fenny mbak, tercatat ya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.