Skip to main content

Belajar Menulis Review, Kenapa Tidak?

"Blogging with heart and money will follow." Demikian pesan seorang blogger senior, Mak Indah Juli dalam sebuah acara arisan ilmu blogger yang saya baca dari blog seorang sahabat. Serius? Blogging bisa menghasilkan uang? He eh *manggut-manggut*
Dari blog uang bisa didapat. Salah satu caranya dengan menerima job review. Apa itu job review? Sejauh yang saya tahu, job review adalah
pekerjaan menulis tentang suatu produk atau layanan dengan imbalan tertentu untuk ditayangkan di blog penulis review. Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi pihak penulis review, dalam hal ini blogger, agar tulisannya disetujui oleh si pemberi pekerjaan. Ada yang mengharuskan jumlah kata tertentu, jumlah link ke luar, share ke medsos dan sebagainya. Di lain pihak, sang blogger juga berhak mengajukan syarat kepada pihak pemberi pekerjaan, seperti jumlah maksimal proof read dan tentu saja jumlah imbalannya.
Saya sendiri belum pernah menerima job review. Ingin, sih. Ya, blogger mana yang tak tertarik dapat uang dari blognya? Lumayan untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga, kan? Dan kalau blog kita sudah ditawari untuk mereview sesuatu, itu artinya pertanda baik bahwa blog kita bernilai. Waw... *cring-cring*
Selama belum ada yang nawarin, tak ada salahnya belajar membuat review. Caranya? Pertama, baca-baca dari blog yang sering dapat pekerjaan ini. Banyak kok blog yang langganan mereview. Mulai dari kosmetik, asuransi, perlengkapan rumah, gadget, sampai travel. Intinya: baca, baca dan baca. Cari dan curi ilmunya. Dari teknik penulisannya kita bisa belajar mengiklankan sesuatu tanpa terlihat. Halus, gitu. Bisa juga kita belajar cara menampilkan gambar pendukung yang baik dan menarik.
Kedua, menulis review tanpa diminta. Weh, enak di dia nggak enak di kita, dong. Ya nggak apa-apa, kan namanya juga belajar. Tulis, beri foto, kalau perlu link hidup ke situs yang kita review, lalu publish. Sesudah itu kita sebar di medsos sambil kita colek si pemilik produk atau layanan itu. Tujuannya, jelas biar ada perhatian. Siapa tahu nanti kita dicolek oleh mereka dan dikasih job beneran. Kalaupun tidak sejauh itu, paling tidak kita menunjukkan kalau kita berminat dan mampu bikin review.
Saya pernah menulis review gratisan begini, lalu saya tweet-kan ke mereka.


Inilah tweet-tweet nekat itu.
Ada yang cuek, ada juga yang memfavoritkan tweet saya itu. Yey!
Sebagai blogger yang memang berniat bisa membuka keran rezeki dari kegiatan ngeblog, tak ada salahnya mencoba. Menjemput rezeki bukan pekerjaan hina, asal tidak menjual diri dan tidak melanggar aturan. Jadi, belajar menulis review, kenapa tidak?

"Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog "Blogger dan Job Review" oleh Petrus Andre yang didukung oleh Ajen Angelina dan Elisa Fariesta."

Comments

  1. betul mak, saya pernah baca juga bahwa sebagai blogger kita juga harus caper :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waa, baru tau saya kalo blogger harus caper juga xixixi! Makasih infonya Mak Santi.

      Good luck jg buat lombanya ya Mak Diah ^_^

      Delete
    2. Mak Santi:makasih sudah mengingatkan. Paa nulis mau nulis kata 'caper' tapi nggak nemu-nemu. Hihi...

      Mak Vhoy: iya mak. Yuk kita caper, hehehe

      Delete
  2. Makasih infonya....sukses untuk lombanya yaa.....

    ReplyDelete
  3. saya kalo suka produknya juga kadang bikin review tanpa diminta mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seringkali begitu ya, Mak. Sekalian update blog ya.

      Delete
  4. Dari kitanya sendiri juga perlu aktif colek mereka ya mbak biar dicolek balik hehehhe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Colek-colek yang bermanfaat ya, Mak.

      Delete
  5. Aku juga sering review tanpa diminta, seperti review kuliner ato hotel klo pas liburan :)

    ReplyDelete
  6. Beberapa hal yang menjadi ukuran blog dilirik oleh pemilik produk adalah trafik blog, dan kualitas konten. Oleh karena itu sangat disarankan kepada blogger agar menulis konten yang bagus dan menarik.
    Latihan menulis apa saja tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan ketrampilan menulis.
    Terima kasih tipsnya
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Pakde. Sedang berusaha rutin update dan mengembangkan isi nih. Supaya trafik naik dengan sendirinya dan alami. Makasih atas dorongannya, Pakde.

      Delete
  7. Uuuuh, asiiik niiih, tentang job reviewww... :))
    Aku baru beberapa kali sih, dapet job review.
    Kebanyakan ya idem ama Mak Diah, sedekah review gretong hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak Nurul mah udah advanced... Hihihi..iya mak, yang gretongan lumayan juga kok, buat update blog, gitchu...

      Delete
  8. aku suka mereview tempat makan dan hotel, kalau produk jarang siih...hehe...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…